Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

Hendra menanyakan keadaan menantunya pada Davina, melihat Arya yang sangat terpukul dengan keadaan sang menantu membuat pria paru baya itu tidak tega menanyakan kondisi sang menantu pada sang anak.


Hendra dan Davina duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sedangkan Arya masih setia menemani sang istri duduk di dekat ranjang Dira. Tak henti-hentinya Arya mengecup tangan Dira, mengusap rambut indah sang istri sesekali mengelus pipi yang semakin tirus itu. Tetesan air mata Arya sesekali masih lolos turun tanpa permisi, rasa sesal dan takut selalu menghantui Arya. Walau sudah mencoba untuk berpikir positif tetapi jauh di lubuk hatinya, Arya takut kehilangan sang istri.


Hendra menghela napas saat melihat sang putra yang kini sedang meratapi penyesalan nya, ingin rasanya ia memaki sang anak yang terlalu bodoh dan buta terhadap cinta, sehingga Arya tidak melihat siapa wanita yang tulus mencintainya. Tetapi hal itu urung ia lakukan karena melihat kondisi Arya yang sangat menyesali kebodohannya, kini Hendra merasa iba melihat putra semata wayangnya.


Hendra hanya dapat berdoa kepada Tuhan agar penyakit menantunya bisa di sembuhkan sehingga Arya dan Dira bisa kembali bersatu dan hidup bahagia.


"Mas bagaimana tadi di kantor polisi?" Tanya Davina pada suaminya.


"Semuanya sudah beres, pengacara keluarga kita yang akan mengurusnya. Wanita itu sudah di tahan karena bukti yang di serahkan ke kantor polisi sudah cukup kuat. Syukurlah Bimo mempunyai rekaman Tari saat menabrak mobil Dewa dan citra." Tutur Hendra.


"Kenapa Bimo bisa punya rekaman tersebut mas?" Tanya Davina heran.


Davina memang belum mengetahui cerita di balik kaburnya Tari meninggalkan sang putra sehari sebelum pernikahan mereka dulu. Sehingga ia merasa ganjil dengan penuturan suaminya. Hendra akhirnya menceritakan semuanya pada sang istri, mulai dari Bimo dan Tari yang pernah menjalin hubungan sebelum bertemu dengan Arya sampai Tari meninggalkan putra mereka demi bisa bersama Bimo. Tak lupa Hendra juga mencerikan maksud Tari kembali kepada Arya.


"Astaga mas, aku tidak menyangka jika Tari sejahat itu. Ternyata dia hanya mengincar harta saja, bukan mencintai putra kita. syukurlah mereka tidak jadi menikah, aku tidak Sudi mempunyai menantu seperti itu." Ucap Davina yang masih terkejut dengan kenyataan yang barusan ia dengar.


"Kamu benar sayang, Allah sangat baik pada keluarga kita. Bahkan Allah mengirimkan sosok malaikat tanpa sayap yang menolong kita dari rasa malu akibat gagalnya pernikahan mereka. Dira gadis dari keluarga terhormat, cantik, baik hati dan tulus mencintai putra kita kini menjadi menantu kita. Kita harus berdoa semoga Allah kembali berbalik hati pada keluarga kita, sehingga Dira bisa segera di angkat penyakitnya." Ucap Hendra merangkul sang istri.


"Iya mas kita harus berdoa, dan mas harus memberikan pengobatan terbaik untuk menantu kita. Aku gak mau kehilangan Mereka. Aku hanya ingin Dira yang menjadi menantuku mas. Hanya Dira perempuan yang akan melahirkan cucu-cucuku." Ucap Davina kembali merasa sedih.

__ADS_1


"Iya sayang, mas akan memastikan kalau Dira mendapat pengobatan terbaik kamu jangan sedih lagi, kita harus kuat dan tegar agar menantu dan cucu-cucu kita juga kuat untuk berjuang." Ucap Hendra menyemangati sang istri.


*****


Bunga heran saat melihat kedatangan suaminya yang hari ini pulang lebih cepat dari biasanya. Wanita hamil itu bahkan melihat jam yang ada di dinding kamar mereka memastikan mungkin ia salah melihat waktu tadi.


