Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 16


__ADS_3

...Jika anda selalu berbuat baik, hidup akan selalu indah meski seberapapun beratnya masalah....


...~ Nafisah Humaira...


...•...


...•...


...Happy Reading...


Ditempat ini bisa di katakan kalau Nafisah mengabdi. Nafisah mengajari anak-anak di sini agar mereka menjadi anak pintar di masa depannya.


Meskipun mengajar bukan keahlian Nafisah tapi ia terus berusaha, dia harus membagi ilmunya dan ternyata mengajari mereka tidak sesulit yang di bayangkan Nafisah.


Anak-anak di sini mempunya jiwa semangat yang luar biasa dalam belajar jadi tidak susah untuk mereka bisa mengerti. Banyak orang di luar sana yang malah malas belajar padahal mereka masih di beri badan yang sehat yang mampu untuk mengejar pendidikan.


" Assalamualaikum semuanya selamat pagi. " Sapa Nafisah.


" Waalaikumsalam. " Jawab semuanya.


" Ada yang kenal siapa aku nggak. " Tanya Nafisah dan semuanya menggelengkan kepala.


" Oke oke aku akan perkenalkan diri ku ya. Aku Nafisah panggil saja mba nafisah. Mba disini akan mengajari kalian. Disini siapa yang mau jadi anak sukses kelak. " Tanya Nafisah.


Semua anak-anak mengacungkan tangan nya


" Kalau ingin sukses harus jadi anak pintar dan sekolahnya juga nggak boleh malas-malas. " Ungkap Nafisah memulai pelajaran, mulai dari huruf abjad.


" Mba Fisah ini huruf apa?. " Tanya salah satu dari mereka.


Nafisah tersenyum dan melihat huruf yang ditunjuk anak gadis itu.


" Yang mana sayang. " Ucap Nafisah. Anak gadis itu kembali menunjuk.


" Ah itu huruf F sayang. " Ucap Nafisah.


" A, B, C, D, E, F. " Ucap gadis itu kembali menghafalkan huruf abjad yang di ajarkan Nafisah, ia tersenyum senang kepada Nafisah.


Nafisah menghampiri gadis kecil itu yang sedang berdiri di hadapan papan tulis dan mengajarinya sedangkan yang lain sibuk menghafal nya.


" Anak-anak sekarang waktunya istirahat ya, belajar nya nanti kita lanjut lagi oke. " Ucap Nafisah ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 11:35 mereka semua langsung berhamburan ke sana ke sini tapi ada juga yang masih menghafalkan hafalannya.


" Rara sayang. " Panggil Nafisah yang menghampiri Rara yang tengah duduk di bangku tak jauh dari tempatnya mengajar.


" Iya Mba Nafisah. " Jawab Rara yang tersenyum senang kemudian ia kembali melanjutkan hafalan huruf-huruf abjad. Setelah selesai ia menghafalkan sampai huruf z, Rara itu kembali melihat Nafisah.


" Ayo Rara harus Bilang apa sayang. " Tanya Nafisah saat Rara sudah bisa menghafal yang dia ajarkan


" Memangnya Rara harus bilang apa mba Nafisah. " Tanya Rara dengan polosnya.


" Rara harus bilang Alhamdulilah sayang. "

__ADS_1


" Alhamdulilah. " Rara mengikuti Nafisah, Nafisah mengelus kepala Rara dengan lembut.


" Memangnya Alhamdulilah itu artinya apa si Mba?. " Tanya Rara lagi.


Nafisah memaklumi karena di usia Rara masih banyak ingin tahu terlebih lagi mereka di sini memang masih kurang memahami agama.


" Rara sayang, Alhamdulilah itu artinya rasa syukur kita kepada Allah SWT jadi nanti kalau Rara dapat sesuatu ucapakan Alhamdulilah dan jangan lupa terima kasih juga oke. " Jelas Nafisah.


Rara mengangguk mengerti


" Assalamualaikum. " Salam seseorang, Nafisah melihat siapa yang datang


" Waalaikumsalam. " Jawab Nafisah, Nafisah merasa tidak asing dengan orang ini. Dia merasa seperti pernah ketemu sama pria ini.


" Om tampan. " Jawab Rara, ia menyalami tangan pria itu.


" Oh ya om nama aku Rara makasih ya om kemarin sudah menolong Rara sama teman Rara. " Ujar Rara cerewet padahal pria itu sama sekali tapi Rara sudah berbicara lagi.


" Iya sama sama sayang. " Jawab pria itu mengelus kepala Rara, ia baru tau kalau Rara adalah salah satu gadis yang mau di ambil oleh anak buahnya kemarin.


" Kakak Rehan tunggu Rara. " Panggil Rara yang lalu menyalami tangan Nafisah dan tangan pria itu


" Mba Nafisah, om tampan eum Rara pergi dulu ya. " Ucap Rara dan segera berlari mengikuti kakaknya yang bernama Rehan.


Nafisah menatap Rara yang sudah pergi menjauh, Nafisah tersadar lalu dia berlalu pergi.


