Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Season 2 Pulang ke rumah


__ADS_3

Di sela-sela Fabian dan Syanum ngobrol, tiba-tiba Luna datang dan masuk ke dalam ruangan Syanum.


"Ciee yang udah baikan," ledek Luna pada ke dua pasangan Syanum dan Fabian.


Syanum dan Fabian tersenyum.


"Hari ini aku udah boleh pulang Lun," ucap Syanum.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut seneng dengarnya. Kak Syanum udah melahirkan secara normal, dan bayinya juga sehat walaupun dia terlahir prematur. Dan sekarang, kalian juga sudah akur. Enak kan kalau seperti ini." Luna tersenyum.


Dia ikut bahagia melihat kebahagiaan Syanum dan Fabian.


"Lun. Aku mau pulang ikut Mas Fabian," ucap Syanum.


"Jadi kakak nggak mau tinggal di rumah aku lagi?" tanya Luna.


Syanum menggeleng. "Nggaklah Lun. Aku kan punya suami. Dan sekarang aku juga repot ada bayi. Maaf ya, karena aku sudah nggak bisa bantuin kamu lagi di butik," ucap Syanum.


Luna tampak sedih. Di tengah-tengah kebahagiaannya, terbersit kesedihan di hatinya.


"Yah, jadi nggak seru deh, nggak ada Kak Syanum di rumah. Aku jadi ngga ada teman. Cuma Kak Ryan doang," ucap Luna dengan wajah ditekuk.


"Kamu kan bisa main ke tempat kami Lun. Kayak nggak biasanya aja," ucap Fabian.


"Iya sih. Oh iya. Kak Dila dan Tante, nggak datang ke sini?" tanya Luna.


"Semalam Mama dan papa juga ada di sini kok. Tapi karena Papa mau ke kantor, tadi subuh dia pulang bareng Mama," jelas Fabian.


Luna menatap bayi yang ada di dalam gendongan Syanum.


"Jadi Kak Abi udah boleh nih, gendong bayi Kak Syanum?" Luna menatap Syanum lekat.


Fabian dan Syanum saling menatap.


"Udah boleh dong. Dia kan ayah kandungnya. Sekarang aku sadar, kalau kemarin-kemarin aku ini udah egois karena mau bawa Firen ke kampung. Tapi aku pikir-pikir lagi, lebih baik aku di sini. Banyak yang akan jagain bayi aku. Ada Mama, Kak Dila, Mbak Asih dan Mbak Fani. Sementara di kampung, aku cuma punya nenek doang," ucap Syanum panjang lebar.


"Bagus dong kalau begitu. Tunggu dulu. Firen? kalian sudah memberi nama anak kalian?" tanya Luna menatap Fabian dan Syanum bergantian.


"Iya. Dan Firen namanya," jelas Syanum.


"Firen? nama yang cukup bagus." Luna manggut-manggut.


Siang ini, Fabian sudah mengepaki semua baju-baju Syanum dan Firen ke dalam tas. Hari ini, Syanum sudah di izinkan pulang.


"Mas, udah nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Syanum pada suaminya.


"Nggak ada sayang," jawab Fabian.


"Lun. Kamu mau kan bantu aku untuk gendong Firen. Aku mau bawa tas. Dan dorong kursi roda Syanum!" pinta Fabian.


"Siap Kak."


Luna kemudian mengambil Firen yang ada di dalam boks bayi. Luna mengangkat tubuh Firen dari dalam boks bayi.


"Sayang. Ayo ikut Tante," ucap Luna.


Setelah semua siap, Fabian mendorong kursi roda Syanum sampai ke depan rumah sakit. Sementara Luna yang menggendong Firen mengikuti Fabian di belakangnya.

__ADS_1


"Syanum...! kamu sudah mau pulang?" tanya dokter Anita melangkah ke arah Syanum.


"Eh dokter." Syanum tersenyum pada dokter Anita.


"Tadi aku mau ke ruangan kamu. Tapi ternyata kamu udah mau pulang," ucap Dokter Anita.


"Ada apa Dok?" tanya Syanum.


Dokter Anita memberikan bingkisan kepada Syanum.


"Ini hadiah buat kamu dan bayi kamu." Dokter Anita menyodorkan bingkisan pada Syanum.


"Lho Dok. Repot-repot amat Dok," ucap Syanum menerima bingkisan itu.


"Nggak apa-apa. Kalau aku ke rumah kamu, aku belum tentu ada waktu. Karena jadwal tugasku di rumah sakit ini, juga sangat banyak," ucap Dokter Anita.


"Oh. Gitu ya Dok. Makasih banyak ya Dok."


