Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kepulangan Pak Damar


__ADS_3

Malam ini, Fabian sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Setelah seharian bekerja, dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.


Sesampai di depan rumahnya, Fabian turun dari mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya dan melangkah ke atas untuk sampai ke dalam kamarnya.


Fabian membuka kamarnya. Syanum langsung menyambutnya.


"Tumben Mas, sampai malam?" tanya Syanum.


"Iya sayang tadi ada lemburan sedikit. Aku lagi capek banget."


"Kamu mau langsung mandi Mas. Biar aku siap kan baju kamu?"


Fabian mengangguk.


Fabian kemudian membuka jas dan dasinya. Dia mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Fabian kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia ke luar dari dalam kamar mandi.


"Ini Mas, baju ganti untuk kamu."


"Makasih sayang."


Fabian kemudian ganti baju. Setelah itu dia duduk di atas ranjangnya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya Mas. Perut aku sakit dari tadi," ucap Syanum.


"Iya."


Syanum kemudian melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi.


Fabian masih resah. Dia masih tampak gelisah sejak mendapatkan teror dari penelpon gelapnya itu yang tak lain adalah penculiknya Firen.


Penculik itu masih meminta tebusan dan menginginkan Fabian datang tanpa membawa seorang teman, dan membawa uang satu milyar untuk tebusan.


Fabian masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia masih tampak berfikir keras untuk bertindak.


"Gimana ya, caranya aku menyelamatkan anak aku. Apa aku harus memberikan mereka uang satu milyar. Apakah mereka tidak akan mengkhianati aku nantinya. Apakah mereka akan mengembalikan Firen, sesuai janji mereka," gumam Fabian.


Fabian melangkah ke arah brangkas. Dia kemudian mengambil uang senilai satu milyar dari brangkas itu dan dia masukkan ke dalam koper kecil.


"Mungkin, ini yang di inginkan penculik itu. Aku harus menyerahkan uang ini untuk mereka. Aku akan melakukan apapun asal Firen Selamat dan kembali lagi ke tangan aku."


Syanum sejak tadi masih berada di kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke arah suaminya.


"Mas, apa itu?" tanya Syanum.


Syanum terkejut saat melihat uang satu koper di atas tempat tidurnya. Seumur hidupnya, dia baru pernah melihat uang senilai satu milyar itu.


"Uang untuk apa itu Mas banyak banget?" tanya Syanum.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tanya. Yang ini, jelas-jelas untuk nebus anak kita sayang dari tangan penculik itu," ucap Fabian.


"Mas, apa nggak sayang uang sebanyak ini. Apa kita nggak bisa mendapatkan Firen tanpa uang ini?" tanya Syanum.


"Syanum. Firen itu harta paling berharga untuk aku sayang. Aku nggak mau kehilangan Firen. Aku sayang sama dia. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan Firen kembali. Walaupun aku, harus buang uang sebanyak ini," Fabian menegaskan.


"Mas, kalau menurut aku, kita lapor polisi saja Mas. Kita laporkan masalah ini ke polisi


Biar polisi yang mengusut tuntas kasus ini."


Fabian menatap istrinya lekat.


"Sayang. Nggak bisa seperti itu. Penculik itu, hanya mau aku sendiri yang mengantar uang ini ke sana, tanpa membawa-bawa polisi. Mereka mengancam akan melenyapkan Firen kalau sampai aku lapor polisi atau aku membawa teman. "


Syanum menghela nafas dalam.


"Aku juga takut Mas, Firen kenapa-kenapa. Mudah-mudahan saja, Firen tidak di apa-apain sama penculik itu ya Mas."


"Iya sayang. Makanya kita harus turuti apa keinginan penculik itu."


"Tapi, apakah penculik itu tidak akan membahayakan kamu Mas? bagaimana kalau mereka cuma bohongin kamu aja. Bagaimana setelah kamu mengembalikan uang ini pada mereka, mereka tidak mau mengembalikan Firen pada kita?"


Fabian diam. Dia mencoba untuk mencerna perkataan Syanum.


"Benar juga ya apa yang kamu katakan. Bagaimana kalau dia cuma menginginkan uang kita saja tanpa mengembalikan Firen."


Fabian menghela nafas dalam. Dia kemudian menutup kopernya kembali. Setelah itu dia menyimpan kopernya itu ke tempat aman.


"Ya udah sayang. Kita tunggu kabar selanjutnya aja. Karena orang itu, belum nelepon lagi," ucap Fabian.


"Iya Mas."


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari depan rumah Fabian.


"Mas, seperti ada mobil di bawah. Apa itu mobil mama dan papa ya," ucap Syanum.


Syanum dan Fabian kemudian melangkah ke arah jendela kamarnya. Dia kemudian melihat sebuah mobil di bawah.


Beberapa saat kemudian, ke dua orang tua Fabian ke luar dari mobil mereka.


"Iya. Itu memang benar Mama dan Papa."


Setelah memarkir mobilnya, Bu Reva dan Pak Damar melangkah ke arah teras rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Mbak Fani sudah membuka pintu.


"Mbak Fani. Tolong, bawakan barang-barang aku yang ada di dalam mobil ya," ucap Bu Reva.

__ADS_1


"Iya Nya."


"Oh iya. Kamu di sini sendiri? Mbak Asih belum kembali ke sini?" tanya Bu Reva.


Mbak Fani menggeleng.


"Belum Nyonya," jawab Mbak Fani.


"Terus, pengasuhnya Firen, bantu-bantu kamu?" tanya Bu Reva lagi.


Mbak Fani diam saat Bu Reva menanyakan baby sitter nya Firen.


"Lili sudah pergi dari rumah ini Nya," jelas Mbak Fani.


"Pergi? kenapa?" ucap pak Damar.


"Dia sudah dipecat oleh Tuan muda. Katanya dia nggak becus kerja di sini. Kata Tuan muda, gara-gara Lili, anaknya sampai di culik," ucap Mbak Fani menuturkan.


"Ya ampun. Abi kok gitu banget sih. Apa salahnya Lili. Kita kan tidak tahu, musibah apa yang akan menimpa kita," ucap Bu Reva


Bu Reva dan Pak Damar kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sementara Mbak Fani, ke luar untuk mengambil barang-barang majikannya di luar.


Setelah sampai di ruang tengah, Pak Damar dan Bu Reva menatap ke sekeliling.


"Sepi amat ini rumah," gumam Bu Reva.


Bu Reva kemudian duduk di ruang tengah di ikuti suaminya. Beberapa saat kemudian, Mbak Fani masuk ke dalam rumah sembari membawa barang-barang Bu Reva masuk.


"Mbak Fani...! di mana semua orang. Kok sepi banget?" tanya Bu Reva.


"Non Dila belum pulang dari kantor. Kalau Dimas, lagi belajar di kamarnya. Kalau Tuan muda dan Non Syanum, dia juga ada di kamarnya," jawab Mbak Fani.


"Mbak Fani. Bisa panggilkan Fabian?" tanya Pak Damar.


"Iya Tuan. "


Mbak Fani kemudian melangkah pergi ke atas untuk memanggil Syanum dan Fabian.


Sebelum Mbak Fani sampai ke kamar Fabian, Fabian dan istrinya sudah ke luar dari kamar.


"Ada apa Mbak?" tanya Syanum.


"Dipanggil Tuan dan Nyonya di bawah."


"Iya. Kami akan segera turun," ucap Fabian.


Mbak Fani mengangguk. Dia kemudian melangkah menuruni anak tangga dan melangkah ke arah Bu Reva yang ada di ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2