
Dira merasa bosan berada di apartemen, baru beberapa jam di tinggal kerja sang suami wanita hamil itu kini sudah merindukan Ayah dari anak-anaknya. Akhir-akhir ini Dira memang lebih manja kepada Arya mungkin efek kehamilannya atau sikap Arya yang berubah membuat Dira ingin selalu di dekat Arya.
"Mau kemana non?" Tanya bik Tuti yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Mau ke kantor kak Arya bik, anak-anaknya kangen." Jawab Dira.
"Anak-anak atau mamanya yang kangen non?" Goda bik Tuti.
"Mamanya juga sih bik." Ucap Dira tersipu malu.
"Non Dira berangkat sama siapa, nanti tuan Arya marah kalau non Dira berangkat sendiri?" Tanya bik Tuti khawatir.
"bik Tuti tenang saja, Dira sudah menghubungi mama agar pak Mamat menjemput saya. Saya juga gak mau bik Tuti kena marah sama kak Arya karena tadi pagi kak Arya sudah berpesan agar menjaga Dira." Ucap Dira seolah menepis kekhawatiran asisten rumah tangganya.
Bik Tuti hanya mengangguk dan merasa lega karena Dira akan di antar oleh sopir pribadi keluarga majikannya.
"Ya sudah kalau begitu Dira berangkat ya bik. Bik Tuti gak usah masak makan malam. Dira dan Kak Arya mau makan di luar saja." Pamit Dira.
"Iya non hati-hati di jalan."
Dira sangat senang akhirnya bisa keluar apartemen. Wanita itu sudah membayangkan hal-hal menyenangkan yang nanti ia lakukan dengan sang suami. Dira bahkan sudah merencanakan untuk pergi jalan-jalan bersama arya, melakukan hal-hal romantis sebagai pasangan. Wanita itu benar-benar ingin menikmati sisa hidupnya dengan bahagia.
"Ayo jalan pak, kita ke kantor kak Arya." Ucap Tari setelah memasuki mobil keluarga suaminya.
Saat sedang menikmati keindahan kota dari jendela kaca mobil tiba-tiba Dira merasakan tendangan kecil di perutnya. Dengan senyum manisnya Dira mengelus perut buncitnya dan mulai berbicara dengan bayi-bayinya.
"Anak-anak mama yang sabar ya, sebentar lagi kita sampai di kantor papa. Kalian pasti sudah tidak sabar ya sayang. Ayo kita beri kejutan untuk papa kalian dengan kehadiran kita." Ucap Dira sembari mengelus perutnya.
*****
__ADS_1
Tari langsung bergegas menuju kantor Arya setelah selesai menghubungi lelaki itu. Tari seperti berada di atas angin saat Arya menyuruhnya untuk datang menemuinya. Sepertinya Arya memang tidak bisa berpaling darinya terbukti jika lelaki itu merindukannya pikir Tari.
"Kamu tidak akan bisa mencampakkan aku Arya. Lihat saja Dira setelah ini aku pastikan kamu yang akan di campakkan oleh Arya." Ucap Tari dengan percaya diri.
Seperti biasa Tari harus berurusan dengan resepsionis yang kemarin berdebat dengannya. Tapi kali ini Tari berjalan dengan angkuh melewati meja resepsionis, tetapi langkahnya kembali di cegat oleh resepsionis tersebut.
"Anda di larang masuk mbak." Ucap wanita itu.
"Siapa yang berani melarang saya untuk menemui kekasih saya." Ucap Tari dengan sombong.
"Pak Hendra orang tua pak Arya, beliau tidak mengizinkan anda untuk memasuki perusahaannya."
"Sekarang kamu hubungi Arya karena dia sendiri yang menyuruh saya datang ke sini." Ucap Tari tersenyum miring.
Dengan malas resepsionis tersebut menghubungi sekretaris atasannya dan mengatakan jika ada seorang wanita bernama Tari ingin bertemu dengan Bosnya itu.
"Bagaimana, apa kamu masih ingin menghalangi aku?" Ucap Tari masih dengan wajah angkuhnya.
"Saya pastikan setelah ini kamu akan kehilangan pekerjaanmu." Ucap Tari kemudian memasuki perusahan Nugroho grup.
"Saya tidak takut dengan ancaman anda, karena saya hanya menjalankan perintah dari atasan saya, pak Hendra pemilik perusahan ini. Dasar pelakor tidak tahu diri, suami orang masih di Pepet kena karma baru tahu rasa anda." Ucap Resepsionis itu dengan suara kerasnya.
