
Dira, Lisa dan Rio akhirnya sampai di sebuah restoran yang menjadi pilihan mereka untuk makan siang. Ketiganya duduk sembari menunggu makanan mereka dengan iringi lelucon yang di buat Rio sehingga suasana semakin ramai. Dira merasa sedikit terhibur dengan tingkah dua sahabatnya, Dira berusaha tetap ceria meski hatinya terasa sakit dengan sikap Arya.
Pelayan restoran menyajikan makanan yang sudah di pesan, tapi entah kenapa Dira merasa mual saat melihat ikan yang di pesan oleh Rio.
"Uueek.... " Dira langsung menutup mulutnya kemudian berlari menuju toilet.
Sedangkan Rio dan Lisa terdiam sebentar sebelum Rio menyuruh Lisa untuk menyusul Dira.
"Cepat susul Dira, kamu malah diam kayak orang begok." Suruh Rio.
"Astaga" Ucap Lisa langsung pergi meninggalkan Rio.
Sembari menunggu kedua sahabatnya tidak sengaja mata Rio menangkap seorang pria yang terlihat memasuki restoran dengan seorang wanita. Keduanya terlihat mesra dengan bergandengan tangan. Rio langsung naik darah saat menyadari laki-laki itu adalah suami dari sahabatnya, ingin rasanya ia menghadiahkan laki-laki itu sebuah bogem mentah karena sudah berani bermain di belakang sahabatnya, tapi niat itu langsung di urungkannya. Rio berpikir lebih baik menunggu sahabatnya agar Dira bisa melihat secara langsung kelakuan suaminya .
Di toilet Dira kini sedang memuntahkan isi perutnya, rasanya sangat mual saat melihat menu ikan tadi. Dira juga heran kenapa ia bisa jijik dan mual saat melihat ikan tersebut biasanya ia sangat menyukai ikan. Lisa yang panik langsung menggedor pintu toilet menanyakan apakah sahabatnya baik-baik saja.
"Dira kamu di dalam, kamu kenapa? Kamu sakit, kok muntah?" Tanya Lisa khawatir.
"Aku baik-baik saja, mungkin cuma masuk angin saja Lis." Ucap Dira.
Dira segera keluar setelah rasa mulanya hilang. Dira tak ingin membuat Lisa khawatir dengan keadaannya.
"Astaga Dira kamu pucat sekali, sepertinya kamu memang sakit deh. Kita ke rumah sakit saja yah." Bujuk Lisa yang mengetahui sahabatnya paling benci dengan rumah sakit.
__ADS_1
"Gak usah Lis, aku baik-baik saja kok. Aku cuma mual saat melihat ikan pesanan Rio. Entah kenapa melihat ikan itu aku jadi mual dan jijik." Ucap Dira.
"Tumben kamu jijik sama ikan, biasanya kamu selalu lahap kalau makan ikan. Kamu ada-ada saja deh. Kelakuan kamu seperti ibu-ibu hamil saja." Ucap Lisa tertawa kemudian Lisa membulatkan mata dan menutup mulutnya.
"Tunggu sebentar, sepertinya ada yang aneh. Astaga Dira jangan-jangan kamu memang hamil. Oh Tuhan sepertinya aku sebentar lagi akan jadi Tante." Ucap Lisa kegirangan.
Sementara Dira terdiam saat mendengar dugaan Lisa, ia kemudian kembali mengingat keadaan tubuhnya beberapa hari belakangan ini, selain mual Dira juga sering merasa pusing dan mudah lelah. Terlebih Dira juga sudah terlambat datang bulan.
"Dira sebaiknya kamu beli testpack deh, untuk memastikan kalau kamu hamil atau tidak nanti kita mampir di apotik." Ucap Lisa yang terlihat lebih semangat dari Dira.
Dira menyetujui saran dari Lisa, wanita itu juga menduga dirinya kini sedang berbadan dua, sebelum memeriksakannya ke Dokter Dira memutuskan untuk melakukan tes dengan testpack terlebih dahulu.
Dira dan Lisa kembali ke meja mereka, Lisa menuntun Dira yang masih merasa lemas pada tubuhnya. Melihat kedua sahabatnya datang dengan sigap Rio menggeser kursi agar Dira lebih mudah untuk duduk. Melihat wajah pucat sahabatnya, Rio tahu jika Dira sedang tidak sehat.
Lisa dengan cepat mengambil ikan pesanan Rio dan menyuruh pelayan membawanya membuat Rio heran.
"Kamu pesan menu lain saja deh, Dira mual gara-gara melihat ikan ini. Sepertinya Dira hamil. Sebentar lagi kita akan punya ponakan." Ucap Lisa memberitahu Rio.
