
...Nabi Muhammad Shallahu'alaihi Wa Sallam bersabda:...
..." Mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing nya ada kebaikan. Bersemangat lah untuk ( meraih ) segala hal yang bermanfaat bagimu, mohon pertolongan kepada Allah dan jangan lemah! Jika engkau tertimpa suatu musibah maka janganlah engkau berkata, 'Seandainya demikian, dan demikian. 'Akan tetapi katakanlah, ’( Ini adalah ) takdir Allah. Segala yang dia hendaki pasti terjadi. ' Karena kata 'lau' ( seandainya ) akan membuka perbuatan-perbuatan setan. "...
...( HR. Muslim, no. 2664 ; Ibnu Majah, no 79 )...
...Happy Reading...
Nafisah dan Altaf sudah sampai di Bali, mereka memesan vila yang dekat dengan laut. Pilihan Altaf memang yang terbaik, vila itu begitu luas dan sudah ada dua kamar tak tau satu lagi kamar untuk siapa.
Nafisah memilih kamar yang berada di sebelah kanan, ia suka dengan pemandangan kamar yang bisa langsung melihat pantai dari vila itu. Altaf sedang tak ada di sini karena ia sedang menemui seseorang tak tau siapa.
Nafisah membersihkan badannya karena gerah, setelah membersihkan badannya dia langsung menjalan sholat ashar.
Nafisah berniat keluar mencari makan karena tadi ia hanya makan sedikit karena terlalu senang sampai lupa bahwa ia tak makan dan hanya memperhatikan suaminya saat ia baru mau menghabiskan makanannya katanya penerbangannya di percepat jam nya jadi ia tidak melanjutkan makannya untung saja maag nya tak kambuh.
" Astagfirullah. "
Nafisah kaget melihat Altaf dan Tyas masuk ke kamar sebelah kiri. Nafisah menutup cepat pintu kamarnya.
" Astagfirullah, Fisah kamu harus kuat. " Gumam Nafisah, terduduk depan pintu. Lagi dan lagi hatinya kembali sakit. Ia menangis di lututnya. Hatinya sangat sakit sekali seperti tertusuk jarum secara tiba-tiba.
" Cobaan apalagi yang kau berikan padaku, ya allah kuatkan hati fisah untuk menjalankan ini semua. " Nafisah memegang dadanya sesekali ia memukul dadanya berharap sesaknya menghilang.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Nafisah tersadar ia mengigit bibirnya agar isak tangisnya tak terdengar. Untuk saat ini ia tak mau di ganggu jadi ia tak mau membuka kan pintu nya, ia lebih memilih merebahkan tubuhnya dan menangis.
__ADS_1
Hatinya akan tenang saat ia bisa menumpahkan semuanya dengan tangisan. Saat ini ia sangat membutuhkan pundak untuk menangisi semuanya.
Langit mulai gelap, air hujan pun mulai turun membasahi kota ini. Nafisah menangis sekeras-kerasnya tak akan terdengar dari luar karena hujan begitu deras serasa hujan itu merasakan apa yang dia rasakan.
" Ummah, abi. Fisah kangen sekali sama kalian." Ucap Nafisah di sela isakan nya.
" NAFISAH. "panggil seseorang dari luar.
Nafisah tak mau membuka nya karena hatinya masih sakit. Apakah Nafisah bisa berjanji kepada diri agar tak menangis dan tetap kuat.
Tak lama panggilan itu terhenti mungkin Altaf sudah lelah di sana juga terdengar suara wanita yang mampu membuat hati Nafisah sakit. Ia datang untuk berbulan madu bukan untuk di sakiti.
...•••...
Pagi ini Nafisah terbangun dengan mata sembab. Melihat jam sudah pukul tiga, ia terbangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu dia menjalankan sholat sepertiga malam nya sambil menunggu adzan subuh.
Saat Nafisah membuka pintu ia melihat Tyas yang sedang menyiapkan makana. Nafisah melihat sekelilingnya tapi ia tak melihat juga suaminya. Dimana Altaf? Pikir Nafisah dalam hati.
" Kamu mencari Altaf?. " Tanya Tyas
Nafisah menggeleng lalu Altaf keluar dari kamar sebelah. Apakah mereka sekamar? Tanya Nafisah hatinya kembali sakit. Ternyata menguatkan diri sendiri tak semudah kita berucap menguatkan diri orang lain.
" Pagi Al. " Sapa Tyas. Nafisah hanya terdiam di depan kamar.
" Fisah kamu tak menyiapkan suami mu makanan. " Ucap Tyas.
" Untuk apa mba kan sudah ada makanan di meja makan." Ucap Nafisah, untuk apa Tyas menyuruh dia untuk mengambilkan buat suaminya kan sudah ada makanan di meja makan.
__ADS_1
Nafisah memilih untuk cuek mulai sekarang dan enggak peduli sama hubungan mereka berdua.
Altaf melihat ke Nafisah dengan raut tak bisa di jelaskan.
" Tyas kamu tak makan. " Tanya Altaf
" Engga Al, aku tak lapar mungkin fisah saja sama kamu yang makan. " Ucap Tyas.
Altaf menatap Nafisah dengan dingin
"Kenapa semalam kamu tidak membukakan pintu kamar. " Tanya Altaf. Apa yang harus Nafisah katakan. Apakah ia harus jujur tapi percuma juga.
" Aku enggak dengar mas berteriak. " Bohong Nafisah.
" Bohong kamu, dari mana kamu tau saya berteriak semalam saya hanya mengetuk pintu saja. " Ucap Altaf.
Nafisah skamat, dia harus mencari alasan apalagi yang masuk akal.
" Aku ke kamar mandi dulu. " Nafisah berlari ke kamar mandi karena jawaban yang tak masuk di otaknya, ia juga menghindari pertanyaan yang akan di lontar lagi oleh Altaf.
Ketika mau berbalik ke meja makan tak sengaja Nafisah melihat foto Altaf dan Tyas menggunakan baju pengantin yang tergeletak di meja rias Tyas.
Nafisah melihat sekitar tak ada orang jadi dia masuk karena pintu juga terbuka.
Sakit
hanya kata itu yang menggambarkan diri Nafisah sekarang. Akhirnya Nafisah memutuskan untuk ke kamar saja tidak melanjutkan makan nya.
__ADS_1
To be continue...