"Mas kok sudah pulang, bukannya mas bilanh kerjaan di kantor menumpuk?" Tanya Bunga.


"Mas sedang bahagia makanya pulang cepat karena ingin berbagi kabar bahagia pada istri mas ini." Jawab Bimo yang kini memeluk Bunga.


"Kabar bahagia apa mas, apa mas menang tender?" Tebak Bunga.


"Bukan sayang, kalau itu mah mas sudah biasa. Ini tentang Tari sayang?"


Bimo bahkan ngeri melihat mimik wajah istrinya yang selalu menakutkan jika ia menyebutkan nama Tari. Mungkin sang istri masih trauma dengan Tari yang hampir menggoyahkan rumah tangga mereka.


"Jangan begitu dong sayang, nanti cantiknya hilang." Goda Bimo mencoba merayu sang istri.


"Mas aku lagi gak bercanda, cepat katakan ada apa dengan wanita itu." Desak Bunga yang semakin penasaran.


"Dia sudah di tahan, Arya yang melaporkannya ke polisi dengan memberikan bukti-bukti kejahatannya." Tutur Bimo.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya wanita licik itu menerima ganjarannya dan Arya juga sudah sadar dan di buka mata dan hatinya kalau wanita itu sangat jahat. Dira juga pasti bahagia karena orang yang sudah menabrak kedua orang tuanya sudah mendapatkan hukumannya." Ucap Tari bahagia.


"Dira terlalu terkejut dengan kabar itu sayang, sehingga jantungnya kambuh dan sekarang Dira sedang di rawat di rumah sakit." Bimo akhirnya memberitahu kabar buruk itu.


Bunga kembali terkejut mendengar kabar sahabatnya kini sedang di rawat, membuat wanita hamil itu kembali sedih. Baru saja ia bahagia mendengar kabar wanita yang hampir membuat rumah tangganya dan rumah tangga Dira berada di ujung tanduk itu kini sudah di tangkap dan sekarang ia harus mendengar kabar jika kondisi sahabatnya kembali memburuk.


"Mas ayo kita ke rumah sakit, aku ingin menjenguk Dira mas." Ajak Bunga.


"Iya sayang, nanti kita jenguk Dira. mas mau membersihkan diri dulu." Ucap Bimo.


Arya sangat bahagia saat melihat Dira membuka matanya dengan cepat ia memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi sang istri. Dira kini sedang di periksa oleh Dani dan Dokter kandungan yang biasa menangani Dira. Arya dengan setia selalu ada di dekat Dira, laki-laki selalu menguatkan dan memberi semangat untuk istrinya.


"Alhamdulillah kondisi kandungan ibu Dira sudah membaik semoga ke depannya selalu seperti ini agar ibu Dira bisa melahirkan sesuai dengan hari perkiraan lahir." Ucap Dokter kandungan tersebut.


"Kondisi jantung Dira juga sudah mulai membaik " Ucap Dani.


Setelah selesai pemeriksaan Dokter kandungan dan para perawat sudah pergi meninggalkan ruangan Dira, kini hanya Dani yang masih di sana. Dokter tampan itu ingin berbicara dengan Dira yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Bagaimana apa masih ada keluhan atau ada yang sakit?" Tanya Dani pada Dira memulai obrolan mereka.


Dira hanya menggelengkan kepala membuat kedua laki-laki yang menemaninya itu bisa bernapas lega.

__ADS_1


" Kamu masih ingat dengan apa yang kakak katakan, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu tenang saja dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Sekarang waktunya kamu untuk berjuang, kamu harus kuat agar bisa melawan semua ini. Ingat ada 2 keponakan kakak yang masih butuh ibunya. Eh lupa ada satu pria bodoh yang juga sangat membutuhkanmu, kamu harus tahu Dira kalau suamimu itu sangat ketakutan saat kamu tida sadarkan diri. Bahkan suami kamu itu menangis meraung-raung seperti anak kehilangan emaknya." Aduh Dani.


__ADS_2