
Tari membuka matanya setelah Arya pergi dari apartemennya, wanita itu tersenyum licik saat rencana yang ia sudah di susun secara matang akhirnya berjalan dengan lancar. Tari merasa Tidak sia-sia mengeluarkan uang yang terbilang cukup banyak untuk menyewa seseorang untuk mencari informasi yang berhubungan dengan Dira.
Tari seketika memiliki ide saat mengetahui kedua orang tua Dira sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Tari yang licik menggunakan orang tua Dira sebagai alasan kenapa ia kabur saat itu. Tari bahkan memfitnah Papa Dira seolah-olah dia di ancam agar Arya membenci Dira. Tari berharap dengan membuat Arya membenci Dira akan mempermudah jalannya untuk kembali bersama Arya, terbukti setelah ia mengatakan kebohongan itu kepada Arya, laki-laki itu langsung membenci Dira.
"Kamu masih tidak berubah Arya, sikapmu yang terlalu percaya dengan omongan orang membuat kamu mudah sekali tertipu. Baguslah dengan begitu aku akan lebih mudah kembali kepadamu sayang. Syukurlah orang tua Dira sudah meninggal karena kebohonganku tidak akan terbongkar. Arya mau bertanya sama siapa lagi, kedua orang tua Dira sudah mati." Tari tertawa puas karena rencana.
*
*
Arya pulang setelah menghabiskan waktu di bar untuk menenangkan dirinya, Laki-laki itu kembali ke apartemennya dengan menggunakan taksi. Saat Arya memasuki apartemen ia melihat Dira yang tertidur di sofa ruang tamu. Arya yakin istrinya itu sedang menunggunya, ingin rasanya ia menggendong dan membawa Dira ke kamar mereka. Dira terlihat kedinginan tanpa adanya selimut yang menghangatkan tubuhnya, tapi Arya kembali teringat dengan kata-kata Tari membuat laki-laki kembali meradang dan segera pergi meninggalkan Dira.
Dira terbangun seperti biasa, kali ini Dira merasakan tubuhnya sedikit pegal mungkin karena ia tidur di sofa dan sedikit merasa kurang nyaman. Kemudian ia teringat bahwa ia sedang menunggu suaminya pulang tapi ini sudah pagi, ia masih berada di ruang tamu membuat Dira heran.
"Apa kak Arya belum pulang ya? Kalau kak Arya sudah pulang pasti ia membangunkan ku." Ucap Dira keheranan.
Tidak ingin menduga-duga, Dira langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya memastikan apakah suaminya sudah pulang atau tidak. Dengan Hati-hati Dira membuka pintu kamar dan memasukinya, Dira tersenyum saat melihat Arya yang tertidur pulas di atas ranjang mereka.
"Syukurlah ternyata kak Arya sudah pulang dan ia baik-baik saja. Tapi kenapa tidak membangunkan aku. Apa mungkin.... ah sudahlah jangan berpikir negatif Dira, mungkin kak Arya sedang lelah saja." Dira berusaha menepis pikiran negatifnya.
Dira langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya tanpa mau mengganggu suaminya yang sedang tidur pulas itu. Setelah selesai membersihkan dirinya Dira lanjut melakukan aktivitasnya yaitu membuat sarapan untuk dirinya dan Arya.
Kini Dira sudah menjadi istri yang seperti di inginkan Arya, tidak manja dan bisa melakukan semuanya termasuk memasak dan semua pekerjaan rumah Dira sudah ahli melakukannya bahkan sekarang Dira sudah menjadi wanita karir dengan menggantikan posisi ayah di perusahaan peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
Setelah selesai berkutat dengan peralatan dapur Dira kini sedang menyajikan sarapan pagi penuh cinta yang baru selesai ia masak. Dira yang ingin pergi ke kamar untuk memanggil suaminya, terpaksa mengurungkan niatnya karena melihat Arya sudah keluar dari kamar.
Terlihat Arya sudah rapi dengan pakaian kerjanya membuat Dira semakin terpana dan jatuh cinta setiap hari kepada suaminya itu.
