Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 5


__ADS_3

...Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan di jadikan-Nya diantara mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir....


...( Qs. Ar-Rum : 21 )...


...Happy Reading...


Hati Nafisah sangat sakit saat mendengar suara wanita tadi saat berbicara di telepon. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Nafisah yang membuat kepala Nafisah sakit. Ia teringat dengan tujuan awalnya.


Ke kantor


Nafisah mengambil tas nya yang ada di sofa. Setelah pamit ke mbok, Nafisah pergi menaiki mobil pemberian Altaf. Sebenarnya Nafisah mempunyai mobil tapi sudah dia jual karena untuk membantu seseorang waktu itu.


Tak memerlukan waktu lama untuk Nafisah sampai kantor yang sangatlah besar. Nafisah sudah beberapa hari tak ke kantor karena cutinya masih ada dua minggu lagi tapi ia di suruh bos nya untuk datang jadi ia tak bisa menolaknya.


" Pagi bu Nafisah. " Sapa Satpam penjaga kantor, Nafisah tersenyum


" Pagi pak. " Ucap Nafisah lalu memasuki kantor Bima Jaya. Nafisah menaiki lift menuju lantai dua puluh tempat CEO perusahaan ini.


Nafisah bekerja sebagai sekretaris, dia bekerja sudah hampir tiga tahun di perusahaan Bima Jaya yang merupakan perusahaan punya sahabat pria nya. Primadi Bima seorang CEO di perusahaan Nafisah bekerja.


Nafisah mengenal Adi saat SMA, mereka satu sekolah saat itu Adi merupakan kakak kelas yang cukup terkenal di sekolah Nafisah. Adi pria mapan dan tampan.


Nafisah bingung dengan Adi, dia seorang CEO dan memiliki paras yang cukup tampan tetapi ia tak memiliki istri, pacar atau calon. Adi juga pernah mengungkapkan cinta kepada Nafisah tetapi Nafisah menolaknya karena Nafisah lebih nyaman sebagai sahabat dan menganggap Adi sebagai Kakak Nafisah sendiri.


Adi pria baik dan agamanya pun bagus. Dengan berjalannya waktu Adi jadi melupakan bahwa ia pernah melamar ku dan dia hanya akan mengganggap ku sebagai adik nya sendiri.


Banyak yang iri kepada Nafisah saat Adi melamarnya. Nafisah mempunyai paras yang sangat cantik tetapi dia tidak mau dengan kecantikannya akan menjadi wanita sombong yang suka memanfaatkan pria.


Apalagi terhadap Adi yang sudah ia anggap sebagai kakak nya sendiri.


Tok tok tok


" Masuk. " Terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan Nafisah masuk.


" Assalamualaikum Pak Adi. " Ucap Nafisah memasuki ruangan yang cukup luas itu. Bisa di bilang ruangan pribadi yang hanya bisa di masuki oleh orang tertentu dan orang yang mempunya urusan dengan Adi.


" Waalaikumsalam. " Adi melihat ke arah Nafisah dingin, mata menatap Nafisah dengan tajam.


" Maaf maksudnya Adi. " Ucap Nafisah menutup mulutnya dengan cepat. Nafisah mengetahui Adi melihatnya seperti itu karena Adi tak suka jika Nafisah memanggilnya dengan sebutan Pak.


" Silahkan duduk. " Adi tersenyum dan mempersilahkan Nafisah duduk.


" Ada apa Di memanggilku ke sini, bukannya aku kan masih libur dua minggu lagi. " Tanya Nafisah to the point.


" Enggak ada cuman suruh kamu datang aja. " Ucap Adi membuat Nafisah datang. Nafisah tak menyangka ia sudah buru-buru ternyata tak ada alasan dia untuk datang.


" Bercanda kali eum ada meeting hari ini dan sekretaris yang baru enggak bisa datang jadi kamu yang gantikan. " Ucap Adi


" Baru juga datang udah di suruh meeting saja." Nafisah merasa kesal.


" Kita meeting nya di kafe dua puluh menit lagi meeting nya di mulai. " Ucap Adi, Nafisah mengangguk.


" Fisah hari ini kamu cantik. " Ucap Adi, Nafisah hanya tersenyum saja.

