
"Hai Bi," sapa Aira setelah dia duduk.
Fabian hanya melirik Aira sekilas. Tampaknya, Fabian merasa tidak nyaman dengan Aira setelah dia tahu, kalau selama ini Aira masih mencintainya.
"Sudah sejak tadi di sini?" tanya Aira.
"Sudah agak lama sih," gumam Fabian.
"Oh, gitu."
Fabian menatap Pak Riko lekat.
"Om. Sepertinya aku harus pulang Om," ucap Fabian.
"Pulang? lho kok pulang Bi. Kan kamu baru duduk. Om juga belum buatkan kamu minum," ucap Pak Riko.
"Aku ke sini cuma mau tahu kabar Mentari aja."
Fabian bangkit berdiri.
"Bi. Kok kamu mau pulang sih," ucap Aira.
Aira tampak sedih. Sudah senang dia ketemu Fabian, malah Fabian sudah pamit mau pulang.
"Iya Ra. Aku harus pulang sekarang," ucap Fabian.
"Kenapa nggak nanti aja pulangnya. Kita ngobrol-ngobrol dulu aja di sini," ucap Aira.
Pak Riko mengikuti Fabian berdiri.
"Iya Bi. Udah sore. Kasihan istri kamu. Pasti dia sudah nungguin kamu di rumah," ucap Pak Riko yang membuat Aira terkejut.
"Istri? maksud Om, Fabian itu sudah punya istri? bukankah pernikahannya dengan Mentari gagal?" tanya Aira.
Aira kemudian menatap tajam ke arah Fabian.
"Bi. Apa benar kamu udah punya istri?" tanya Aira pada Fabian.
Fabian hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Aira.
"Iya Aira. Fabian itu sudah punya istri. Dan Syanum namanya," jelas Pak Riko yang mewakili Fabian menjawab pertanyaan Fabian.
"Syanum? siapa Syanum?" Aira menatap Pak Riko dan Fabian bergantian.
Namun, mereka berdua tidak ada yang mau menjelaskan pada Aira siapa sebenarnya Syanum.
"Ya udah ya Ra. Aku pulang dulu," ucap Fabian.
Tanpa menunggu waktu lama lagi,
Fabian kemudian mencium punggung tangan Pak Riko.
"Pulang dulu ya Om. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam. Hati-hati Fabian."
Fabian ke luar dari rumah Pak Riko. Sementara Aira masih belum mengerti apa maksud semua ini. Fabian tidak pernah cerita apa-apa padanya. Sejak tadi, Aira masih bengong.
Pak Riko kembali duduk dan menatap ponakannya.
"Kenapa Ra," tanya Pak Riko yang melihat Aira tampak masih kebingungan.
"Om. Emang benar ya kalau Fabian itu sudah punya istri? dan siapa istri Fabian itu?" Aira tampak penasaran.
"Namanya Syanum. Dia adalah wanita yang menjadi pilihan Pak Damar untuk dijadikan pengantin pengganti saat Mentari kabur."
__ADS_1
"Kok bisa gitu sih. Bagaimana ceritanya Om? kenapa Fabian mau sama si siapa itu... Syanum."
Pak Riko tersenyum.
"Yah, mungkin karena jodoh Fabian itu Syanum. Dan Fabian tidak berjodoh dengan Mentari."
"Kok bisa gitu."
"Semua item sudah takdir Aira." Pak Riko kembali duduk.
'Ih... nyebelin banget sih. Tahu gitu, aku nggak usah pulang deh ke sini. Ngapain aku pulang, kalau ujung-ujungnya, Fabian itu ternyata sudah punya istri. Tapi, aku nggak boleh nyerah untuk mendapatkan hati Fabian. Aku yakin, kalau Fabian menikah dengan dengan wanita itu karena terpaksa. Dan aku yakin, Fabian itu tidak pernah cinta sama Syanum. Tapi, seperti apa ya Syanum itu. Aku jadi penasaran.' batin Aira.
"Ra," ucap Pak Riko yang membuat Aira terkejut.
"Eh, iya Om. Ada apa?"
"Kenapa kamu bengong? lagi mikirin apa sih?"
"Oh, hehe ... aku nggak lagi mikirin apa-apa kok Om."
"Kapan kamu pulang dari luar negeri?"
"Udah lama juga sih Om. Sudah hampir tiga mingguan lah Om."
"Kenapa kamu nggak langsung main ke sini? kamu lagi main di sini?" tanya Pak Riko..
"Nggak Om. Rencananya, aku itu mau menetap tinggal di sini. Karena aku kan udah lulus kuliah Om. Pengin cari kerja yang dekat aja di sini. Buat bantu-bantu Mama."
"Oh..." Pak Riko manggut-manggut.
"Sudah tiga minggu kok kamu baru main ke sini sih. Dan nggak ngasih kabar apa-apa sama Om. Kenapa Ra?"
"Aku masih sibuk sih Om. Karena sampai ke Indonesia, Mama malah sakit. Mungkin cuaca di sini kurang enak. Karena kadang panas, kadang hujan. Nggak menentu."
"Iya. Tapi kenapa Mama kamu nggak pernah ngabarin Om sejak sampai ke sini."
