
"Baiklah. Terserah kamu mau ngomong apa Syanum. Silahkan kamu lakukan apa yang kamu mau,"ucap Fabian.
Ehm...ehm...
Luna berdehem.
Dia merasa pusing dengan pertengkaran Syanum dan Fabian. Telinganya juga sudah mulai panas mendengar percekcokan suami istri itu.
"Kalian kenapa sih. Kenapa harus berantem di depan bayi kalian. Kalian nggak sayang sama anak kalian?" Luna menatap tajam ke arah Syanum dan Fabian bergantian.
"Sudahlah. Aku pergi saja. Percuma aku di sini. Aku udah nggak dibutuhkan lagi di sini," Fabian kemudian pergi meninggalkan ruangan istrinya.
"Kak Syanum juga sudahlah Kak. Menurut aku, Kak Fabian itu sudah tulus minta maaf. Maafkan sajalah Kak. Dan buang sikap egois kakak itu," ucap Luna pada Syanum.
"Kasihan bayi kamu Kak. Dia masih butuh seorang ayah. Siapa tahu dengan kehadiran bayi ini, bisa merubah sikap Kak Fabian sama Kak Syanum."
"Kamu sekarang belain Fabian? Kamu sekarang ada di pihak dia?" tanya Syanum menatap Luna tajam.
"Kak Syanum. Apa salahnya sih kalau kakak kasih kesempatan Kak Fabian untuk memperbaiki diri. Untuk kali ini, aku nggak dukung keputusan Kak Syanum untuk cerai dari Kak Fabian. Karena menurut aku, Kak Fabian itu udah tulus minta maaf sama kakak dan dia sudah mau memperbaiki diri."
"Tapi aku belum percaya sama dia. Tadi Mentari ke sini. Dia bilang kalau Fabian dan Mentari masih saling mencintai. Dan kata Mentari, kalau Fabian cuma mencintai Mentari. Dia tidak mencintai aku."
"Terus, kamu percaya Kak sama Mentari? kamu lebih percaya sama wanita ular itu dari pada sama suami kamu sendiri? apa kamu nggak tahu, kalau selama ini Mentari diam-diam ingin menghancurkan rumah tangga kamu dan Kak Fabian."
Syanum mencoba untuk mencerna ucapan Luna. Selama ini Luna sudah menjadi orang terdekat Syanum yang sangat Syanum percaya. Dan sekarang Luna, sama sekali tidak mendukung Syanum untuk cerai dari Fabian.
Dulu Luna mendukung keputusan Syanum sebelum Fabian berubah. Namun sekarang Luna melihat ketulusan dalam diri Fabian. Sehingga Luna mencoba untuk membantu Fabian bersatu kembali dengan Syanum.
"Benarkah begitu?"
"Iya benar. Aku juga melihat ketulusan dalam diri Kak Fabian."
"Apa aku udah salah sudah mengusir Fabian dari sini."
"Seharusnya biarkan saja, Kak Fabian gendong anak Kakak. Kan dia juga ayahnya bayi ini. Dia masih berhak atas anak ini, sekalipun kalian sudah cerai."
"Entahlah Lun. Aku masih bingung."
****
Bu Novi menatap Mentari tajam.
"Dari mana aja kamu Mentari? Tante sudah lama sekali nunggu kamu di sini. Hampir satu jam Tante nunggu kamu tahu nggak." Bu Novi tampak kesal.
__ADS_1
Dia juga lelah, karena sejak tadi dia masih menggendong Dani.
"Maaf Tan. Aku lagi ada keperluan sebentar," ucap Mentari.
"Ya udah. Masuk! dan kita pulang!" pinta Bu Novi.
"Iya Tan."
Mentari kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia mengendarai mobilnya untuk meninggalkan rumah sakit.
Di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, tiba-tiba saja telpon Bu Novi berdering.
"Siapa yang nelpon Tan?" tanya Mentari.
"Dari ibunya Mario," jawab Bu Novi.
"Apa. Tante Adela nelpon? mau ngapain dia nelpon Tante?" tanya Mentari menatap Tantenya penuh selidik.
Beberapa hari yang lalu, Bu Adela datang ke rumah Bu Novi. Dia masih penasaran dengan ayah biologisnya Dani. Benarkah kalau Mario adalah ayah biologis dari Dani bayi Mentari.
Tanpa sepengetahuan dari Mentari, Bu Adela mengambil rambut Dani untuk keperluan tes DNA. Dia ingin membuktikan kalau ucapan Aira itu benar. Kalau Dani adalah cucunya, anak kandung Mario.
"Halo Bu Adel."
"Ada apa Bu Adel?"
"Begini Bu. Saya cuma mau memberi tahu, kalau hasil tes DAN nya sudah ke luar."
"Oh iya. Terus, apa hasilnya?"
"Hasilnya positif. Kalau Dani adalah anaknya Mario. Dia adalah cucu kandung saya."
"Oh ya? benarkah?"
"Iya Bu. Hasilnya 99% kalau Dani adalah anak kandung Mario."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ya udah. Nanti malam, saya dan suami saya akan datang ke rumah Bu Novi untuk menengok Dani."
"Iya Bu. Iya. Saya dari rumah sakit Bu. Barusan saya memeriksa Dani. Badan Dani demam. Dia panas tinggi."
"Ya ampun. Kasihan sekali Dani. Saya akan ke sana nanti malam ya Bu."
__ADS_1
"Iya. Saya dalam perjalanan pulang ini. Dari rumah sakit dan mau pulang ke rumah."
"Oh. Gitu. Ya udah. Kalau begitu, saya tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Bu Novi kemudian menutup saluran telponnya. Dia kemudian menatap ke arah Mentari.
"Kamu sekarang sudah tidak bisa menyembunyikan kebohongan itu lagi Tari," ucap Bu Novi.
"Kebohongan apa Tan?" tanya Mentari tidak mengerti.
"Barusan Tante Adel nelpon Tante. Dan dia bilang kalau hasil tes DNA Dani sudah ke luar. Dan hasilnya positif kalau Mario adalah ayah biologisnya Dani."
"Apa!" Tiba-tiba saja Mentari mengerem mobilnya secara mendadak.
"Mentari. Apa-apaan sih kamu ini. Kenapa kamu ngerem mendadak. Bagaimana kalau bayi kamu dan Tante celaka," omel Bu Novi.
Mentari menggenggam setir mobilnya kuat-kuat. Dia tampak sangat marah pada Tantenya.
"Jadi Tante sama Tante Adela melakukan tes DNA, tanpa izin dari aku. Kenapa sih Tan? kenapa!" Mentari sudah menatap tajam ke arah Bu Novi.
"Bukan Tante Mentari yang tes DNA Dani, Tapi Tante Adela. Dia penasaran dan ingin membuktikan kalau ayah kandung Dani itu Mario. Dan memang benar kenyataannya, kalau Mario adalah ayah kandungnya Dani,"jelas Bu Novi.
"Tante. Dani itu bayi aku. Seharusnya sebelum Tante Adel melakukan tes DNA itu, Tante bilang dulu sama aku. Izin dulu sama aku. Kenapa sih Tante harus menyembunyikan ini dari aku."
Bu Novi diam. Sepertinya dia tidak mau terlalu menanggapi kemarahan Mentari.
Beberapa saat kemudian, Mentari dan Bu Novi turun dari mobil mereka setelah mereka sampai di depan rumahnya.
Mentari dan Bu Novi melangkah masuk ke dalam rumah. Mentari langsung masuk ke kamarnya. Sementara Bu Novi, menghempaskan tubuhnya dan duduk di ruang tengah.
Sesampai di kamarnya, Mentari melangkah ke depan cermin. Dia kemudian menatap pantulan dirinya yang ada di depan cermin.
"Kenapa Fabian berubah sama aku. Kenapa dia terlihat seperti membenci aku. Apa jangan-jangan Syanum sudah pelet Fabian, sehingga dia sekarang jadi mencintai Syanum. Guna-guna apa yang sudah Wanita licik itu berikan pada kekasihku."
Mentari tiba-tiba saja membuang benda apa saja yang ada di atas meja riasnya. Mentari sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Dia mengamuk di kamarnya.
"Brengsek kau Syanum...! kamu sudah merebut Fabian dari aku. Sekarang kamu mau merebut cinta Fabian. Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Cinta Fabian hanya untuk aku. Bukan untuk Aira, ataupun kamu Syanum...!"
Bu Novi yang sedang meletakan Dani ke dalam boks, terkejut saat mendengar suara dari dalam kamar Mentari. Begitu juga Dani sang bayi yang tiba-tiba saja menangis. Sepertinya dia kaget dengan suara itu.
Oek...oek..oek...
__ADS_1
"Aku benci kamu Syanum...! aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia bersama Fabian. Aku sekarang sudah hancur karena kehilangan cintaku. Kamu juga harus hancur Syanum. Kamu tidak boleh bahagia di atas penderitaanku..!" teriak Mentari.