Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Mencoba kabur


__ADS_3

Sinar matahari di sore ini, masih tampak cerah. Mentari yang sudah beberapa jam pingsan, mengerjapkan matanya.


Dia perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Aku ada di mana," ucap Mentari sembari memegangi kepalanya.


Dia merasa kepalanya masih sakit. Mungkin akibat kekurangan banyak darah, membuat kepalanya merasa pusing.


"Ada infus. Apa aku sekarang lagi ada di rumah sakit. Siapa yang sudah membawaku ke sini," ucap Mentari.


Mentari menatap pergelangan tangannya yang sudah tampak di perban.Mentari tiba-tiba saja menangis


Di depan ruang rawat Mentari, Lisa tampak masih duduk bersandar. Sudah dua jam, dirinya merasa lemas karena darahnya sudah diberikan untuk Mentari.


Hiks...hiks...hiks...


Lisa terkejut, saat samar-samar dia mendengar suara tangisan seseorang dari dalam ruang rawat Mentari.


"Ada orang nangis. Suaranya ada di dalam kamar Mentari. Apa jangan-jangan, itu suara Mentari," ucap Lisa.


Lisa buru-buru melihat ke dalam. Dia terkejut saat melihat Mentari sedang menarik-narik selang infusnya.


"Mentari. Hentikan! apa yang sedang kamu lakukan!" Lisa langsung menghampiri Mentari.


"Aku mau pergi dari sini. Aku mau pergi dari sini. Kenapa kalian harus menyelamatkan aku. Kenapa kalian tidak biarkan aku mati saja. Percuma aku hidup, kalau aku harus menanggung aib ini sendiri."


Mentari menangis histeris sembari mencoba untuk mencabut selang infusnya. Darah dari tangan Mentari keluar deras dari tangannya saat dengan paksa dia mencabut selang infusnya. Mentari turun dari ranjangnya.


Lisa mencoba untuk menghalangi Mentari agar dia tidak kabur dari rumah sakit ini.


"Mentari. Jangan pergi! kamu masih sakit Mentari," ucap Lisa sembari masih memegangi tangan Mentari.


Mentari menatap tajam ke arah Lisa.


"Jangan halangi aku Lis! biarkan aku pergi!"


"Mentari. Kamu mau pergi ke mana. Kalau kamu mau menghabisi nyawa kamu sendiri, aku tetap akan menghalangi kamu untuk pergi."


Mentari menghempaskan tangan Lisa dengan kasar. Dia kemudian mendorong tubuh Lisa hingga Lisa terbentur ke dinding.

__ADS_1


"Auh... Mentari. Jangan pergi ...!"


Lisa buru-buru melangkah pergi meninggalkan ruang rawat itu untuk mengejar Mentari.


"Suster ...! suster...! tolong. Ada pasien kabur...!" Lisa meminta tolong pada suster yang melintas di depan ruang rawat Mentari.


Beberapa orang suster, tampak sudah mulai mengejar Mentari ke luar dari rumah sakit. Dengan nafas terengah-engah, Mentari tampak berlari menyusuri sepanjang lorong-lorong rumah sakit untuk menghindar dari kejaran beberapa orang suster.


Sementara di sisi lain, Lisa melangkah ke ruangan Fadlan. Lisa buru-buru membuka ruangan dokter. Beberapa orang dokter yang masih berada di ruangan itu menatap Lisa.


"Mas Fadlan. Kita harus kejar Mentari. Mentari kabur Mas."


Fadlan terkejut saat mendengar ucapan Lisa.


Tanpa fikir panjang lagi, Fadlan segera melangkah pergi meninggalkan ruangan dokter. Sementara Lisa, ikut berlari mengikuti kekasihnya.


Fadlan menghentikan langkahnya setelah seorang suster mendekat ke arahnya. Suster itu tampak terengah-engah.


"Dokter Fadlan . Wanita itu cepat banget larinya. Sehingga membuat kami kewalahan mengejarnya. Sekarang dia sudah pergi ke jalan raya dan satpam sedang mengejarnya."


"Baiklah. Aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi. Aku juga harus mengejarnya. Jika dia pergi, aku yakin dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang tadi siang dia lakukan. Mengakhiri hidupnya."


"Iya Lisa. Aku akan ambil mobil dulu. Kamu tunggu di sini dulu."


Lisa mengangguk. Sementara Fadlan berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.


