Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Mengungkit kata cerai.


__ADS_3

"Kak Dila kenapa Ma?" tanya Fabian saat masuk ke kamar Dila.


Sejak tadi, Fabian masih menatap kakaknya lekat.


"Kakak kamu, pingsan waktu di makam Ridho," jawab Bu Reva yang sejak tadi, masih memijat-mijat kaki Dila.


Sudah hampir dua jam Dila pingsan. Dan Bu Reva masih sangat mengkhawatirkan kondisi Dila.


"Kok dia bisa sampai ke makam suaminya?" Fabian melangkah dan duduk di sisi ibunya. Tepatnya, di sisi ranjang kakaknya.


"Tadi pagi, Dila izin sama Mama untuk pergi ke rumah mertuanya," jelas Bu Reva.


"Terus Mama izinin?" tanya Fabian.


Bu Reva mengangguk. "Iya. Mama fikir, Dila itu udah membaik. Dan Mama juga nggak nyangka akan jadi seperti ini. Mama fikir, Dila itu pergi ke rumah mertuanya. Nggak tahunya, Dila malah ngikutin mertuanya sampai ke makam."


Fabian hanya manggut-manggut.


"Oh. Gitu? Lagian, kenapa Mama izinin Kak Dila pergi sih. Sendirian lagi. Kenapa nggak Mama antar aja kak Dila, atau di antar Pak Herman."


"Dila nggak mau. Dia maunya naik taksi."


"Terus Papa ngizinin juga?"


"Papa juga lagi ke luar Bi tadi pagi. Dila cuma izin sama Mama."


"Aduh, Mama gimana sih. Kenapa nggak telpon Abi aja sih. Abi kan bisa pulang Ma, untuk ngantar Kak Dila."


"Lagian kamu Bi. Pagi-pagi banget udah ngilang gitu aja. Dari mana sih?" tanya Bu Reva menatap Fabian lekat.


"Aku dari bengkel Ma, ngambil mobil. Kemarin mobil aku mogok. Dan aku tinggal di bengkel. Dan baru aku ambil sekarang."


"Bi. Pak Rudi dan Bu Ani masih di depan nggak? atau mereka sudah pulang?"


"Di depan udah nggak ada orang Ma. Paling juga Syanum, yang nggak jelas lagi ngapain."


"Ya udah Bi. Kalau kamu mau istirahat, Istirahat aja. Biar Mama yang akan jagain Dila di sini."


"Iya Ma. Aku juga lagi capek banget. Gara-gara kemarin ban mobil aku kempes dan mogok di tengah jalan."


Setelah melihat kondisi kakaknya, Fabian kemudian melangkah ke luar dari kamar kakaknya.

__ADS_1


Setelah Fabian pergi, tiba-tiba saja Dila mengerjapkan matanya. Dila langsung menatap Mamanya tajam. Tiba-tiba saja dia menangis.


"Hiks...hiks...hiks. Kenapa Mama merahasiakan kematian Mas Ridho Ma dari aku? kenapa Mama nggak kasih tahu kalau Mas Ridho itu sudah meninggal. Kenapa Mama harus bohongin aku Ma?" ucap Dila sembari terisak.


Bu Reva meraih tangan Dila.


"Maafkan Mama. Mama nggak sanggup cerita sama kamu tentang yang sebenarnya soal kematian Ridho. Mama nggak tega Dil melihat kamu sedih dan menangis. Mama terpaksa bohong sama kamu, karena untuk kesehatan kamu juga."


"Tapi, seharusnya Mama dan Papa bilang sama aku. Agar aku nggak nunggu-nunggu Mas Ridho pulang."


"Maafkan Mama ya Nak."


Bu Reva mengusap-usap rambut Dila. Setelah itu dia mengecup puncak kepala Dila.


"Kami semua memang salah. Tidak seharusnya kami semua merahasiakan ini dari kamu. Tapi sesungguhnya, niat kami itu baik Nak. Dua hari kamu sempat koma di rumah sakit. Dan kami semua cemas dengan kondisi kamu. Kalau waktu itu, kami semua cerita yang sebenarnya tentang kematian Ridho, bagaimana kalau kondisi kamu tambah drop. Waktu Ridho di makamkan, kondisi kamu juga sedang kritis. Kamu waktu itu sudah di nyatakan koma oleh Dokter. Dan untunglah, Tuhan sudah ngasih keajaiban sama kamu. Kamu akhirnya siuman setelah dua hari kamu koma," Bu Reva menjelaskan panjang lebar pada Dila.


Bu Reva harap, Dila mau mengerti dan mau memaafkan kesalahannya.


Dila hanya bisa menghela nafas dalam mendengar cerita ibunya. Dia benar-benar sangat sedih sekali saat tau, kalau suaminya itu meninggal.


"Apakah Dimas sudah tahu tentang ini? atau cuma aku aja yang nggak tahu?" tanya Dila.


"Anak kamu, juga belum tahu soal ini," jawab Bu Reva.


Fabian melangkah ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Fabian melihat Syanum sedang berdiri di sisi jendela kamarnya sembari pandangannya terarah ke depan.


