Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Tamu di sore hari


__ADS_3

"Suara apa itu. Kenapa dengan Mentari," gumam Bu Novi.


Setelah menenangkan Dani kembali, Bu Novi kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar, dan melangkah ke kamar Mentari.


Dia buru-buru membuka pintu kamar Mentari.Tampak kamar Mentari acak-acakan seperti kapal pecah.


"Apa-apaan ini Mentari. Kenapa dengan kamu? kenapa kamu buang semua barang-barang di kamar ini."


Mentari menatap Bu Novi tajam.


"Tuhan itu nggak adil Tan. Dia sudah memberikan kebahagiaan untuk gadis kampung itu. Tapi Tuhan tidak pernah mau memberikan kebahagiaan untuk aku," ucap Mentari.


Bu Novi sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Mentari.


"Mentari. Apa maksud kamu? siapa wanita yang kamu maksud?" tanya Bu Novi.


"Sudahlah. Tante nggak usah ikut campur. Karena Tante nggak akan pernah bisa merasakan perasaan aku."


Bu Novi mendekat ke arah Mentari.


"Mentari. Kenapa kamu mengamuk? kalau kamu lagi marah dan emosi? bukan begini cara kamu untuk menyelesaikannya."


"Lalu, aku harus bagaimana Tan? aku capek Tan. Aku capek hidup seperti ini terus. Aku pengin mati aja Tan kalau begini terus."


"Istighfar Mentari. Sana ke kamar mandi. Ambil wudhu dan sholat. Biar hati kamu adem."


Mentari menggeleng. "Aku nggak mau."


"Ya udah. Terserah kamu Mentari, kalau kamu nggak mau diingatkan. Tapi nanti, kamu beresin semua barang-barang Tante yang sudah kamu pecahin. Nanti ke buru Aira pulang dan marah-marah sama kamu. Tante pusing, kalau melihat kalian berantem terus."


Bu Novi melangkah pergi meninggalkan kamar Mentari.


"Kenapa sih. Kenapa sekarang Abi jauhin aku. Padahal aku masih butuh dia untuk bisa mensupport aku. Aku nggak tahu, harus bagaimana lagi sekarang. Aku pusing banget. Apalagi kalau aku harus mendengar tangisan Dani setiap hari. Bisa mau pecah ini kepala. Ingin sekali aku buang anak itu."


****


Tin tin tin...


Suara klakson dari luar rumah berbunyi. Aira turun dari mobilnya dan membuka gerbang rumahnya sendiri. Karena sejak tadi, Bu Novi dan Mentari tidak ada yang ke luar.


Aira kemudian masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya sampai ke garasi rumahnya. Sebelum Aira sampai di teras, deru suara mobil terdengar.


Aira menengok ke belakang.


"Mobil siapa itu yang datang," gumam Aira yang masih tampak asing dengan mobil yang ada di depan.


Aira melangkah ke arah mobil itu. Beberapa saat kemudian, seorang wanita dan seorang lelaki tampak turun dari mobilnya.


Aira terkejut saat melihat ke dua orang itu. Mereka adalah Bu Adela dan Pak Sofyan, yang tak lain adalah orang tua Mario. Aira langsung buru-buru melangkah menghampiri mereka.


"Selamat sore, Om, Tante," ucap Aira.


Bu Adela dan Pak Sofyan tersenyum.


"Selamat sore. Bu Novi ada di dalam?" tanya Bu Adela.


"Sepertinya sih Mama ada di dalam Om, Tan. Aku juga baru pulang kerja," jawab Aira.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi, Aira mencium punggung tangan ke dua orang tua Mario.


"Ayo masuk Tan, Om!" pinta Aira.


"Iya," ucap Bu Adela.


Bu Adela dan Pak Sofyan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Bu Novi setelah Aira mempersilahkan mereka masuk.


"Duduk dulu Om, Tan. Aku akan panggilkan mama. Sepertinya, mama ada di kamarnya."


"Iya."


Ke dua orang tua Mario kemudian duduk di ruang tamu, setelah Aira mempersilahkan mereka untuk duduk.


Aira melangkah ke arah kamar ibunya. Bu Novi tampak tidak ada di kamarnya.


"Kemana ya Mama. Kok cuma Dani doang yang ada di kamar. Kenapa mama tinggalin Dani sendiri," ucap Aira.


