
"Oh iya. Abi nanyain Syanum ke kamu? tumben banget," ucap Bu Reva.
"Kangen kali Ma," ucap Dila.
"Yah, kangen sih pasti. Apalagi Syanum itu kan sedang mengandung anak darah dagingnya," ucap Pak Damar.
"Pa. Apa papa udah temui Syanum di rumah Luna?"'tanya Bu Reva.
"Belum. Papa belum sempat," jawab Pak Damar.
"Ya udah. Kita aja Ma, yang ke sana," ucap Dila.
"Jangan. Biar papa saja yang ke sana," ucap Pak Damar.
"Pa. Mama juga kangen sama Syanum. Mama ikut ya Pa. Kita jemput Syanum ya agar dia mau tinggal di rumah ini lagi," ucap Bu Reva.
"Kalau dia mau. Kalau nggak mau gimana? papa nggak mungkin maksa dia."
****
Minggu pagi, Syanum dan Ryan masih berada di halaman depan rumah. Ryan sejak tadi masih mengupaskan buah untuk Syanum.
"Ini Kak, aku udah iris kecil-kecil buahnya. Sekarang kakak udah bisa langsung makan aja."
"Makasih ya."
"Iya Kak."
Ryan meletakan pisau di atas meja. Setelah itu dia menatap Syanum makan buah.
Ryan sejak tadi masih memperhatikan Syanum makan buah. Sudah tiga bulan Ryan menemani Syanum seperti istrinya sendiri. Mulai dari mengantar periksa, membelikan apa yang Syanum inginkan, dan menemani Syanum saat di rumah.
'Apa begini ya rasanya punya istri. Tapi, sayangnya Syanum bukan istri aku. Tapi istrinya Kak Abi. Tapi, melihat Syanum bahagia seperti ini, aku jadi ikutan bahagia,' batin Ryan.
Pandangan Ryan tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.
'Seperti mobilnya Om Damar. Mau ngapain dia ke sini.' batin Ryan.
Ryan buru-buru melangkah ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Yan. Kamu mau ke mana?" tanya Syanum.
Ryan menoleh ke arah Syanum.
"Tunggu sebentar Kak."
Ryan kemudian melangkah untuk membuka gerbang rumahnya. Tampak Pak Damar sudah turun dari mobilnya.
"Ryan. Di mana Syanum?" tanya Pak Damar.
"Om. Mau cari Syanum?"
"Iya."
"Dia ada di teras Om. Ayo masuk Om!" Ryan mempersilahkan Pak Damar masuk dan mengajaknya ke arah Syanum.
Syanum terkejut saat melihat kedatangan Pak Damar.
__ADS_1
"Papa," Syanum langsung bangkit berdiri.
"Syanum," ucap Pak Damar tersenyum pada Syanum.
"Papa tau dari mana aku ada di sini?" tanya Syanum.
"Papa emang sudah tahu dari awal kalau kamu ada di sini. Tapi maafkan Papa. Karena Papa baru bisa ke sini. Karena Papa lagi sibuk banget dengan kerjaan Papa di kantor."
"Nggak apa-apa Pa. Papa mau masuk ke dalam dulu. Ayo Pa! ajak Syanum.
Pak Damar kemudian masuk ke dalam rumah Ryan. Diikuti Ryan dan Syanum yang masuk juga ke dalam rumah.
Mereka kemudian duduk di atas sofa ruang tamu. Begitu juga dengan Syanum yang mengikuti mertuanya duduk.
"Om. Kenapa mau ke sini nggak bilang-bilang dulu sih." ucap Ryan.
"Om cuma lagi ada perlu sebentar sama Syanum."
Ryan bangkit berdiri.
"Ya udah. Biar Om dan Syanum ngobrolnya lebih enak, Ryan tinggal dulu ya ke depan."
"Lho. Kok pergi. Kenapa nggak ikut kita ngobrol Ryan?"
"Nggak Om. Aku lagi mau cari angin dulu."
Ryan kemudian pergi meninggalkan Syanum dan Pak Damar di ruang tamu.
"Papa nggak ke kantor?" tanya Syanum
"Nggak. Papa lagi libur dulu. Papa capek harus bolak-balik nyetir sendiri ke kantor," jawab Pak Damar.
"Nggak. Papa malas cari sopir baru. Takutnya nanti sopirnya nggak ada yang cocok."
"Oh. Gitu."
"Oh iya. Luna ke mana?" tanya Pak Damar yang tidak melihat kehadiran Luna di rumah itu.
"Aku di sini cuma sama Ryan Pa. Luna lagi sibuk sama butiknya. Biasanya sih, aku ikut bantu-bantu Luna di butik. Tapi hari ini aku baru kontrol kandungan aku ke rumah sakit sama Ryan. Jadi Ryan nggak ke kantor deh."
"Oh. Bagaimana calon cucu Papa? apa dia sehat?" tanya Pak Damar.
"Iya. Sehat Pa."
"Syukurlah, Papa senang dengarnya Syanum. Dan kondisi kamu bagaimana sehat kan?" tanya Pak Damar.
