Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Bertemu Mentari


__ADS_3

"Hah, apa maksud kamu Kak Syanum?" tanya Luna.


"Kamu belum pernah melakukan hal itu dengan suami kamu?" tanya Luna lagi.


Syanum diam.


'Ih, dasar aku ini. Kenapa aku harus keceplosan sih.' batin Syanum sembari menutup mulutnya.


Luna menghela nafas dalam.


"Kenapa kamu diam? Kak Fabian tidak memberikan hak untuk kamu?" tanya Luna.


"Ssstttt... jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya, soal ini," bisik Syanum.


"Ya. Aku nggak akan bilang sama siapa-siapa soal ini. Kata kamu, ini privasi. Ini rahasia kita berdua," ucap Luna.


"Janji ya Lun."


"Iya. Tapi kamu seriusan? selama tiga bulan kalian nikah, kalian nggak pernah satu kali pun berhubungan? padahal kalian itu kan satu kamar."


"Iya."


"Kamu nggak minta hak kamu pada suami kamu?" tanya Luna.


"Apa! minta? apa kamu sudah gila Lun. Aku minta begituan sama Mas Fabian. Idih, malu aku Lun. Masa wanita duluan yang minta."


"Yah, kamu kan istrinya. Sah-sah aja kan. Lagian, kalian itu udah halal. Sayang banget waktu-waktu kalian. Di buang-buang begitu aja. Seharusnya kamu itu sudah hamil Kak Syanum. Kalau seperti itu terus, kamu mana mungkin bisa hamil Kak Syanum."


Bu Reva membelalakkan matanya saat mendengar obrolan menantu dan keponakannya. Dia tidak menyangka, kalau Fabian dan Syanum tidur satu kamar, namun mereka tidak melakukan apapun. Padahal Bu Reva sudah sangat berharap, Fabian dan Syanum akan cepat memberikannya cucu.


'Kalau seperti ini, untuk apa mereka tidur satu kamar. Nggak ada hasilnya. Padahal, aku pengin banget punya cucu. Kamu udah bohongin Mama Fabian. Kamu cuma pura-pura mesra aja di depan kami. Tapi di dalam kamar ternyata,' batin Bu Reva.


"Aku nggak mungkin tanyakan ini langsung sama Syanum atau Fabian. Tapi aku harus cari cara agar mereka tidak terus menerus seperti ini."


Bu Reva kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum dan Luna.


Wajah Syanum tiba-tiba saja menjadi sedih. Mungkin dia memikirkan nasibnya sekarang. Menjadi istri yang tidak pernah di sentuh oleh suami. Menjadi istri yang terabaikan.


"Kalau selama satu tahun, Mas Fabian tidak mau memberikan haknya, aku nyerah aja. Aku nggak sanggup hidup dalam pernikahan seperti ini. Aku ingin cerai saja dari dia."


"Apa! satu tahun? kelamaan Kak Syanum. Kalau penampilan kamu aja masih seperti ini, bagaimana mungkin Kak Fabian akan tertarik sama kamu. Kamu nggak tahu, cara memikat hati lelaki? Apa mau aku kasih tahu caranya?" Luna berbisik ke arah Syanum.


"Iya. Bagaimana caranya?"

__ADS_1


"Gampang. Kamu rubah penampilan kamu."


"Caranya?"


"Kamu pasti dapat jatah bulanan kan dari suami kamu?"


"Kalau itu sih, Mas Fabian selalu kasih banyak."


"Ya udah. Sekarang waktunya kamu untuk berubah."


"Caranya gimana?"


"Kamu harus ke salon, untuk ikut perawatan kulit, perawatan wajah, perawatan kuku dan perawatan rambut," jelas Luna.


"Terus?"


"Kamu harus beli baju-baju baru yang bagus-bagus. Dan yang jelas, Kak Fabian itu suka sama cewek yang Feminim seperti Kak Mentari. Kamu harus pakai baju yang feminim. Baju yang berkelas."


"Baju apa itu?" tanya Syanum.


"Yah, baju yang... Em, nanti deh, aku tunjukan. baju-baju punya aku. Kamu harus punya baju-baju seperti yang aku pakai sekarang."


Syanum menatap baju Luna.