"Kamu mau minum apa Ra?"
"Nggak usah repot-repot Om. Aku cuma mau bawain Om oleh-oleh."
Aira kemudian memberikan bingkisan pada Omnya.
"Apa ini Ra?" tanya Pak Riko.
"Nanti aja membukanya Om."'
"Ya udah deh."
"Itu cuma kue-kue aja kok."
Pak Riko meletakan bingkisan dari Aira di sampingnya duduk.
"Makasih ya Ra. Untuk oleh-olehnya," ucap Pak Riko
***
Sesampai di rumahnya, Fabian memarkirkan mobilnya di garasi. Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Fabian menatap ke sekeliling. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Rumah sore ini tampak sepi. Entah kemana perginya orang-orang rumah. Mungkin mereka ada di kamar mereka masing-masing.
"Kemana Syanum ya. Biasanya, setiap aku pulang, Syanum selalu menyambut kepulanganku. Tapi, sekarang di mana dia." Fabian mengedarkan pandangannya.
Namun, setelah dia tidak melihat Syanum, Fabian melangkah ke lantai atas. Dia melangkah sampai di depan pintu kamarnya.
Pelan-pelan, Fabian membuka pintu. Fabian terkejut saat melihat Syanum tertidur di sofa dengan wajah yang tertutup oleh majalah. Mungkin dia ketiduran saat sedang membaca majalah.
__ADS_1
Fabian meletakan tasnya. Setelah itu dia membuka dasinya. Fabian melangkah ke arah Syanum untuk membangunkan Syanum.
"Ah, kasihan juga kalau dia harus dibangunin. Tapi, kenapa dia harus tidur di sini sih. Kenapa dia nggak tidur di tempat tidur saja."
Tanpa banyak berfikir, Fabian kemudian meletakan majalah Syanum di atas meja. Setelah itu dia mengangkat tubuh Syanum dan membaringkan Syanum di atas tempat tidurnya. Fabian kemudian menyelimuti Syanum dengan selimut.
"Ah, aku mau mandi, tapi nggak ada yang nyiapin baju. Syanumnya tidur. Aku juga lapar. Tapi, Syanum juga tidur, nggak bisa ngambilin aku makan.Ah, nggak usah mandi deh. Tunggu Syanum bangun aja."
Fabian kemudian melangkah ke luar dari kamarnya. Dia turun ke bawah menuruni anak tangga. Sesampai di ruang tengah, Fabian menghentikan langkahnya.
"Fabian. Kamu kenapa baru nyampe? padahal kamu dan papa, duluan kamu pulangnya?" tanya Pak Damar.
"Biasalah Pa, jalanan macet." Fabian melangkah ke arah ayahnya dan duduk di sisi ayahnya.
"Ada yang pengin papa bicarakan Bi," ucap Pak Damar tanpa banyak basa-basi.
"Soal apa?" Fabian menatap lekat ayahnya.
"Papa punya voucher gratis untuk kamu dan Syanum."
"Voucher apa Pa?"
"Voucher menginap gratis di Bali selama dua malam. Apa kamu mau? sekalian bulan madu."
Fabian mengernyitkan alisnya.
"Bulan madu sama Syanum?"
"Iya Bi. Namanya pengantin baru, apa kamu nggak mau bulan madu? mumpung ada gratisan ini Bi. Kamu bisa sepuasnya mengajak istri kamu jalan-jalan."
"Aku nggak mau Pa kalau pergi hanya berdua saja dengan Syanum."
"Kenapa Bi? kalian itu kan pengantin baru. Kamu pasti butuh refreshing juga kan. Nggak melulu harus ngurusin pekerjaan."
"Tapi aku nggak mau Pa. Aku nggak mau bulan madu."
"Kamu harus mau! dan kamu tidak boleh menentang keinginan Papa."
"Tapi Pa..."
"Bi. Nurut ajalah. Sekali-kali kamu itu ngajak Syanum ke Bali. Syanum kan nggak pernah ke Bali," ucap Bu Reva sembari melangkah dan duduk di sisi suaminya.
"Kalian ini kenapa sih. Selalu saja memaksakan kehendak kalian sendiri. Belum tentu juga kan Syanum mau ikut ke Bali."
"Syanum pasti maulah Bi. Kalian pergi ke sana kan juga untuk refreshing," ucap Bu Reva lagi.
Fabian menghela nafas dalam. Dia tampak kesal dengan ke dua orang tuanya.
"Terserah kalian mau apa. Aku lagi capek. Aku mau kembali ke kamar."
Fabian buru-buru melangkah pergi meninggalkan ruang tengah. Dia melangkah kembali untuk ke kamar.
Fabian masuk ke dalam kamar. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang membuat Syanum terganggu tidurnya.
"Tuan muda, kamu udah pulang?" tanya Syanum sembari beringsut duduk.
Fabian menoleh ke arah Syanum.
"Syanum. Kenapa kamu bangun?" tanya Fabian.
"Jam berapa ini?"
"Udah maghrib."
"Oh iya! jadi aku ketiduran. Aku belum sholat lagi."
__ADS_1
Syanum buru-buru melangkah turun dari ranjangnya. Dia kemudian langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melakukan rutinitasnya setiap maghrib.