Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 7


__ADS_3

...Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan....


...( Qs. Al-Insyirah : 5-6)...


...Happy Reading...


Nafisah menghapus air matanya percuma saja dia mengeluarkan air mata untuk seorang lelaki semacam Altaf yang tak bertanggung jawab, Nafisah berjalan mendekati Altaf.


Tyas yang tersadar dengan tingkahnya langsung berbalik ke arah Nafisah.


" Maaf. " Ucap Tyas lalu menjauh ke arah Altaf.


" Mas makanannya sudah siap. " Altaf langsung menarik Tyas menuju ruang makan.


Apakah Nafisah mampu melihat keromantisan Altaf dan Tyas sedangkan yang berhak mendapatkan itu Nafisah bukan Tyas ataupun orang lain.


Nafisah duduk di hadapan Tyas dan Altaf, Nafisah berdiri lalu mengambil makanan untuk Altaf meskipun bukan makanan kesukaannya.


" Tyas sayang kamu enggak boleh makan yang pedes-pedes sayang. " Ucap Altaf menghentikan Tyas saat mau mengambil sambal.


" Eum mas Altaf, Fisah boleh izin ke kantor. " Ucap Nafisah memecahkan keheningan, Altaf menjawab hanya dengan anggukkan saja tak melihat Nafisah sama sekali.


Setelah mereka bertiga makan, ketiganya pergi dengan urusan masing-masing. Altaf yang mengantar Tyas sedangkan Nafisah pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri. Kecemburuan itu pasti ada enggak mungkin seorang istri membiarkan suaminya dengan wanita lain apalagi sampai membiarkan wanita itu memasuki hati suaminya tapi Nafisah hanya bisa berdoa untuk suaminya yang sudah di kuasai oleh cinta yang tidak halal baginya.


Nafisah memang masih libur karena bosan juga di rumah jadilah Nafisah menyibukkan diri dengan bekerja karena dengan cara itu masalah yang sedang ia pikirkan akan hilang sejenak.


Bersyukur karena Adi telepon Nafisah karena ada urusan mendadak di kantor jadi Nafisah tidak bosan.


Nafisah memasuki lift berjalan menuju lantai dua puluh tempat ruangan Adi.


Sesampai nya Nafisah di sana mereka langsung menyelesaikan pekerjaan yang untuk deadline besok.


Tapi tiba-tiba Adi mendapatkan kabar kalau Umi nya sakit jadi dia berniat mengajak Nafisah menjenguk umi nya karena Nafisah sudah sangat dekat sekali sama umi nya.


Setelah mereka menjenguk Umi nya Adi, mereka kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

__ADS_1


" Fisah lo mau jadi pacar pura-pura gue. " Bisik Adi agar orang di sekitar nya tak ada yang mendengarnya.


" APA! Sudah gila lo Di Gue ga mau. " Teriak Nafisah tanpa sadar membuat semua orang melihat ke arahnya.


" Menolak permintaan orang itu dosa loh. "


" Ya memang dosa tapi lebih dosa lagi kalau kita berbohong. " Ucap Nafisah.


" Yah Dosa ya, yasudah tak jadi deh. Gue takut kena azab dari allah. " Ucap Adi yang terkekeh.


" Tunggu-tunggu tapi kenapa loh minta gue jadi pacar pura-pura loh. " Tanya Nafisah yang heran.


" Enggak ada alasannya si. "


" Tapi Di gue masih bingung kenapa lo bisa berucap seperti itu. " Nafisah semakin bingung dengan Adi.


" Banyak nanya ya lo tak biasanya abis makan apa si lo jadi bawel begini atau lo ngidam ya. "


" Ye Sembarangan lo ye kalau ngomong kaga di filter dulu tuh mulut. " Ucap Nafisah


" Sudah gila lo. "


Mereka pun tertawa lepas akibat candaan Adi.


Adi berjalan ke arah lift, lift pribadi yang tak pernah seorang pun menaiki. Baik yang tinggi jabatannya maupun yang rendah jabatannya, yah lift ini hanya khusus untuk Adi.


" Fisah lo mau kemana. " Tanya Adi saat Nafisah melewati Adi berjalan ke arah lift satu nya.


" Pulang lah, mau kemana lagi. " Ucap Nafisah


" Engga usah lewat lift itu, lift sini saja. " Ajak Adi. Nafisah menggeleng ia tak mau diperlakukan istimewa sama Adi karena ia di sini juga sebagai karyawan.


" Gapapa, kamu lupa dengan ucapan mu yang bilang kita tak boleh menganggap diri kita yang lebih mulia karena yang mulia hanyalah sang pencipta. " Ucap Adi, Nafisah menyerah ia naik ke lift khusus untuk Adi.


Nafisah melihat karyawan yang mau menaiki lift yang tadi mah dia naikin.

__ADS_1


" Mba tunggu. " Ucap Nafisah memegang pintu lift agar tetap terbuka.


" Ada apa bu. " Tanya kedua karyawan itu


" Pak bos lagi baik nih, katanya kalian di persilahkan untuk hari ini bisa menaiki lift ini. " Ucap Nafisah. Lagi dan lagi Adi menatap Nafisah kaget ia hanya bisa menggeleng saja. Kedua karyawan itu menolak tapi Nafisah menarik mereka kedalam lift.


Adi kembali menggeleng mungkin siapa saja yang akan berhadapan dengan Nafisah mending menyerah saja deh.


...•••...


" Ekhm abis dari mana kamu seharian. " Tanya Altaf. Nafisah menunduk terdiam dia seharian baru pulang sehabis kerja sudah di sambut dengan pertanyaan yang tak mau Nafisah jawab apalagi ia harus berbicara dengan suaminya.


" Aku habis kerja. " Jujur Nafisah lalu ia kembali terdiam seperti seorang anak yang sedang di interograsi sama ayahnya.


" Bohong! kenapa lama kalau hanya ke kantor saja. " Tanya Altaf, Nafisah duduk di kasur.


" Ya tadi ke kantor terus ke rumah Adi tapi setelah itu balik ke kantor lagi. "


" Pamit ke saya ke kantor kenapa sekarang ke rumah Adi. " Ucap Altaf.


" Tadi juga ke rumah Adi karena umi nya sakit terus mengajak aku. "


" Saya masih tidak percaya, mulai sekarang kamu enggak boleh dekat dengan Adi lagi. " Tegas Altaf.


" Tapi mas__."


" Bisa ga engga usah bantah saya, tinggal ikuti saja. " Tegas Altaf lagi, Nafisah membaringkan tubuhnya di kasur membelakangi Altaf.


Ia selalu di tanya di saat ia mau bertanya tak ada sedikitpun Altaf menjawabnya.


" Kenapa selalu melarang ku, padahal mas juga pergi bersama Mba Tyas. " Gumam Nafisah.


Tanpa sadar air matanya keluar bukan karena ia di marahi oleh Altaf malah ia senang Altaf masih memperdulikan dirinya. Dia menangis karena mengingat kejadian tadi, dia melihat Altaf berjalan bersama Tyas terlebih lagi Nafisah melihat Altaf mengecup dahi Tyas dengan sayang.


Sungguh hati Nafisah tak bisa menerima semuanya, untung saja ia sedang berada di mobil sendirian jadi ia bisa menangis semaunya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2