"Syanum. Lagi ngapain kamu di sini?" tanya Fabian.


Syanum menoleh ke arah Fabian. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Dari mana aja kamu?" tanya Syanum.


"Lho, di tanya kok malah balik nanya. Harusnya aku yang tanya sama kamu. Kenapa kamu ada di sini? Kalau aku sih, baru dari bengkel. Kenapa emang?"


"Yakin? dari bengkel? tapi, kenapa kamu rapi banget begitu. Dan kenapa kamu wangi banget gitu?" tanya Syanum.


Syanum tampak curiga. Karena semalam, Fabian sangat berubah. Semalaman Syanum melihat, Fabian bermain ponsel sampai tengah malam. Syanum fikir, kalau Fabian itu sedang chatan dengan seseorang. Dan Syanum curiga kalau suaminya itu lagi chatan sama perempuan. Karena dari wajahnya, Fabian sangat bahagia.


"Emang kenapa, kalau aku rapi dan wangi. Emang sejak dulu, penampilan aku keren seperti ini," ucap Fabian memuji dirinya sendiri.


"Keren? menurutku, lebih keren artis Korea deh dari pada kamu," ucap Syanum asal.

__ADS_1


Fabian menatap tajam ke arah Syanum.


"Kamu, berani heh, bandingin aku sama artis korea?" Fabian sudah mulai emosi. Dia merasa kalau Syanum itu sedang mengejeknya.


"Tapi kenyataannya memang begitu. Artis korea jauh lebih cakep dari pada Tuan muda. Dan artis Korea , jauh lebih lembut, perhatian, romantis, dan nggak suka marah-marah nggak jelas seperti Tuan muda," ucap Syanum.


Sebenarnya Syanum memang sedang kesal dengan suaminya gara-gara semalam.


"Ih, menyebalkan sekali lama-lama kamu Syanum. Kalau nggak karena paksaan Papa aku, aku mana mau nikah sama gadis kampung seperti kamu. Nggak ada manis-manisnya sedikitpun. Jutek, galak lagi. Ih, ogah banget deh," ucap Fabian.


Syanum hanya bisa diam.


"Syanum, mau kamu berdandan seperti apapun, kamu itu tetap kampungan. Karena kamu memang dari kampung. Dan kamu nggak akan bisa menyaingi wanita-wanita kota di sini. Dan malu aku Syanum punya istri macam kamu."


"Ya udah kalau malu. Kita udahan aja."


"Maksud kamu apa Syanum?" tanya Fabian tidak mengerti.


"Kita akhiri aja semuanya. Dari pada kita tersiksa seperti ini," ucap Syanum.


Fabian melotot ke arah Syanum.


"Maksud kamu, kita cerai hah...!?"


"Iya. Kita cerai aja. Untuk apa kita bersama, kalau kita itu tidak bisa saling mencintai. Aku nggak sanggup hidup dengan pernikahan seperti ini."


Fabian menghela nafas dalam. Dia saat ini, memang sangat marah pada istrinya. Karena Syanum sudah berani mengungkit kata cerai dan sudah berani ngata-ngatain dia.


"Syanum. Kita itu baru satu bulan menikah. Kamu sudah berani mengungkit kata cerai?" Fabian sudah meninggikan nada suaranya.


"Menurut aku, cerai itu jalan yang terbaik untuk kita Tuan muda. Dari pada status kita suami istri, tapi kita tidak menjalani kehidupan rumah tangga selayaknya suami istri. Aku juga ingin bahagia, bersama lelaki yang mencintai aku dan lelaki yang aku cintai."


Fabian teringat kembali dengan ucapan ayahnya beberapa hari yang lalu. Pak Damar sudah pernah bilang pada Fabian, jika Fabian sampai menceraikan Syanum, Fabian akan di usir dari rumah dan Pak Damar akan mencabut semua fasilitas yang Fabian miliki. Seperti mobil, kartu kredit, motor, dan semua yang Fabian pakai saat ini.


Dan Fabian belum siap kehilangan semua itu. Karena Fabian sejak kecil sudah hidup bergelimang harta. Jika tiba-tiba saja Fabian di usir dari rumah dan menjadi gelandangan, Fabian tidak akan pernah sanggup hidup di jalanan tanpa harta yang dia miliki.


Makanya sampai saat ini, Fabian tidak ingin macam-macam dulu dengan ayahnya. Dia akan mempertahankan pernikahannya sampai Fabian bisa mandiri tanpa ketergantungan lagi dengan ayahnya.


Fabian saat ini, memang sedang belajar berbisnis. Dan Fabian yakin, suatu saat nanti, dia bisa suksye melebihi ayahnya dan bisa membangun sebuah perusahaan dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Dan saat itu, Fabian akan melepaskan Syanum. .


Tapi untuk sekarang, Fabian tidak mau gegabah dengan pernikahannya yang masih seumur jagung itu. Fabian akan tetap mempertahankan pernikahannya itu.

__ADS_1


"Nggak Syanum. Aku memang tidak cinta sama kamu. Tapi aku nggak akan pernah menceraikan kamu...!" Fabian menunjuk ke arah wajah Syanum.


__ADS_2