Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 8


__ADS_3

...Nabi Muhammad Shallahu'alaihi Wa Sallam bersabda :...


..." Hendaklah kalian mengerjakan sholat malam, karena itu merupakan kebiasaan orang sholeh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan....


...( HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dalam Shahihul Jami')...


...Happy Reading...


Alarm berbunyi membangunkan Nafisah. Nafisah berjalan menuju kamar mandi untuk wudhu. Memang sudah menjadi kebiasaan Nafisah bangun di sepertiga malam untuk menjalankan sholat tahajud. Nafisah menggunakan mukena pemberian ayahnya saat dia berulang tahun ke-17.


Setelah menjalankan sholat dengan khusyuk, Nafisah mengangkat tangannya memohon pertolongan kepada Allah SWT.


" Ya allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hamba memohon kepadamu bukakan hati suamiku agar ia bisa melupakan wanita yang ia pernah cintai, Fisah sadar Altaf menikahi Fisah karena keterpaksaan tapi Nafisah istri Mas Altaf yang seharusnya Mas Altaf cinta. Fisah tak mengharapkan cinta dari nya, Fisah hanya mengharapkan cinta dari mu sang maha menentukan cinta. Ya allah beri Nafisah kekuatan hati agar bisa tegar menghadapi cobaan yang kau berikan kepada Fisah, Fisah hanyalah seorang wanita yang ingin mengharapkan kebahagian. "


Nafisah tak hentinya berdoa memohon kepada sang maha kuasa dan ia tak mungkin berdoa tanpa air mata mungkin itulah salah satu hobi Nafisah setiap melakukan sesuatu pasti dengan tangisan.


Cara Nafisah mengekspresikan yang ia rasakan adalah dengan tangisan baik itu sedih maupun senang, ia tak tau mungkin ia hanyalah wanita lemah tetapi ia masih bersyukur karena masih ada allah yang mau mendengar keluh kesah nya.


Tanpa Nafisah sadar saat dia berdoa ada seseorang yang mendengarnya dan dia telah merasa bersalah karena telah menjatuhkan air mata seorang wanita apalagi itu adalah istrinya.


Altaf, Altaf bukan orang yang mampu melihat seorang wanita menangis tapi untuk saat ini ia bingung dengan dirinya yang malah membiarkan air mata di pipi istrinya jatuh.


Ego telah menguasai Altaf saat ini hingga saat dia mau mendekati Nafisah pikirannya selalu berganti seperti ia menjadi pria yang lemah tak bertanggung jawab.


" Nafisah maafkan aku yang selalu menjatuhkan air matamu. Aku tak sanggup melihat air mata mu terjatuh karena diriku yang selalu menyakitimu. Maafkan aku yang tak pernah sedikit pun membahagiakanmu. Hati ku sakit saat melihat mu menangis seperti ini, menangis tanpa mengeluh kepadaku atas kesalahanku. " Ucap Altaf dalam hati


" Tolong maafkan aku, aku akan terus menjaga mu Fisah tapi maaf jika mungkin kamu akan terus tersakiti karena ku. " Gumam nya tanpa fisah dengar.


Sedih melihat gadis yang ia sayangi menangis karena dirinya. Sungguh Altaf tak pernah menyangka akan seperti ini, gadis yang dulu selalu bahagia saat Abi nya berada di sampingnya tapi saat Altaf mengambil kewajiban Abi nya ia tak bisa membahagiakan Nafisah. Mungkin Abi di sana kecewa karena dirinya yang tak bisa menjaga anak gadis kesayangannya.


Altaf memejamkan matanya karena melihat Nafisah berdiri, ia berpura-pura tidur. Altaf tak pernah menyangka bahwa ia bisa satu atap dengan gadis ini. Gadis yang sudah dari dulu ia sayangi, Altaf sempat mengagumi Nafisah karena kesolehanya dan keteguhan hati nya dalam menghadapi masalah.


Lantunan ayat suci al-qur'an terdengar merdu di telinga Altaf. Altaf merasa hatinya tenang entahlah apa yang membuat Altaf merasa tenang, apa mungkin karena suara Nafisah yang merdu ataukah karena ayat al-qur'an nya.


Altaf membuka perlahan matanya, Altaf bangkit untuk duduk Altaf juga mau menjalankan sholat di sepertiga malam. Altaf yang sekarang tak pernah sekalipun ia bangun dan sholat di sepertiga malam, mungkin jika di ingat kapan terakhir dia menjalankannya ketika berumur 18 tahun.


Entah kenapa saat mendengar Nafisah melantunkan ayat suci al-qur'an membuat hatinya serasa tersentuh untuk menjalankan perintah Allah SWT.


Nafisah masih tak sadar jika Altaf masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu mungkin karena Nafisah yang membelakangi Altaf.


Setelah Altaf keluar barulah Nafisah tersadar saat suaminya berjalan di sampingnya.


" Mas Altaf mau sholat?." Tanya Nafisah. Altaf menjawab dengan anggukan saja, Nafisah memperhatikan suaminya yang kelihatan tampan saat air wudhu membasahi wajahnya.

__ADS_1


" Tampan. " Gumam Nafisah.


" Makasih. "


Nafisah kaget saat Altaf menjawabnya, apakah ia mendengarnya. Seketika ucapan simpel itu membuat pipi Nafisah merona malu.


Nafisah berharap semoga Altaf mudah-mudahan mendapatkan hidayah dari allah untuk bisa mencintainya.


Nafisah akan terus menunggu sampai akhir hayatnya jika allah tak kunjung menunjukan hidayah itu mungkin saja ia memang belum beruntung.


Jika ditanya apakah ia akan terus menunggu kata cinta dari Altaf, jawabannya tetap sama ia akan terus menunggu sampai kata cinta itu terucap dari bibir manis suaminya.


Setelah Nafisah sholat subuh ia membereskan mukena nya, Suaminya tak ada di rumah karena tadi Altaf lebih memilih sholat di masjid.


Nafisah melihat ke arah kasur yang masih berantakan jadi Nafisah berniat membereskannya. Setelah itu ia beralih ke luar.


Kenapa rasa sakit itu cepat terobati dengan tingkah ataupun kata-kata yang di keluarkan Altaf. Nafisah juga bingung padahal tadi dia bersedih tapi sedetik kemudian hatinya seperti orang sedang di mabuk cinta.


Mungkin karena orang yang menyakitkan nya telah mengobatinya kembali. Goresan kecil yang ada di hati Nafisah terobati karena lelaki itu. Kenapa ia cepat melupakan semuanya padahal ia juga belum tau akan kapan goresan itu datang kembali.


Nafisah melihat sebuah album kecil di atas nakas, ia tak berani membuka nya karena itu milik suaminya tapi ia ingin tahu foto siapa itu sehingga suaminya memasukkan ke dalam album dengan cover di depan yang tertulis


I LOVE YOU.


Mungkin jika ia membuka album itu melihat foto Tyas, siapa lagi si yang di cintai suaminya selain wanita bernama Tyas.


Nafisah mulai membuka satu persatu album itu ternyata benar bahwa isi album itu foto Tyas tetapi ia tetap membuka lembar demi lembaran dan setiap lembaran itu membuat hati Nafisah sakit saja. Bagaimana tidak disitu ada foto Altaf bersama Tyas yang tampak sangatlah serasi, apakah Nafisah bisa ada seperti di foto itu.


" Astagfirullah. "


Nafisah Kaget saat melihat lembaran foto di album itu, rasanya ia tak asing dengan foto itu.


" Assalamualaikum. " Salam seseorang.


Nafisah melihat sekilas dan jelas betul, dia masih tak menyangka dengan foto itu.


Album itu beralih ke tangan suaminya. Altaf mengambil cepat album itu membuat Nafisah kaget.


" Siapa suruh kamu memegang album ini. " Tanya Altaf dengan tegas, Altaf meninggikan suara membuat Nafisah terdiam.


" Maaf. " Ucap Nafisah menahan isak tangisnya.


" Saya tak butuh maaf kamu, lain kali kamu jangan pernah sentuh barang pribadi saya. " Tegas Altaf lalu membuka baju koko dan sarungnya dan ia berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


...•••...


Nafisah masih tak menyangka akan foto itu seperti dirinya karena ia tak mungkin salah lihat. Tapi kenapa Altaf mempunyai foto ia masih kecil sedangkan Nafisah mengenal Altaf belum lama meskipun orang tua mereka saling dekat tapi tidak dengan Nafisah dan Altaf mereka bertemu pertama kali sekitar 15 tahun lalu saat orang tua mereka reunian.


Nafisah terduduk diam dengan pikirannya kemana-mana.


" Oh ya Fisah, bunda memberikan hadiah pernikahan untuk kita. " Ucap Altaf yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Hadiah pernikahan?. " Tanya Nafisah yang sedang duduk di kasur sambil memegang Hp nya yang sudah beberapa hari tak dia pegang.


" Ya, tiket bulan madu ke bali. " Ucap Altaf yang to the point banget membuat wajah Nafisah seketika merona.


Bulan madu


Tak pernah terpikir olehnya apalagi itu pergi dengan Altaf. Nafisah senang sekali mendengar hadiah pemberian bunda. Bunda sangatlah baik dan pengertian.


Mudah-mudahan bulan madu ini sebagai awal dari hubungan kedua nya.


" Bali. "


" Nanti siang kita langsung berangkat jadi secepatnya kamu siapkan barang untuk kita bawa. " Ucap Altaf berlalu melanjutkan kegiatannya, ia kembali sibuk dengan laptopnya.


Nafisah turun kebawah dengan senyuman yang terus terpancar di wajahnya, segitu bahagia nya dia. Mungkin allah sudah mulai membuka hati Altaf untuk dirinya tadi saja saat ia berbicara dengan Altaf, Altaf tak sama sekali menampakkan raut wajah dinginnya. Sungguh bahagia sekali Nafisah.


" Pagi non. " Sapa Mbok Lis


" Pagi mbok, mbok masak apa. " Tanya Nafisah, melihat Nafisah tersenyum seperti ini mbok juga ikut senang.


" Belum matang si non, maaf soalnya mbok baru masak. " Ucap Mbok.


" Enggak apa-apa mbok sini biar Fisah bantu." Ucap Nafisah memulai aktivitas nya seperti biasa.


Nafisah berniat membuat makanan kesukaan Altaf. Tapi apa? ia saja tak tau makanan kesukaan Altaf, masa ia membuat bubur ayam si sedangkan Altaf tak begitu suka ayam.


Akhirnya Nafisah memutuskan untuk menanyakan saja ke bunda.


" Non kayaknya sedang bahagia sekali deh dari tadi mbok perhatikan tersenyum terus senyumannya tuh manis banget. " Tebak mbok. Mbok senang jika Nafisah tersenyum dan ia tau pasti Nafisah tersenyum karena Altaf.


" Fisah sedang bahagia saja ko mbok. " Ucap Nafisah


" Alhamdulilah non, mbok ikut senang liat non tersenyum seperti ini semoga non selalu seperti saat ini. " Ucap mbok, Nafisah langsung memeluk mbok sayang. Nafisah sangatlah menyayangi wanita paruh baya ini padahal Nafisah belum terlalu lama kenal dengan mbok tapi mereka seperti yang sudah kenal lama saja.


" Amin mbok doakan saja. " Nafisah melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2