"Iya sama-sama Syanum. Oh iya. Jangan lupa ya. Minum obat yang teratur. Jaga kesehatan kamu dan bayi kamu. Sudah aku kasih tahu kan, cara merawat bayi baru lahir. Nanti kamu pelajari lagi buku dari saya itu. Dan kalau ada keluhan apapun pada kamu dan bayi kamu, hubungi saya atau datang saja ke sini." pesan dokter Anita sebelum Syanum pergi.


"Iya Dok. Makasih banyak, karena selama ini Dokter yang sudah mau menjadi dokter terbaik saya selama ini. Jadi, aku masih harus sering kontrol ya Dok?"


"Iya dong. Nanti kamu datang lagi ke sini, sekalian bawa bayi kamu untuk imunisasi."


"Iya Dok."


"Ya udah. Hati-hati di jalan ya."


Syanum mengangguk.


Fabian membantu Syanum untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia melipat kursi roda Syanum dan dia taruh di belakang mobil.


"Masuk Lun. Kamu duduk di belakang sama Firen!" pinta Fabian.


"Firen biar sama aku aja Mas," ucap Syanum.


"Jangan sayang. Biar Firen sama Luna. Kasihan kamu, kalau harus gendong Firen terus. Kamu kan masih lemah."


"Iya deh Mas."


Luna kemudian duduk di belakang Syanum. Sementara Syanum duduk di depan bersama suaminya. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Fabian kemudian menyalakan mesin mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit dan menuju ke rumahnya.


Sesampai di depan rumah, Fabian kemudian masuk ke dalam garasi rumahnya. Dia kemudian menghentikan laju mobilnya.


Fabian turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Luna.


"Turun Lun!" pinta Fabian.


"Iya."


Setelah Luna turun, giliran Fabian membantu istrinya untuk turun. Fabian kemudian menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam." Terdengar ucapan salam dari dalam rumah. Mbak Asih buru-buru melangkah menghampiri Syanum.


Mbak Asih tersenyum saat melihat kedatangan Syanum dan bayinya.

__ADS_1


"Non Syanum. Akhirnya Non pulang juga ke rumah ini." Mbak Asih buru-buru memeluk Syanum erat.


"Non Syanum. Mbak kangen banget sama Non Syanum. Ke mana aja Non Syanum selama ini?" tanya Mbak Asih menatap lekat wajah Syanum.


Syanum tersenyum.


"Aku nggak dari mana-mana kok. Aku ada di rumah Luna," jawab Syanum.


"Mbak Asih. Apa kamar kami sudah Mbak Asih bersihkan dan rapikan?" tanya Fabian.


"Udah Tuan muda."


"Apa barang-barang Firen sudah dipindahkan ke kamarku?"


"Sudah Tuan muda. Semua perintah dari Tuan muda, sudah Mbak kerjakan."


"Bagus."


Fabian merangkul bahu Syanum.


"Sayang. Kita langsung ke kamar ya."


"Iya Mas."


Fabian membawa Syanum ke kamarnya. Sementara Luna menghentikan langkahnya saat Mbak Asih menghadangnya.


"Ada apa Mbak Asih?" tanya Luna.


"Saya ingin gendong bayinya Non Syanum." Mbak Asih masih menatap ke arah bayi Syanum.


"Oh iya. Ini Mbak. Kebetulan aku juga udah mau pulang."


Luna menyerahkan bayi itu pada Mbak Asih.


"Kok pulang Non? kan baru nyampe. Nggak duduk dulu?" tanya Mbak Asih.


"Nggak Mbak Asih. Kan aku sudah sejak tadi pagi menemani Syanum di rumah sakit,"jawab Luna.


"Oh."


"Kalau gitu, aku mau pamitan dulu sama Syanum."


Luna kemudian melangkah ke kamar Syanum. Syanum sudah tampak berbaring di atas tempat tidurnya. Sementara di sisinya, ada Fabian yang masih mengajak Syanum ngobrol.


"Lho. Mana Firen?" tanya Syanum.


"Firen ada sama Mbak Asih," jawab Luna.


"Oh."


"Kak Abi, Kak Syanum, aku mau pamit pulang dulu ya. Aku masih ada banyak urusan di butik."


"Iya. Nggak apa-apa kalau kamu mau pulang. Makasih ya udah menyempatkan waktunya untuk mengurus aku. Maafkan juga, sudah terlalu banyak merepotkan kamu," ucap Syanum.


"Iya Kak."


Luna kemudian melangkah ke luar dari kamar Syanum. Setelah berpamitan pada Syanum dan Fabian, Luna memutuskan untuk ke butiknya kembali.

__ADS_1


__ADS_2