Rio terkejut dan ikut merasa bahagia tetapi wajah bahagia itu langsung sirna saat mengingat apa yang ia lihat tadi. Tak jauh dari meja mereka terlihat sepasang manusia yang sedang menikmati makan siang romantis mereka. Terlihat sang wanita menyuapkan makanan ke mulut lelaki itu.
Dira dan Lisa yang heran dengan Rio langsung mengikuti arah pandang laki-laki tersebut. Kedua wanita itu terkejut, seketika jantung Dira berdetak kencang saat melihat pemandangan yang begitu menyakitkan di depan matanya. Dira melihat secara langsung wanita yang ia kenal sebagai kekasih suaminya itu mencium pipi Arya dengan mesra. Saking terkejutnya Dira bahkan menjatuhkan sendok yang ada di tangannya.
Terdengar suara dentingan sendok yang begitu nyaring membuat sepasang manusia yang sedang bermesraan itu melihat ke arah suara tersebut. Arya terkejut saat matanya melihat sang istri yang sudah menatapnya dengan tatapan sendu ada rasa sakit di hatinya saat melihat mata cantik itu terluka saat memandangnya.
__ADS_1
"Di.... Dira" Ucap Arya.
Dira langsung berdiri dan menghampiri kedua manusia yang sudah membuat hatinya terluka. Dira berusaha menahan air matanya agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan orang banyak.
"Ternyata suamiku sedang sibuk bermesraan dengan wanita pengecut ini." Ucap Dira dengan sinis.
"Tutup mulutmu dasar wanita licik." Ucap Tari dengan angkuh.
"Dasar wanita tidak tahu diri, anda yang harus tutup mulut. Saya tidak mengajak anda bicara. Saya sedang berbicara dengan suami saya dan ini urusan rumah tangga saya, jadi benalu sepertimu tidak usah ikut campur." Ucap Dira dengan mulut pedasnya.
"Dira cukup, jaga mulutmu. Dia kekasihku." Ucap Arya menahan amarahnya.
Dira tertawa mengejek saat suaminya dengan bangga mengatakan wanita yang sudah meninggalkannya itu sebagai kekasih. Dira yang tidak ingin permasalahan rumah tangganya menjadi konsumsi publik terpaksa meredam emosinya. Sadar jika mereka sedang berada di tempat umum, Dira menahan emosinya dan bermain cantik dengan menjadi wanita elegan yang memancarkan aura berkelas, Dira tidak ingin mempermalukan dirinya dengan meluapkan emosinya dengan sikap bar-bar, bagaimana pun Dira adalah wanita dari kalangan atas yang sudah dididik untuk bisa menguasai keadaan.
"Kak saya tunggu penjelasan dari kamu, silahkan lanjutkan acara romantis-romantis kalian. Aku bukanlah wanita bodoh yang akan melabrak suaminya yang tertangkap basah sedang bermesraan dengan wanita lain." Ucap Dira dengan nada datar membuat Arya terdiam.
"Jika kamu pikir saya akan menangis melihat kalian bersama, anda salah besar yang ada saya yang akan membuat anda menangis sampai anda tidak tahu cara menghentikan tangisanmu itu. Dasar wanita penjilat." Ejek Dira membuat wajah Tari memerah, rasanya ia seperti tertampar dengan perkataan Dira.
Tari langsung memasang wajah sendu, seolah ia tersakiti dengan semua ucapan Dira , membuat Arya tidak tega dan langsung membentak istrinya.
"Dira kamu sudah keterlaluan, cukup dan pulanglah." Bentak Arya.
"Tidak perlu marah-marah seperti itu, kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri. Tanpa harus kau suruh saya juga akan pergi dari sini. Mataku terlalu berharga melihat kelakuan kotor kalian. Ingat suamiku semua orang tahu kalau saya istrimu dan wanita ini saya tidak tahu seperti apa orang memandang kalian yang bermesraan di tempat umum seperti ini. Oh aku tahu pasti orang akan menganggap wanita itu sebagai wanita panggilan, simpanan atau pelakor. Wah sepertinya sangat seru." Ucap Dira tersenyum sinis.
__ADS_1
Dira pergi meninggalkan Arya dan Tari tanpa menunggu jawaban dari keduanya, wanita itu berjalan dengan mengangkat dagunya. Seolah dia tidak terusik dengan apa yang barusan terjadi. Dira sudah berjanji akan menjadi wanita yang kuat dan tidak cengeng. Sekarang ia tidak memiliki siapa-siapa untuk tempat mengadu dan meminta perlindungan. Sekarang ia harus bisa melindungi dirinya sendiri karena satu-satunya orang yang di harapkan Dira sebagai tempat berlindung ternyata adalah orang yang membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih.