
Arya sedang menemani Dira untuk jalan pagi di sekitar komplek, kata Dokter jalan pagi untuk wanita hamil sangat bagus sehingga Arya selalu rutin menemani Dira. Lelaki itu sedikit posesif dalam menjaga sang istri. Terkadang membuat Dira sedikit jengkel karena merasa berlebihan seperti sekarang ini mulut Arya tidak berhenti bersuara mengingatkan sang istri untuk jalan pelan saja, hati-hati serta Arya tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.
"Kak lepas dong tangannya, malu tahu dari tadi kita pegangan tangan terus seperti orang mau nyebrang saja. Lihat tu ibu-ibu komplek pada lihatin kita." Terlihat Dira malu melihat tatapan orang-orang di sekitar mereka.
"Kenapa mesti malu sayang, kita pasangan suami istri yang sah di mata agama dan negara, bukan pasangan selingkuh yang harus takut di ciduk orang. Jangankan pegang tangan kamu Pengan yang lain saja kakak bisa." Bisik Arya.
"Kak Arya, apaan sih malu tahu." Rengek Dira manja.
"Mereka itu sebenarnya iri sama kamu karena kamu punya suami yang perhatian dan cinta sama kamu, apalagi suami kamu ini gantengnya tiada duanya." Goda Arya dengan narsisnya.
"Iya deh suamiku yang ganteng tiada duanya. " Ucap Dira mengakhiri kepedean suaminya.
__ADS_1
*****
Arya dan Dira sudah sampai di rumah, sesi jalan-jalan pagi akhirnya selesai meninggalkan rasa haus dan lapar karena belum sarapan. Kedatangan mereka di sambut Davina yang sibuk menatap sarapan di atas meja makan. Senyum wanita yang sebentar lagi akan berubah gelarnya menjadi nenek itu terlihat kala melihat anak dan menantunya sudah selesai dengan rutinitas pagi mereka di kehamilan trisemester ketiga dira.
"Sudah selesai jalan paginya? sudah cepat mandi biar kita sarapan bersama. Pasti menantu dan cucu-cucu mama sudah kelaparan." Terlihat Arya sedikit kesal karena sang mama melupakan dirinya.
"Ma jangan lupa di sini masih ada satu orang lagi yang sangat kelaparan, sepertinya posisiku sudah tersingkirkan sekarang yang mama ingat hanya Dira dan anak-anakku. Mama lupa kalau Arya adalah anak semata wayang mama." ucap Arya cemburu.
"Gak usah cemburuan, sadar diri itu penting. Sudah mau jadi ayah masih saja cemburu. Bukannya mama lupa sama kamu, tapi Dira dan anak-anak kamu lebih membutuhkan perhatian dari pada kamu yang masih segar bugar." Tutur Davina sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan putranya itu.
Sarapan bersama selesai, Hendra yang ingin berangkat ke kantor meninggalkan Arya dan Dira yang masih di meja makan. Davina ikut meninggalkan sepasang suami istri itu karena ingin mengantar sang suami sampai ke teras.
__ADS_1
"Mas pergi dulu ya sayang, kamu baik-baik di rumah. Jaga menantu dan cucu-cucu kita, siapa tahu bapaknya kembali eror. Hubungi mas jika terjadi sesuatu." Ucap Hendra mencium kening istrinya.
"Pasti mas, aku pastikan menantu dan cucu-cucu kita aman dan aku pastikan putramu itu tidak akan berani macam-macam lagi." Ucap Davina kemudian mencium tangan suaminya.
Davina melambaikan tangannya saat mobil Hendra meninggalkan halaman rumah mereka, kemudian berniat masuk ke dalam rumah tapi terhenti karena melihat sebuah mobil memasuki halaman mereka.
"Permisi bu, apa ibu Dira ada di rumah?" Tanya Laki-laki tersebut.
"Ada pak, bapak ini siapanya menantu saya ya?" Tanya Davina.
"Saya Notaris Bu, ingin bertemu dengan ibu Dira karena ada sedikit urusan." Jawa laki-laki tersebut
__ADS_1