Rasanya ingin sekali Tari menjambak pegawai rendahan itu tapi saat ini ada yang lebih penting dari pada wanita itu. Sehingga Tari tidak menghiraukan ucapan resepsionis tesebut. Apalagi kini beberapa karyawan yang berlalu lalang mendengar ucapan resepsionis tersebut sehingga ia menjadi pusat perhatian orang-orang.
Selang beberapa menit kini giliran Dira yang sudah sampai di kantor suaminya. Wanita dengan perut buncit itu berjalan dengan anggun sembari memberi senyuman kepada setiap karyawan yang menyapanya, tak terkecuali resepsionis yang barusan adu mulut dengan Tari.
"Siang bu Dira, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis dengan ramah dan sopan.
"Saya hanya ingin bertemu dengan suami saya. Apa beliau di ruangannya?" Tanya Dira.
__ADS_1
"A a ada, Bu Dira. Apa perlu saya sampaikan jika ibu sudah sampai di sini." Tawar resepsionis tersebut.
"Tidak usah biar saya saja yang ke ruangannya. Saya ingin memberikan kejutan kepada suami saya." Ucap Dira.
"Baiklah Bu Dira."
Akhirnya Dira meninggalkan resepsionis tersebut dan melanjutkan langkahnya ke ruangan suaminya sepertinya wanita hamil itu sudah tidak sabar untuk mengejutkan suaminya. Sedangkan resepsionis tersebut hanya menatap kepergian istri atasannya itu dengan tatapan sedikit cemas. Entah apa yang akan terjadi jika Dira bertemu dengan wanita menyebalkan tadi.
"Semoga apa yang di katakan wanita yang mengaku-ngaku menjadi kekasih pak Arya itu cuma hoax dan kalau benar dia perusak rumah tangga pak Arya dan Bu Dira semoga dapat karma yang setimpal." Ucap wanita itu dalam hati.
Rata-rata karyawan di perusahaan Arya memang sangat menyukai Dira yang terkenal sangat ramah dan baik hati. Selain itu Dira juga sangat cantik sehingga para Karyawan sangat kagum dengan wanita seperti Dira.
Tari kini sudah berada diantara ketiga laki-laki yang ada di ruangan tersebut. Tari merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Arya padanya. Sehingga Tari menerka-nerka apa kedua laki-laki yang berada di sana sudah mengatakan sesuatu yang membuat Arya murka.
"Sayang kamu dari mana saja. Kenapa ponsel kamu tidak aktif beberapa hari ini. Kamu tahu gak kalau aku sangat merindukan kamu." Ucap Tari kini sudah merengek manja memeluk lengan Arya.
"Saya hanya menghabiskan waktu bersama dengan istri saya. Menikmati liburan romantis kami. Menjauhlah Tari kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, jaga sikap dan kelakuan kamu karena saya adalah laki-laki yang sudah beristri." Ucap Arya yang mampu membuat Tari tidak punya muka di hadapan Dani dan Bimo.
"Apa yang kamu katakan sayang, kamu pasti sudah di pengaruhi oleh dua manusia sialan ini. Jangan percaya, mereka hanya iri saja. Apalagi Bimo dia hanya ingin melihat hubungan kita hancur karena dari dulu dia selalu mengejar aku sayang. Dia tergila-gila kepadaku." Bohong Tari.
Ketiga laki-laki itu tertawa bersama membuat nyali Tari semakin menciut.
"Bukannya terbalik Lestari putri. Kamu yang tergila-gila ingin bersamanya sehingga tega kabur dari pernikahan kita demi bisa bersama Bimo. Tapi sayangnya impianmu tak sesuai ekspektasi. Bimo mencampakkan kamu dan memilih istrinya." Ucap Arya dengan sinis.
"Ti ti tidak sayang itu semua bohong. Mereka sengaja melakukan ini agar kita berpisah. Pasti mereka di suruh oleh istrimu agar kamu membenciku." Ucap Tari yang kini membawa nama Dira dalam masalah ini.
Arya semakin geram dan emosi saat Tari dengan mudahnya menggunakan istrinya untuk menutupi kebusukannya. Laki-laki itu tidak bisa lagi menahan emosi yang semakin memuncak dengan cepat ia mencekik leher Tari.
"Jangan bawa-bawa istriku untuk menutupi kebohonganmu karena aku sudah tahu semua kebusukan kamu." Ucap Arya dengan sorot matah yang memerah membuat Tari ketakutan.
__ADS_1
Arya memberi kode agar Dani memutar bukti kebusukan Tari.
Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lanjut lagi.