" Nafisah. " Panggil pria itu, Nafisah melirik menatap pria itu. Dia baru ingat kalau pria yang di hadapannya sama persis dengan pria yang kemarin malam dia jumpa tapi darimana dia mengetahui namanya.


" Eum bukankah tadi gadis itu mengucap nama mu, benarkan nama kamu Nafisah?. " Tanya Pria itu balik, Nafisah mengangguk.


" Saya yang tadi malam. " Jawabnya lagi, Nafisah sudah tau dan hanya mengangguk saja.


" Ada urusan apa ya anda kemari?. " Tanya Nafisah.


" Saya hanya ingin mengantarkan ini untuk anak-anak di sini. " Ungkap pria itu.


Nafisah menatap dua buah kantong besar yang berisi makanan. Nafisah bingung bukankan tadi pria di hadapannya tidak membawa apa-apa tapi ko ini sudah ada saja, ah mungkin Nafisah tidak melihat nya saja.


" Bisakah kamu membantu saya untuk membagikan ini semua ke anak-anak di sini. " Tanya nya lagi.


Nafisah mengangguk padahal kan sudah Nafisah juga sudah memesan makanan tapi tak baik jika menolak rezeki dan mungkin makanan yang dia pesan akan dia bagikan untuk nanti sore saja.


" Anak-anak sini sayang. " Panggil Nafisah.


Anak-anak yang berada di situ pun menghampiri Nafisah dan berkumpul.


" Ada apa Mba. " Tanya salah satu dari mereka.


" Om bawain makanan untuk kalian. " Ucap pria itu, Anak-anak disini semuanya bersorak senang.


" Yey makanan. " Ucap salah satu dari mereka, Nafisah tersenyum senang melihat mereka yang tampak begitu senang dan bahagia.

__ADS_1


" Bilang apa ayo sama om nya. " Tanya Nafisah kepada mereka.


" Makasih om tampan. " Jawab mereka serentak.


Nafisah menatap pria itu ternyata bukan hanya Rara saja yang memanggilnya om tampan tapi anak-anak yang lain pun memanggilnya dengan sebutan om tampan.


Pria itu juga memberikan satu kantong untuk Nafisah setelah membagikan mereka makanan, Nafisah menatap mereka satu persatu seberapa bahagianya mereka.


Nafisah sedikit bisa melupakan masalah yang sedang ia hadapkan mungkin perlahan dia juga akan melupakan perasaannya kepada suaminya walaupun itu sangat sakit pastinya.


" Nama ku Rasyid. " Suara itu menyadarkan Nafisah dari lamunannya.


Nafisah menoleh ternyata pria itu masih di sini, pria itu menjulurkan tangannya untuk menyalami Nafisah tapi Nafisah mengangkat tangannya di depan dada lalu Nafisah tersenyum dan pria itu mengikuti Nafisah mengangkat tangannya di depan dada juga.


" Ini untukmu. " Ucapnya memberikan kotak makanan kecil, Nafisah menoleh nya.


" Makasih. " Ucap Nafisah mengambilnya meskipun dia sudah kenyang tapi sekali lagi karena ini rezeki tak boleh di tolak.


" Ya sama-sama. " Jawab pria itu.


" Kamu orang baru di sini?. " Tanya pria itu


" Iya. " Jawab Nafisah tanpa menoleh kepadanya.


" Pantas saja aku baru melihat mu di sini. " Nafisah hanya mengangguk terdiam.


Keheningan menghantui keduanya. Pria itu tampak agak canggung berbicara dengan Nafisah karena dia sebelum belum pernah dekat dengan wanita yang seperti Nafisah, eum maksudnya yang sesoleha Nafisah.


" Om tampan, makanannya masih ada tidak? soalnya adik aku kelaparan. " Tanya anak lelaki kecil itu sambil menunjuk adiknya yang sedang duduk menatap anak-anak yang lagi makan.


" Maaf sayang makanannya sudah habis, eum nanti om beliin lagi deh ya. " Jawab pria di sebelahnya sambil mengelus kepala anak lelaki kecil itu.


" Sayang, ini buat adik kamu ya. " Ucap Nafisah memberikan makanan yang tadi di kasih kepadanya.


" Makasih mba. " Anak kecil itu mengambilnya dan pergi.


" Kenapa kamu memberikan punya mu." Tanya pria itu saat anak kecil itu pergi.


" Dia lebih membutuhkan dari aku. " Ucap Nafisah.


Pria itu menatap kagum dengan Nafisah, dia berencana mengejar Nafisah bagaimana pun caranya.


" Apakah kamu mau makan di kafe dekat sini?." Tanya pria itu


Suara adzan berkumandang membuat Nafisah tak menjawab ucapan pria itu. Saat mendengar adzan Nafisah merasakan betapa bagusnya ayat Allah SWT bahkan Nafisah sampai merinding mendengarnya.


Pria itu ikut terdiam bukan karena suara adzan melainkan dia berpikir bahwa dia salah berbicara dan pasti Nafisah marah kepadanya.


" Maaf saya permisi dulu, assalamualaikum. " Ucap Nafisah setelah adzan berhenti.


" Waalaikumsalam. " Jawan pria itu menatap Nafisah yang mulai menghilang.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2