"Iya Pa. Alhamdulillah sehat."
"Syanum. Mama dan Kak Dila sangat merindukan kamu. Apa kamu mau pulang ke rumah papa?" tanya Pak Damar tiba-tiba.
Syanum diam. Sebenarnya dia sudah ingin melupakan Fabian. Dia sudah punya rencana ingin bercerai dari suaminya setelah anaknya lahir. Dan Syanum juga sudah berencana untuk pulang ke kampung halaman ibunya.
"Maaf Pa. Aku nggak bisa pulang ke rumah Papa."
"Kenapa Syanum? apa kamu masih marah sama Abi? tolong maafkan Abi Syanum."
"Aku udah maafin dia kok Pa. Walaupun dia tidak pernah mau minta maaf duluan sama aku, aku tetap akan maafin dia."
__ADS_1
"Jadi kamu mau kan kembali sama Abi? kamu mau kan pulang ke rumah kami."
"Maaf Pa. Aku nggak bisa. Mas Fabian itu tidak pernah cinta sama aku. Walau dipaksa seperti apapun dia tetap tidak akan pernah bisa melupakan Mentari."
"Nggak Syanum. Kamu salah. Fabian itu sudah mulai mencintai kamu. Dia sudah berubah."
"Nggak Pa. Aku nggak bisa. Aku sudah terlanjur kecewa sama dia. Maafkan aku Pa."
"Terus, apa kamu tetap ingin cerai dari dia?"
"Sepertinya begitu Pa. Aku ingin cerai setelah anak ini lahir."
"Syanum. Tolong berikan kesempatan Fabian untuk memperbaiki kesalahannya. Dan kasihan anak kamu. Dia itu masih butuh sosok seorang ayah Nak. Kamu nggak boleh mengorbankan anak kamu karena keegoisan kalian berdua."
Syanum menghela nafas dalam.
"Pa. Ini cuma keinginan Papa kan, aku balik lagi sama Mas Fabian. Tapi Mas Fabian tidak menginginkan itu. Dia hanya menginginkan Mentari dalam hidupnya. Biarkan aku pergi Pa. Agar Mas Fabian kembali lagi dengan Mentari. Cinta itu tidak perlu dipaksakan Pa. Untuk apa bertahan kalau salah satu dari kami aja ada yang merasa tersakiti."
"Syanum. Perceraian itu di benci Allah. Kalau kamu dan Fabian masih bisa memperbaiki hubungan kalian, kenapa kalian tidak lakukan itu Nak. Dan sebelum ayah kamu meninggal, dia juga sudah menitipkan pesan sama papa. Dia nggak mau kamu dan Fabian bercerai."
"Tapi aku tetap nggak bisa Pa. Aku nggak mungkin kembali lagi dengan lelaki yang hatinya masih untuk wanita lain. Aku nggak bisa. Maafkan aku Pa."
Sejak tadi, Pak Damar masih membujuk menantunya agar dia mau kembali ke rumahnya. Namun, sepertinya keinginan Syanum tetap ingin bercerai. Mungkin luka di hati Syanum sudah terlalu dalam hingga sulit untuk disembuhkan.
Setelah beberapa lama Pak Damar ngobrol dengan Syanum, akhirnya Pak Damar pamit untuk pulang.
"Papa nggak usah khawatirkan aku. Di sini aku lagi bantu-bantu Luna di butik. Itu sama saja aku kerja dengan Luna Pa. Aku juga dapat gaji dari Luna."
"Iya. Papa cuma khawatir dengan kandungan kamu. Papa nggak mau kamu terlalu capek Syanum."
"Nggak kok Pa. Aku bisa jaga kandungan aku baik-baik. Papa tenang aja."
"Ya udah. Kalau gitu, papa pulang dulu ya. Papa juga masih banyak urusan."
Syanum mengangguk.
"Iya Pa."
"Jaga diri kamu dan calon cucu Papa baik-baik ya Nak di sini. Kalau ada apa-apa, kamu cepat-cepat kasih tahu Papa."
"Iya Pa."
Setelah berpamitan dengan Syanum, Pak Damar pergi ke luar. Dia melangkah mendekat ke arah Ryan dan duduk di sisi Ryan.
"Om. Udah mau pulang? cepat amat Om?" tanya Ryan.
"Sebenarnya, Om ingin membawa Syanum kembali ke rumah."
"Terus?"
"Tapi Syanumnya nggak mau."
"Ya udahlah Om. Jangan dipaksa.
Syanum itu sudah bulat dengan keputusannya. Dia ingin cerai dari Kak Fabian. Jadi, biarkan sajalah Om. Percuma kita memaksa orang untuk tetap bersama. Sementara mereka saja tidak ingin bersama."
"Ya udah Ryan. Om pulang dulu ya. Om titip Syanum sama kamu. Tolong jaga Syanum. Kalau ada apa-apa sama dia, tolong kabarin Om. Entah dia mau lahiran, atau apapun itu."
__ADS_1
"Siap Om."
Setelah berpamitan dengan Ryan, Pak Damar kemudian pergi meninggalkan rumah Ryan.