"Hei, kamu bisa memakainya setiap di kamar, kalau kamu sedang berdua dengan Kak Fabian. Bila perlu, kamu pakai lingerie juga setiap ada di kamar."


Syanum benar-benar tidak mengerti dengan ide konyol Luna. Tapi Syanum fikir, ada benarnya juga ucapan-ucapan Luna itu.


"Benar juga apa kata kamu Lun. Nanti deh, aku akan nyoba merubah penampilan aku. Siapa tahu nanti suamiku jadi sedikit berubah sikapnya ke aku."


Luna tersenyum.


"Aku akan selalu mendukung kamu kok."


****


Siang ini, Fabian masih berada di taman. Taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Mentari. Taman inilah, yang selalu menjadi tempat favorit Fabian waktu bersama Mentari.


Fabian sejak tadi, masih duduk di taman. Tidak ada yang dilakukannya kecuali bermain game yang ada di ponselnya.


Dia sejak tadi, hanya ingin menghilangkan rasa galaunya. Fabian tidak tahu, ada apa dengan perasaannya sekarang pada Syanum.


"Hah, Syanum...! benar-benar menyebalkan kamu Syanum...!"

__ADS_1


geram Fabian.


Fabian bangkit berdiri. Dia melangkah pergi meninggalkan taman. Namun, sebelum dia melangkah, dia terkejut saat melihat sosok Mentari sedang duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu.


"Mentari, benarkah itu Mentari." Fabian mengucek matanya. Dia kemudian menatap kembali sosok wanita yang sedang duduk di taman itu.


"Nggak salah lagi kalau dia memang Mentari. Aku harus samperin dia."


Fabian kemudian buru-buru melangkah ke arah Mentari.


"Mentari," ucap Fabian.


Mentari menoleh ke arah Fabian. Dia terkejut saat melihat Fabian sudah berdiri di dekatnya.


Mentari bangkit berdiri. Dia buru-buru melangkah pergi. Namun Fabian, dengan sigap langsung mencekal tangannya.


"Mentari tunggu. Kamu mau ke mana?"


Mentari mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Fabian.


"Lepaskan aku Bi... lepaskan...!" ucap Mentari.


"Aku nggak akan pernah melepaskan kamu Mentari. Kamu harus jelaskan dulu sama aku. Kenapa kamu pergi meninggalkan pernikahan kita."


Mentari menatap tajam ke arah Fabian.


"Kita sudah nggak ada urusan lagi Bi. Kamu sudah punya istri. Lebih baik, kamu urus saja istri kamu dan biarkan aku pergi!"


"Nggak Mentari. Aku ingin bicara sama kamu sebentar saja Mentari. Tolong, kasih aku waktu."


Mentari menghempaskan tangan Fabian. Dia kemudian berlari pergi meninggalkan Fabian. Fabian tidak tinggal diam. Dia kemudian mengejar Mentari.


"Mentari tunggu. Kamu nggak boleh pergi Mentari. Kamu harus jelaskan dulu sama aku. Kenapa kamu pergi meninggalkan aku."


Sesampai di jalan, Mentari masuk ke dalam taksi. Taksi itu kemudian melaju kencang dan pergi meninggalkan taman. Sepertinya, Mentari akan pulang ke rumahnya.


Sudah satu minggu lebih Mentari berada di rumahnya. Dia tidak pernah sekalipun ke luar dari rumahnya. Namun, entah kenapa hari ini, dia kangen dengan taman yang ada di dekat rumahnya. Taman itu, penuh dengan kenangan manis bersama Fabian.


Mentari memang masih sangat mencintai Fabian. Namun, sejak ayahnya cerita kalau Fabian sudah punya istri, Mentari ingin melupakan cintanya pada Fabian. Karena Mentari tidak mau merebut kebahagiaan orang lain.


Mentari juga sadar dengan kondisinya saat ini. Dia hamil, tanpa seorang suami.


Tapi, waktu masih tetap berjalan. Mentari ingin menjalani hidupnya seperti orang lainnya. Dia akan menjadi ibu untuk anaknya, dia ingin membesarkan anaknya, walau tanpa suami. Walau dia dan Fadlan sudah jarang bertemu, tapi dia selalu mengingat nasihat -nasihat dari Fadlan sang dokter yang selama ini sudah mau menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2