Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Permintaan


__ADS_3

Kini hanya mereka berdua yang ada di ruangan tersebut, sepertinya malam-malam begini tidak akan ada yang datang dan mengganggu pembicaraan mereka seperti siang tadi. Melihat Arya yang prustasi setelah selesai menjawab telepon dari Tari. Dira yang semula tertidur pulas terganggu dengan suara Arya yang sedang berbicara dengan Tari melalui ponsel.


Dira mendengar semua perdebatan sepasang kekasih itu, dimana Tari yang ingin bertemu sedangkan Arya menolak karena sudah berjanji kepada sang mama yang akan menjaga Dira. Arya terlihat prustasi saat Tari mematikan sambungan telepon itu dan tak lupa mengancam Arya.


Melihat betapa prustasinya Arya yang takut akan kemarahan Tari membuat Dira semakin membulatkan tekadnya, percuma bertahan jika di dalam hati suaminya hanya ada nama wanita lain.


"Kak aku ingin bicara." Ucap Dira.

__ADS_1


"Maaf Dira, sepertinya kamu terbangun Karena mendengar suaraku. Sebaiknya kamu tidur lagi, kita bicara besok saja. Kamu butuh istirahat banyak." Arya tersenyum sembari membetulkan selimut istrinya.


"Aku sudah tidak ngantuk lagi kak, aku mau bicara serius dengan kamu." Ucap Dira.


Arya menarik napas dengan kasar, duduk di kursi yang ada dekat dengan ranjang Dira. Kemudian menyuruh istrinya untuk memulai untuk cerita.


"Baiklah, aku akan mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan." Ucap Arya.

__ADS_1


"Aku tahu kakak sangat membenciku karena merasa akulah orang ketiga dalam hubungan kalian. Aku juga sadar selama ini hanya aku yang memiliki perasaan spesial dalam hubungan kita. Seharusnya aku tidak terlalu berharap karena dari awal pernikahan kita semuanya sudah salah dan tidak pada tempatnya. Jika kakak memang bahagia bersamanya maka aku akan melepaskan kakak. Aku sudah terlalu lelah berjuang menanti cinta suamiku, sekarang aku sudah mengikhlaskan semuanya. Bukankah titik tertinggi mencintai adalah merelakan? Tapi aku hanya ingin kakak memberikan aku sebuah hadiah. Hadiah terindah sebelum aku pergi dari kehidupan kakak. Apa kak Arya mau memenuhinya?" Ucap Dira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Katakan apa yang kamu inginkan." Ucap Arya dingin.


Sejujurnya Arya sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan sang istri, ada rasa sakit di dalam hatinya saat Dira merelakannya dan sudah lelah berjuang dalam menanti cintanya. Ada keraguan di hati Arya saat akan menyetujui perpisahan tersebut, tetapi Arya kembali mengingat bahwa ada wanita yang lebih menderita akibat perbuatan orang tua Dira. Entahlah Arya juga tidak mengerti dengan hatinya, saat bersama dengan Tari ia merasa biasa saja, perasaan berdebar-debar dan bahagia itu sudah tidak ia rasakan seperti dulu. Arya hanya merasa kasihan dan bersalah sesungguhnya ia lebih nyaman saat berada di dekat Dira.


"Aku akan setuju bercerai dengan kak Arya tapi perceraian itu akan terjadi saat anak ini lahir. Aku juga tidak akan menuntut kakak perihal surat perjanjian pra nikah kita, tetapi aku ingin enam puluh persen harta keluarga kakak akan menjadi hak anak yang akan aku lahirkan ini. Satu lagi aku ingin kakak memperlakukan aku dengan baik selayaknya istri selama perpisahan itu belum terjadi. Tenang saja kakak tidak usah takut harta keluarga kakak tidak akan aku ambil karena setelah melahirkan aku akan pergi jauh dan anak ini akan tinggal bersama kakak atau kalau kakak tidak Sudi merawatnya biarlah mama dan papa yang merawatnya." Tutur Dira.

__ADS_1


Maaf kemarin gak up karena ketiduran, niat hati ingin menidurkan anak baru mulai menulis. ternyata-ternyata emaknya malah ikut molor.


Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat.


__ADS_2