Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Keromantisan sore ini.


__ADS_3

Mario mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ke sampingnya berbaring. Dilihatnya, ibu dan ayahnya sudah berada di sisinya.


"Bunda, ayah... aku ada di mana?" tanya Mario dengan nada yang masih melemah.


Bu Adela tersenyum.


"Kamu sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat. Barusan kamu habis operasi Mario," ucap Bu Adela menjelaskan.


"Kepala aku sakit banget Bunda." Mario tampak masih memegangi kepalanya yang masih penuh perban.


"Iya Nak. Kamu yang sabar ya Nak. Bunda dan ayah, akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan kamu. Jika terpaksa rumah sakit ini, tidak bisa memberikan penanganan yang terbaik, bunda juga ingin membawa kamu untuk berobat ke luar negeri," ucap Bu Adela serius.


"Untunglah Mario anakku tidak amnesia. Aku takut, dia akan hilang ingatan dan tidak mengenali keluarganya," gumam Pak Sofyan.


Pak Sofyan sebenarnya takut, kalau benturan keras yang mengenai kepala Mario, akan membuat Mario menjadi amnesia dan kehilangan ingatannya. Tapi Pak Sofyan bersyukur, karena Mario tidak hilang ingatan. Karena dia masih mengenali bundanya.


"Ayo masuk...!" pinta Bu Novi yang sudah memaksa Mentari untuk masuk ke dalam ruangan Mario.


"Aku nggak mau masuk! please deh Tan, jangan paksa aku untuk ketemu sama Mario," ucap Mentari.


"Tapi kamu harus temui dia. Kamu harus minta maaf sama dia karena kamu sudah sembarang kalau bicara. Cepat masuk!"


"Apa sih Tan. Lepaskan aku...!"


Bu Novi menggandeng tangan Mentari untuk masuk ke dalam ruangan Mario. Dia tidak pernah mau melepaskan Mentari sebelum Mentari bertemu dengan Mario.


Mario terkejut saat pandangannya tertuju pada Mentari yang sekarang sudah ada di depan pintu.


"Mentari," ucap Mario.


Bu Adela dan Pak Sofyan menoleh ke belakang. Tampak Mentari yang masih menggendong anaknya masuk ke dalam ruangan Mario.


Bu Adela mendekat ke arah Mentari.


"Sini Mentari. Kamu mau lihat keadaan Mario kan?" tanya Bu Adela.


Bu Adela memegang bahu Mentari dan menggandengnya untuk mendekat ke arah Mario.


Mentari membuang wajahnya ke arah lain. Muak sekali dia jika harus menatap Mario lelaki yang sudah pernah menodainya hingga sampai membuatnya hamil.


'Ih, siapa juga yang mau melihat Mario. Muak banget rasanya aku menatap wajahnya lagi,' batin Mentari.


"Mario. Lihatlah! siapa yang datang, ini Mentari. Kamu pasti masih ingat kan dengan Mentari," ucap Bu Adela menunjukkan Mentari pada Mario.


"Bunda. Maafkan aku. Karena selama ini, aku sudah menjadi anak yang durhaka sama bunda. Maafkan aku bunda," ucap Mario penuh penyesalan. Matanya sudah berkaca-kaca. Air matanya sudah menggenang di kedua sudut matanya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mario. Bunda udah maafin kamu kok. Asal, kamu mau berubah. Kamu mau menjadi orang baik," ucap Bu Adela sembari mengusap cairan bening yang ada di mata anaknya.


"Kamu harus berubah Mario. Hilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk kamu itu! " ucap Pak Sofyan.


"Iya bunda, ayah, aku janji, aku akan berubah," ucap Mario.


"Ayah sudah memaafkan semua kesalahan kamu Mario.Dan ayah, akan bawa kamu pulang kembali ke rumah. Dan kamu juga harus minta maaf sama Mentari. Karena kamu sudah membuatnya susah selama ini. Kamu harus tanggung jawab dengan semua perbuatan kamu selama ini sama dia Mario," ucap Pak Sofyan panjang lebar.


"Iya Ayah. Sekali lagi Mario mau minta maaf sama ayah dan bunda karena Mario sudah menjadi anak yang nakal dan susah untuk di atur. Mario menyesal. Dan mungkin ini adalah azab dari Tuhan untuk aku, karena aku sudah durhaka sama kalian."


"Iya. Bunda seneng, karena kamu sudah sadar Nak."


'Halah, Mario aja dipercaya. Mana pernah sih, dia menepati janji. Dari dulu kalau berjanji, pasti selalu dia ingkari. Setelah sembuh aku yakin, kalau dia akan berbuat jahat lagi. Mungkin saja, dia akan kembali ke jalanan untuk menjadi seorang begal. Bersama teman-temannya itu.' batin Mentari.