Aira kemudian mencari ibunya ke dapur.


"Mama...! Mama...!" seru Aira.


Beberapa saat kemudian, Bu Novi melangkah mendekat ke arah Aira.


"Ada apa Ra?" tanya Bu Novi.


"Mama kemana aja sih? tuh di depan ada tamu," ucap Aira.


"Mama baru beres-beres di kamar Mentari Ra."


"Ma. Mau-maunya sih, Mama itu disuruh-suruh Mentari. Suruh dia aja yang bersihin dan beresin kamarnya sendiri. Kenapa harus mama sih yang beresin. Aira nggak suka ya, Mama di suruh-suruh terus sama Mentari. Kan ini rumah Mama dan Mentari cuma numpang di sini."


"Itu. Orang tuanya Mario."


"Oh. Bu Adela?"


"Iya. Sama suaminya juga."


"Ya udah. Kamu buatkan minum Ra."


"Iya Ma. Tapi aku mau ganti baju dulu."


Bu Novi kemudian melangkah ke ruang tamu. Sementara Aira, melangkah ke arah kamarnya untuk berganti baju.


"Eh, Bu Adela," ucap Bu Novi.


Dia mendekat ke arah Bu Adela dan Pak Sofyan dan bersalaman dengan ke dua orang itu. Bu Novi kemudian duduk berbaur dengan mereka.


"Oh iya. Ke mana Dani?" tanya Bu Adela.


"Dia ada di kamar," jawab Bu Novi.


"Oh."


"Kalau Mentari?" tanya Bu Adela lagi.


Bu Novi diam. Bu Novi sekarang tidak tahu Mentari ada di mana. Setelah mengamuk di kamarnya. Dia pergi, dan entah ke mana.

__ADS_1


"Mentari lagi pergi Bu Adela," jawab Bu Novi.


"Pergi ke mana?" tanya Bu Adela lagi.


"Saya juga nggak tahu. Dia memang suka pergi begitu aja tanpa pamit dulu."


"Oh. Jadi Dani sering ditinggal-tinggal ya."


"Iya. Nggak apa-apa. Ada saya juga di sini."


Setelah berganti baju, Aira kemudian melangkah untuk ke dapur. Dia membuatkan minuman hangat untuk orang tua Mario. Setelah itu dia membawa tiga cangkir teh hangat ke ruang tamu.


Aira meletakan teh hangat itu di atas meja.


"Makasih Nak," ucap Pak Sofyan.


"Iya. Sama-sama Om," ucap Aira.


Aira kemudian duduk di sisi ibunya.


"Saya boleh nggak melihat Dani?" tanya Bu Adela.


Bu Novi menatap Aira.


"Aira. Tolong bawa Dani ke sini!" Biarkan dia bertemu dengan Oma dan Opanya."


Aira mengangguk.


Setelah itu, Aira melangkah untuk mengambil Dani di kamar. Setelah itu, dia melangkah untuk kembali ke ruang tamu.


"Nah, ini Dani."


Bu Adela dan Pak Sofyan tersenyum dan saling menatap.


"Boleh Bu, saya gendong Dani?" tanya Bu Pak Sofyan.


"Iya Tentu."


Pak Sofyan kemudian mengajak Dani ke pangkuannya. Dia menatap Dani lekat.


"Ini cucu kita Bun?" tanya Pak Sofyan menatap ke arah istrinya.


"Iya Yah. Dia memang mirip Mario ya, waktu dia kecil," ucap Bu Adela.


"Iya Bun."


"Ayah harus cari Mario. Suruh dia pulang."


"Iya. Suruh aja dia nikahin Mentari. Dia harus tanggung jawab dengan Mentari," ucap Aira


"Iya Aira. Tante juga mikir gitu. Mentari sekarang itu sudah tidak punya siapa-siapa. Kalau aja dia mau menikah dengan Mario, pasti Tante akan seneng banget. Tante akan ajak Mentari untuk tinggal di rumah kami bersama anaknya juga."


'Iya. Dan nggak nyusahin aku dan mama lagi' lanjut Aira dalam hati.


Ring ring ring...


Suara ponsel Pak Sofyan tiba-tiba saja berdering.

__ADS_1


"Bun. Ini bunda pegang dulu Dani, Ayah mau angkat telpon dulu," ucap Pak Sofyan sembari memberikan Dani pada istrinya.


__ADS_2