Dira sangat bersyukur bisa menikah dengan Arya, kadang Dira juga heran apa yang membuat wanita yang menjadi kekasih suaminya itu meninggalkan laki-laki seperti Arya.
"Kak ayo kita sarapan, aku sudah masak makanan kesukaan kakak."
Arya menatap Dira dengan tajam, rasa benci itu semakin menjadi saat Arya mengingat semua perkataan Tari. Arya hanya melirik sarapan yang terhidang di atas meja kemudian ia pergi meninggalkan Dira yang keheranan.
"Kakak tidak sarapan dulu?" Tanya Dira menyusul suaminya.
"Tidak, ada rapat penting pagi ini. Saya sarapan di kantor saja." Jawab Arya dengan ketus.
"Sepertinya kak Arya sedang marah, apa aku berbuat salah ya?" Ucap Dira sembari berpikir kesalahan apa yang ia perbuat.
Dira sarapan seorang diri, hanya keheningan yang menemani. Sarapan kali ini terasa berbeda dari biasanya. Dira hanya larut dalam lamunannya memikirkan apa yang membuat Arya terlihat marah kepadanya. Tatapan Arya yang tajam kepadanya seperti menyimpan kemarahan yang sangat besar yang membuat Dira terus kepikiran.
Setelah menyelesaikan sarapannya Dira langsung mencuci piring kotornya, saat ingin berdiri dari duduknya tiba-tiba Dira merasa pusing, Dira kembali duduk karena takut terjatuh. Saat merasa pusing di kepalanya sudah mendingan baru Dira melanjutkan aktivitasnya.
Dira yang biasanya di antar oleh suaminya terpaksa menggunakan taksi saat ingin berangkat kerja. Wanita itu terpaksa berangkat kerja walau sedang merasa tidak enak badan karena hari ini banyak pekerjaan yang tidak bisa di tunda.
Sebentar lagi jam istirahat biasanya Arya akan mengajak dirinya untuk makan siang bersama. Hari ini Dira merasa heran karena sedari tadi suaminya tidak ada menghubunginya atau mengiriminya pesan seperti biasa. Karena penasaran Dira mencoba mengirimi Arya pesan tapi tidak di balas hanya di baca saja, tak patah semangat Dira mencoba menghubungi Arya, walau sempat kecewa karena panggilannya tak kunjung di angkat tapi akhirnya Arya mengangkat telepon Dira .
__ADS_1
"Halo kak, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya. Kakak sedang apa, makan siang barang yuk." Ajak Dira.
"Saya tidak bisa, saya sedang sibuk. Ganggu saja, apa kamu tidak ada kerjaan selain merepotkan orang lain." Bentak Arya.
"Maaf kak, aku tidak tahu kalau kak Arya sedang sibuk. Maaf sudah meng...." Ucapan
Dira menggantung karena Arya mematikan teleponnya.
Dira hanya terdiam saat suaminya memutus panggilannya begitu saja . Bulir-bulir bening berjatuhan dari mata wanita cantik itu. Entah apa yang terjadi pada suaminya, Dira merasa sikap Arya kembali seperti awal mereka menikah.
"Kenapa aku menangis, jangan cengeng Dira. Kak Arya tidak suka wanita cengeng." Ucap Dira pada dirinya sendiri.
Dira langsung menghapus air matanya saat terdengar suara ketukan di pintu, Dira tidak ingin terlihat lemah di depan para karyawannya.
"Silahkan masuk." Ucap Dira sedikit berteriak.
Dira tersenyum saat melihat Lisa memasuki ruangannya sedangkan Lisa langsung duduk di depan Dira sembari mengatakan maksud tujuannya datang menemui Dira.
"Bu bos apa hari ini anda akan makan siang bersama suami anda?" Tanya Lisa mulai menggoda sahabatnya itu.
"Tidak, hari ini kak Arya sedang sibuk. Apa kamu ingin mengajakku makan siang barang?" Tanya Dira.
"Kamu memang sahabat sejati, tahu saja yang ada dalam hati aku. kalau begitu ayo kita pergi. Rio sudah menunggu kita, jarang-jarang kita bisa seperti ini." Ajak Lisa yang terlihat langsung bersemangat.
__ADS_1
"Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih."