Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Amarah Davina


__ADS_3

"Arya...." Tari yang kini berdiri didekat Arya langsung mengalungkan tangannya di lengan lelaki itu.


Melihat hal tersebut membuat Davina kembali naik pitam, dengan cepat ia meraih rambut Tari dan menjambaknya dengan kuat.


"Akhhh.... sakit Tante." Ucap Tari menahan sakit.


"Masih berani kamu datang kemari. Dasar pembawa sial, karena kamu menantu dan calon cucuku harus berjuang di dalam sana. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, aku akan buat perhitungan dengan kamu."


Melihat istrinya sudah lepas kendali, dengan cepat Hendra melerai keduanya.


"Udah ma lepasin sabar ma, jangan ribut di sini. Ingat sekarang kita lagi ada di rumah sakit. Jangan membuat keributan." Ucap Hendra menenangkan istrinya.


"Gimana mama mau sabar, dia selalu menjadi masalah di dalam keluarga kita. Dulu ia meninggalkan putra kita seenaknya dan hampir membuat kita menanggung rasa malu. Sekarang saat putra kita sudah mempunyai kehidupan baru ia datang untuk menghancurkannya. Gara-gara dia, Dira pendarahan mas. Rasanya aku ingin mencekik lehernya sampai mati." Ucap Davina dengan emosi.

__ADS_1


"Ma jangan salahkan Tari, dia gak salah apa-apa. Aku yang gak sengaja dorong Dira. Jadi salahkan saja aku." Ucap Arya membela kekasihnya.


"Kamu dan wanita licik ini sama saja, karena kalian Dira harus mengalami semua ini, jika sampai terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucuku, mama tidak akan pernah memaafkan mu. Bisa-bisanya kamu percaya dengan mulut busuknya. Hanya dengan pengakuannya yang di ancam kamu percaya padahal ia tidak mempunyai bukti. Mama peringatkan kamu Arya, rambut memang sama hitam tapi hati kita tidak ada yang tahu. Jangan sampai kamu menyesali semua ini." Ucap Davina dengan emosi melihat kebodohan putranya.


Tiba-tiba pintu UGD terbuka, seorang Dokter dan perawat keluar dari ruangan dimana Dira di rawat. Dengan cepat Arya mendekati Dokter tersebut dan langsung bertanya kondisi istrinya.


Setelah mendengar semua penuturan Dokter, ada sedikit rasa lega di hati Arya dan kedua orang tuanya berbanding terbalik dengan perasaan Tari yang semakin tidak karuan.


Dokter tersebut mengatakan jika Dira dan bayinya selamat. Dira hanya butuh istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran. Kini Dira sudah di pindahkan keruang rawat. Hanya ada Arya dan kedua orang tuanya di dalam sana. Sementara Tari terpaksa harus meninggalkan tempat itu dikarenakan paksaan dan ancaman dari Davina.


"Kenapa wanita itu harus selamat, kalau dia mati langkahku semakin mudah untuk mendapatkan Arya. Tapi malah sebaliknya sekarang aku harus mencari cara lain agar Raka tidak berubah pikiran." Guman Tari.


Terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga wanita itu kurang memperhatikan jalannya, hingga ia tidak sengaja menabrak seorang wanita hamil.

__ADS_1


"Astaga, kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya pria itu dengan cepat menahan tubuh istrinya yang hampir terjatuh.


"Aku baik-baik saja mas." Ucap Bunga tersenyum tipis.


Tari sangat terkejut ternyata ia harus kembali bertemu dengan kedua manusia yang sangat ia benci.


"Kalian, sedang apa kalian di sini. Apa kalian sedang memata-mataiku." Tuduh Tari saat mengetahui orang yang kini ada di hadapannya adalah Bimo dan Bunga.


Curiga dan takut jika sepasang suami istri itu ternyata mengikuti dan akan menggagalkan semua rencananya. Tidak bisa di biarkan kali ini Tari tidak segan-segan menyingkirkan siapa saja yang menjadi penghalang jalannya.


"Jangan terlalu percaya diri, Apa kamu lupa jika kota ini adalah kota asal suamiku. Kamu pikir kami orang yang tidak punya pekerjaan sampai harus mengikuti anda." Ucap Bunga dengan ketus.


"Maaf masih belum bisa up banyak. Author hanya penulis amatir yang masih pemula di dunia perhaluan ini. Author harus curi-curi waktu agar bisa up karena di dunia nyata author juga rempong dengan status istri dan ibu dari dua anak dengan segala aktivitas yang tidak ada habisnya. Author hanya bisa up saat ketika anak author sudah pada tidur karena jika author ingin menulis harus dalam keadaan tenang dan damai tidak ada gangguan agar ide-ide atau haluan author lancar jaya. Tapi apalah daya kadang mata dan tubuh author tidak bisa di bohongi rasa lelah membuat author menyerah dan hanya mampu up 1 bab saja. Author juga pengen up banyak tapi apa daya ingin tak sampai.

__ADS_1


Udahan akh curhatnya. Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author tambah semangat.


__ADS_2