****


Sore ini, Syanum dan Fabian masih berada di dalam kamarnya. Sejak tadi, Syanum masih menatap ke luar jendela kamarnya. Sementara Fabian, masih berbaring menemani anaknya yang ada di atas ranjangnya.


Fabian sejak tadi masih menatap istrinya.


"Kenapa lagi dengan Syanum. Sejak tadi, dia diam aja. Lagi mikirin apa sih?" gumam Fabian.


Fabian beringsut duduk. Dia turun dari tempat tidurnya dan melangkah mendekat ke arah Syanum.


"Mas, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Syanum sembari memegang tangan kekar suaminya.


"Aku cuma pengin peluk kamu sayang. Nggak apa-apa kan?" bisik Fabian tepat di dekat telinga Syanum.


"Nggak apa-apa sih. Tapi, kamu jangan minta yang aneh-aneh ya. Aku masih dalam keadaan nifas Mas."


"Aku tahu. Aku nggak mau minta yang aneh-aneh. Aku cuma ingin dekat terus sama kamu seperti ini," ucap Fabian yang sudah meletakan dagunya di atas bahu Syanum.


Mereka sama-sama menatap ke depan.


"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?" tanya Fabian.


"Aku cuma lagi ke ingat sama ayah dan ibu aku Mas," jawab Syanum.


"Kamu ke ingat mereka?"


"Iya. Aku kangen mereka. Seandainya mereka masih hidup, pasti mereka akan sangat bahagia melihat aku punya bayi."


Fabian melepas pelukannya. Dia kemudian memutar tubuh Syanum dan menghadapkan tubuh Syanum ke arahnya.


Fabian menatap Syanum lekat. Begitu juga dengan Syanum yang tidak berkedip saat menatap suaminya.

__ADS_1


Fabian meraih tangan Syanum dan menempelkannya ke dadanya.


"Apakah kamu bisa merasakan debaran di dada aku Sayang?" tanya Fabian.


Syanum tersenyum dan mengangguk.


"Iya. Aku bisa merasakannya Mas."


"Kamu percaya nggak, kalau sekarang aku sudah benar-benar jatuh cinta pada kamu?" tanya Fabian lagi.


"Sejak kapan, kamu jatuh cinta sama aku Mas?" Syanum menatap lekat manik mata Fabian.


"Sudah sejak dulu sayang. Sejak pertama kali aku menyentuh mu."


Syanum terkejut. Degup jantungnya semakin tidak terkendali. Apalagi saat dia mengingat malam pertamanya dengan suaminya beberapa waktu lalu. Mendadak pipi Syanum merona merah.


Walau Fabian tidak sadar dengan apa yang dia lakukan karena obat perangsang yang diberikan ibunya, namun dia masih ingat bagaimana malam itu, dia memperlakukan Syanum dengan lembut. Dan mereka melakukan dengan kerelaan hati mereka masing-masing.


"Benarkah? tapi kenapa aku nggak pernah melihat kalau kamu mencintai aku," ucap Syanum.


"Karena aku terlalu gengsi untuk mengatakannya sayang," balas Fabian.


"Terus, kapan kamu sadar akan semua perasaan kamu Mas?"


"Sewaktu kamu pergi dari kehidupan aku. Aku seperti kehilangan arah. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sejak kamu pergi. Dan semenjak aku menemukan kamu di depan apotik. Aku baru tersadar, kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu Syanum," jelas Fabian


Fabian sudah membelai lembut ke dua pipi Syanum. Dia kemudian mencium kening Syanum dan ke dua pipi Syanum dan berakhir ke bibir Syanum. Dia mencium lama bibir merah itu dengan lembut.


Syanum tidak lagi menolak sentuhan suaminya. Dia membiarkan tangan Fabian bergerilya liar pada tubuhnya. Dia juga lekas membalas ciuman itu.


Oee..Oeeek Oeekk.


Syanum dan Fabian menghentikan aktifitasnya saat mendengar suara tangisan Firen. Mereka melepas bibir mereka dengan penuh keterpaksaan.


'Ah, Firen...! menggangu saja kamu Firen. Padahal aku lagi kangen sama Mama kamu.' geram Fabian dalam hatinya.


"Sayang. Firen bangun. Kamu tenangin dia dulu sana sayang."


Syanum tersenyum.


"Iya Mas. Waktu kamu nggak tepat Mas. Maaf ya Mas."


"Iya. Kita lanjut nanti malam sayang."


Syanum kemudian mendekat ke arah Firen. Sementara Fabian masuk ke dalam kamar mandi. Bergegas untuk mandi. Karena sejak pulang kantor, dia belum mandi. Dia lebih memilih berbaring tidur di sisi Firen.

__ADS_1


__ADS_2