
...Happy Reading...
Sudah hampir dua hari bunda di rumah sakit. Hari ini jadwal Altaf menjaga nya karena bunda menyuruh Altaf makan dulu jadilah Altaf meninggalkan bunda sebentar.
" Nafisah."
Ya, dia tidak salah lihat itu Nafisah. Dia mengejar Nafisah namun terhenti karena mengingat tak mungkin dia meninggalkan bunda nya sendirian.
Tapi Altaf tak bodoh untuk melewatkan itu semua, dia menelfon bawahannya untuk mengikuti Nafisah. Altaf juga sudah share lokasi terakhir dia melihat Nafisah.
...•••...
Di sisi lain sebenarnya Nafisah melihat Altaf dan bahkan mendengar saat Altaf memanggilnya tapi dia memilih pergi segera.
Dia juga berhati-hati agar keberadaan nya tak di ketahui tapi dia pikir ini akan percuma kalau dia tak segera pergi dari di sini. Dia harus pergi dari Jakarta segera.
" Embah."
" Loh ndok ko panik sekali." Tanya si embah, Nafisah memilih menutup pintu nya lalu menjelaskan.
Nafisah mengajak pergi si embah ikut bersama nya. Dia memilih untuk tinggal di Bandung dengan uang yang dia miliki.
Nafisah dan ibu tua itu akan pergi ke Bandung besok pagi.
__ADS_1
# Keesokan hari nya
Bandung
Kini Nafisah dan ibu tua itu sudah di Bandung mereka hidup berdua di salah satu pedesaan di sana yang bisa di bilang juga jauh dari perkotaan.
Usia kandungan Nafisah sudah memasuki 7 bulan, di usia kandungannya yang sekarang banyak gejala yang dia rasakan tapi dia mengabaikan. Nafisah masih tetap bekerja menjual nasi pecel buatan si embah.
Tiap pagi Nafisah berjualan dengan berjalan kaki memutari pedesaan ini dan alhamdulilah nya dagangan Nafisah selalu habis jadi lumayan bisa dia tabung untuk kelahiran anak nya nanti.
Di Bandung lah Nafisah akan mengadu nasib bersama si embah dan anaknya kelak. Nafisah selalu berdoa agar selalu di beri kesehatan untuk bisa menjalani hidup nya.
...•••...
Tok tok tok
" Masuk."
" Maaf pak saya hanya ingin memberitahu ke bapa bahwa saya dan tim belum berhasil menemukan ibu Nafisah tapi saya mendapat kabar dari pemilik kontrakan yang Ibu Nafisah tempati."
" Apa yang kamu dapatkan?." Tanya Altaf yang duduk di kursi kebesaran dia.
" Pemilik kontrakan itu bilang Ibu Nafisah sudah pergi dan kemungkinan Ibu Nafisah pergi dari Jakarta, Ibu itu juga bilang kalau Ibu Nafisah pergi bersama ibu tua itu."
__ADS_1
" Ibu tua? Siapa dia?." Altaf mengerutkan dahi nya
" Maaf pak saya kurang tahu dan hanya itu informasi yang saya dapatkan."
" Saya mau kamu terus mencari saya, cari tahu dimana keberadaannya dia. MENGERTI?!." Titah Altaf yang akhir - akhir ini sering marah - marah pada bawahannya.
" Baik pak, kalau gitu saya permisi." Bawahannya pun langsung berjalan keluar dari ruangannya Altaf.
Rindu dengan Nafisah di hati Altaf semakin menjadi-jadi.
" aku tak akan biarkan kamu pergi dari ku lagi Nafisah Humaira, aku akan terus mencari mu sampai kita kembali lagi bersama."
Penyesalan memang selalu datang terlambat itulah yang Altaf rasakan, dia hanya bisa menyesal tanpa bisa membawa kembali istrinya pulang ke rumah nya.
# Rumah
Kini Altaf sudah kembali ke rumah karena dia merasa sangat tidak bersemangat untuk kerja.
Rumah yang megah dan mewah ini tak ada artinya bila tak ada Nafisah di sampingnya. Rumah yang biasanya ramai karena canda dan tawa mbok sama Nafisah kini sepi sekali.
" Altaf kau sangat bodoh sekali membiarkan istrinya mu pergi seperti saat ini. " Gumaman yang selalu Altaf keluar karena rasa bersalahnya.
To be continue...
__ADS_1