
"Ya udah. Kalau begitu, saya akan kasih resep vitamin dan obat anti mual untuk Mbak Syanum," ucap Dokter yang diketahui bernama Anita itu.
Dokter Anita kemudian menulis resep untuk Syanum.Setelah itu dia memberikan secarik kertas pada Syanum.
"Ini, saya sudah tuliskan resep untuk Mba Syanum. Dan Mbak Syanum bulan depan bisa datang ke sini lagi untuk periksa lagi," ucap Dokter sembari menyodorkan kertas itu. Syanum menerimanya.
"Iya Dok, makasih banyak Dok,"ucap Syanum.
Dokter Anita tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama."
"Ya udah Dok. Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap Ryan.
Setelah pamit pada Dokter Anita, Ryan dan Syanum kemudian ke luar dari ruangan Dokter. Setelah itu, mereka melangkah ke luar rumah sakit setelah menebus obat.
Seorang wanita masih menatap tajam ke arah Ryan dan Syanum yang sedang beriringan melangkah ke luar dari rumah sakit. Sejak tadi, dia masih mengepalkan tangannya geram. Sepertinya dia sejak tadi, sedang menahan amarahnya. Dia seperti tidak suka melihat kedekatan Syanum dengan Ryan.
"Benar ternyata kalau Ryan itu ada di sini bersama seorang wanita. Kurang ajar Ryan. Dia udah bohongin aku. Katanya dia sedang ada di luar kota. Ternyata dia ada di sini, dan bersama seorang wanita. Aku nggak bisa diamin aja," geram wanita itu.
Sandra melangkah menghadang Ryan dan Syanum.
Syanum dan Ryan terkejut saat melihat Sandra. Tiba-tiba saja Sandra melayangkan tangannya ke pipi Ryan. Satu tamparan sudah mengenai pipi Ryan.
"Ryan. Siapa wanita ini? dia pasti selingkuhan kamu kan" Sandra menunjuk ke arah Syanum.
"Em, Sandra. Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Ryan sembari memegang ke pipinya yang kena tampar.
"Kamu bohongin aku ya. Kamu bilang hari ini kamu ada di luar kota. Tapi nyatanya kamu lagi mesra-mesraan di sini sama perempuan ini."
"Sandra. Kamu salah paham. Dia istri kakak sepupu aku San. Dan siapa juga yang lagi mesra-mesraan. Aku ke sini karena mau ngantar dia periksa kandungan," jelas Ryan.
"Bohong. Kamu pasti bohong kan Ryan. Kamu itu udah berapa kali bohongin aku. Kamu udah berapa kali ingkari janji kamu. Mulai sekarang, aku minta kita putus."
"Apa! putus?"
"Aku nggak mau punya cowok playboy kayak kamu. Benar apa kata teman aku. Kalau kamu itu ternyata play boy. Dia sering sekali melihat kamu jalan dengan wanita yang berbeda. Nyesel aku Ryan udah pernah suka sama kamu."
Sandra buru-buru melangkah pergi meninggalkan Ryan. Namun, Ryan sama sekali tidak mau mengejarnya.
"Kok nggak di kejar? kenapa wanita itu dibiarkan aja. Tadi dia udah salah paham lho, sama kita."
"Aku nggak mau, ngejar dia. Biarkan saja dia. Dia aja udah berani nampar aku."
"Ryan. Maafkan aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi kena tampar wanita tadi."
__ADS_1
"Biarin aja. Dia itu memang wanita bar-bar. Aku nggak suka. Aku lebih suka wanita yang kalem dan nggak galak kayak dia."
"Ya udah. Kita pulang yuk!" ajak Syanum.
"Iya Kak."
Syanum dan Ryan kemudian melangkah untuk ke parkiran. Mereka kemudian masuk mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
Diperjalanan pulang, tiba-tiba saja Syanum menyuruh Ryan menghentikan mobilnya.
"Ryan berhenti... berhenti...!" ucap Syanum.
Ryan kemudian menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa Kak?" tanya Ryan.
"Ryan. Tadi kayaknya ada tukang buah deh. Entah kenapa aku kok, tiba-tiba jadi pengin buah ya," ucap Syanum.
"Buah. Kamu mau beli buah?"
"Iya. Tolong belikan ya? kata orang, kalau lagi hamil muda itu, kalau punya suatu keinginan itu, harus di turuti. Kalau nggak, nanti bayinya bisa ileran."
"Oh ya?"
"Ya udah."
Ryan memutar balik mobilnya. Dia meluncur kembali untuk mencari tukang buah.
Sesampai di depan lapak buah, Ryan turun. Dia kemudian membelikan buah untuk Syanum.
"Gimana Yan? udah dapat buahnya?" tanya Syanum setelah melihat Ryan kembali ke mobil.
"Udah Kak."
Setelah membeli buah, Ryan dan Syanum kemudian menuju untuk pulang.
Beberapa saat kemudian, mobil Ryan sudah sampai di depan rumah. Ryan turun dari mobilnya. Setelah itu dia membuka pintu mobil untuk Syanum.
Syanum dan Ryan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian duduk di ruang tamu.
Hoek...Hoek...
Lagi-lagi Syanum mual. Dia kemudian pergi melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Ryan hanya geleng-geleng kepala melihat Syanum.
"Kasihan Syanum. Seharusnya di saat-saat seperti ini, suaminya ada di sisinya. Tapi, entahlah Fabian memikirkan Syanum atau tidak sekarang."
****
Fabian masih berada di sisi kolam renang. Sejak tadi dia masih memikirkan Syanum. Dia tidak tahu kemana istrinya sekarang.
Akhir-akhir ini, perasaan Fabian jadi tidak enak. Dia sudah terbiasa ada Syanum. Sejak Syanum pergi, Fabian sudah mulai kehilangan arah.
Fabian sejak tadi masih diam.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Bu Reva menatap anaknya lekat.
"Aku nggak apa-apa Ma," ucap Fabian.
"Kamu lagi kangen ya sama Syanum?" tanya Bu Reva.
"Nggak tahu Ma. Aku cuma merasa ada yang beda aja setelah dia pergi."
"Bi. Mama harap kamu mau belajar untuk menjadi lebih dewasa. Lupakan masa lalu kamu Bi. Dan lihatlah masa depan kamu," ucap Bu Reva.
"Mentari itu wanita masa lalu kamu. Tidak pantas kamu menemuinya lagi Bi."
Fabian menatap ibunya.
'Kenapa mama bisa tahu aku menemui Mentari. Dari mana dia tahu soal itu' batin Fabian.
"Aku nggak menemui Mentari kok Ma."
"Bi. Sudahlah. Nggak usah bohong. Mama udah tahu permasalahan kamu dan Syanum sekarang. Syanum pasti cemburu saat tahu kalau kamu menemui Mentari."
Fabian diam. Dia teringat beberapa waktu yang lalu, dia pernah curhat ke Syanum kalau dia ke rumah Mentari.
'Apa karena itu Syanum pergi. Kenapa aku nggak kefikiran itu,"batin Fabian.
"Ma, sebenarnya aku juga nggak ingin Syanum pergi dari rumah ini. Aku masih butuh dia Ma. Aku tak biasa tanpa dia. Aku biasa dia layani. Dan sekarang aku harus apa-apa sendiri."
"Bi. Mama harap kamu mau buka mata kamu Bi. Syanum itu wanita yang sangat baik. Cuma lelaki bodoh aja yang mau melepaskan wanita seperti Syanum pergi."
"Mama ngatain aku bodoh?"
"Bukan kamu yang bodoh Bi. Tapi keegoisan kamu yang sudah membuat Syanum pergi. Kamu harus bisa belajar dewasa. Lupakan Mentari. Dan belajarlah menerima Syanum."
__ADS_1
'Benar apa yang dikatakan Mama. Sejak Mentari kembali, perasaan aku ke dia, jadi berbeda. Aku merasa, perasaan aku ke Mentari nggak seperti dulu lagi. Entah kenapa dengan aku. Apa jangan-jangan, aku sudah mulai suka sama Syanum.' batin Fabian.