Beberapa saat kemudian, Fadlan membawa mobilnya dan berhenti tepat di depan Lisa. Lisa buru-buru masuk ke dalam mobil Fadlan. Mereka kemudian meluncur pergi untuk mencari Mentari.


"Lihatkan satpam itu Mas. Pasti mereka sudah kehilangan jejak deh," ucap Lisa saat melihat dua orang satpam kembali ke rumah sakit, tanpa membawa Mentari.


Fadlan dan Lisa kemudian mencari Mentari ke sana kemari.


"Tidak ada Mentari di sekitar sini," ucap Fadlan.


"Aku yakin, kalau Mentari pasti bersembunyi di sekitar sini. Tidak mungkin dia sudah jauh dari sini kecuali dia naik mobil. Dia kan lari Mas."


Fadlan mengangguk.


Beberapa saat kemudian, Lisa melihat Mentari sedang berada di antara mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan raya.

__ADS_1


"Mas, lihat. Itu Mentari. Tapi dia ngapain berada di tengah jalan. Menghalang-halangi mobil lewat."


"Aku yakin. Dia itu mau mati karena percobaan bunuh dirinya yang pertama itu gagal."


"Mas, kamu harus turun dan selamatkan dia."


Fadlan kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu, dia menyebrang jalan untuk menyeret Mentari agar dia mau menepi.


Tin...tin...tin...


Suara klakson mobil di sana-sini sudah berbunyi. Fadlan tidak mau memperdulikan mobil-mobil itu lagi. Baginya menyelamatkan Mentari itu yang terpenting.


Fadlan merengkuh tubuh Mentari.


"Lepaskan aku! biarkan aku mati dokter Fadlan...!"


Mentari sejak tadi masih memberontak. Tapi Fadlan buru-buru mengendong tubuh Mentari sampai ke tepian jalan.


Setelah sampai di tepi jalan, Fadlan menurunkan Mentari dari gendongannya. Lisa buru-buru turun dari mobilnya. Dia sudah tidak memikirkan rasa cemburunya. Yang dia fikirkan saat ini, juga keselamatan Mentari.


"Mentari. Apa yang kamu kamu lakukan! kamu sudah menggangu ketertiban di jalan raya. Bagaimana kalau ada polisi sampai menangkap kamu," ucap Fadlan.


Mentari menatap Fadlan tajam.


"Untuk apa kamu selalu ikut campur dengan urusanku Fadlan! seharusnya aku itu udah mati dari dulu. Tapi kamu, kenapa kamu harus menyelamatkan aku heh...!"


Lisa dan Fadlan saling menatap saat melihat kemarahan Mentari.


"Aku benci kalian. Aku benci sama kalian. Lebih baik sekarang kalian pergi dan jangan pernah lagi mencampuri urusanku!"


"Mentari istighfar Mentari. Ingat Tuhan Mentari. Kamu nggak boleh seperti ini. Bunuh diri nggak akan pernah menyelesaikan masalah. Justru bunuh diri itu, akan semakin menjerumuskan kamu ke dalam lubang dosa. Dan kamu tidak akan pernah bisa mempunyai kesempatan untuk bertaubat setelah kamu mati," ucap Lisa.


Mentari menangis sesenggukan di depan Fadlan dan Lisa. Di satu sisi Mentari ingin menerima dengan ikhlas dan bersabar akan semua nasibnya. Tapi di sisi lain, dia tidak sanggup menjadi bahan cemoohan orang-orang jika sampai ada yang tahu tentang kehamilannya termasuk keluarga besar Fabian. Mentari benar-benar malu.


Setelah Lisa dan Fadlan sudah bisa membujuk Mentari, akhirnya Mentari menurut ikut pulang bersama mereka. Tampaknya, hati Mentari sudah mulai tenang sekarang. Namun sejak tadi, Mentari hanya bisa diam tanpa berucap sepatah katapun.


Lisa dan Fadlan yang duduk di depan, hanya bisa menatap Mentari dari sepion kaca mobilnya.


"Mas, sebenarnya Mentari itu tinggal di mana sih? dan sebenarnya Mentari itu siapa? kamu berhutang penjelasan sama aku Mas. Karena sejak kemarin, kamu belum pernah menjelaskan masalah Mentari ke aku."

__ADS_1


"Iya. Nanti aku akan jelaskan sama kamu. Tapi tidak sekarang."


__ADS_2