__ADS_1


" Makasih. "


" Oh ya Fisah ada yang ingin ku bicarakan. " Ucap Adi dan Nafisah mengangguk mempersilahkan Adi berbicara.


Mereka berbincang, Nafisah tak hentinya tertawa saat Adi bercerita mengenainya. Nafisah kadang merasa kasian terhadap Adi.


" Udah dong Fisah ketawanya, aku kan jadi malu tau. " Kesal Adi.


" Malu, ternyata seorang Primadi Bima pemilik perusahaan Bima Jaya bisa malu juga." Nafisah masih saja tertawa.


" Memang ada salah nya seorang CEO ketawa kan aku juga manusia, Fisah. " Ucap Adi.


" Tapi kamu lain. "


" Lain gimana memangnya aku setan gitu. "


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu dari luar, Adi mempersilahkan pria itu masuk.


" Maaf Pak Adi meeting akan segera di mulai." Ucap pria itu, wajah Adi berubah menjadi dingin.


Adi tak menjawab apa-apa dan Adi langsung keluar. Nafisah tersenyum kadang dia bingung Adi tak pernah berubah.


" Kenapa kamu tersenyum seperti itu. " Tanya Adi.


" Kamu merhatiin aku ya. " Ucap Adi kepedean.


" Apa si Di kamu tuh ya pede sekali lagian siapa juga yang merhatiin kamu, aku hanya bingung aja. "


Nafisah langsung keluar dan mempersiapkan berkas dan dirinya untuk meeting. Bukannya nervous hanya saja Nafisah ragu karena ini hari pertama nya ia mempresentasikan di depan CEO dari perusahaan yang cukup ternama dan perusahaannya sudah mempunyai banyak cabangnya.


Meskipun Nafisah sudah sering meeting dengan perusahaan terkenal dan cukup besar tapi menurut Nafisah ini agak berbeda.


" Kamu mau kemana. " Tanya Adi.


" Meeting lah Di, emangnya kamu enggak dengar tadi waktu meeting akan segera di mulai. " Ucap Nafisah. Adi mengambil tas nya dan berjalan mengikuti Nafisah.


Karyawan melihat mereka bingung karena mereka tampak seperti sepasang kekasih bukan sebagai atasan dan bawahan.


Mereka pun berjalan menuju kafe dekat kantor dimana meeting akan di adakan di situ. Bisa di bilang ini meeting dadakan bagi Nafisah.


" Pagi Pak Adi. " Ucap seseorang menghampiri Adi dan Nafisah duduk berjauhan untuk mengecek berkas meeting. Nafisah masih sibuk dengan berkas yang di lihatnya.


" Pagi. " Ucap Adi


" Gimana kabarnya?. " Tanya Adi


" Alhamdulilah baik, lo datang sendiri? Sekretaris lo mana?. " Tanya pria itu melihat tak ada yang bersama Adi.


" Nafisah. " Panggil Adi agak sedikit berteriak.


Nafisah yang merasa namanya di panggil jadi menghampiri Adi tapi mata nya masih tertuju kepada berkas yang ia pegang.

__ADS_1


" Ya ada apa?. " Tanya Nafisah saat menutup berkas itu.


" Kenalin ini Pak Altaf. "


Nafisah melihat ke depan kaget, kaget saat melihat suami nya ada di hadapannya.


" Hai Pak Altaf. " Ucap Nafisah menaikan tangan di depan dada. Altaf melihat ke arah Nafisah dengan wajah datarnya.


" Hai Bu Nafisah. " Ucap Altaf, mereka seperti orang yang tak pernah kenal. Nafisah hanya bersikap profesional saja karena Altaf juga yang tak mau mengungkapkan hubungan mereka kepada semua orang.


Nafisah tak menyangka jika ternyata suami nya lah CEO dari perusahaan ternama itu. Nafisah hanya mengetahui nama perusahaan nya saja tapi belum pernah bertemu langsung dengan CEO nya. Nafisah tak berpikir jika ada kesamaan nama suami dengan nama perusahaannya.


Suami nya bernama Anugrah Dwi Altaf Aksara sedangkan perusahaan nya bernama Aksara Sejahtera.


" Al gue denger-denger lo udah nikah, gimana kabar istri lo. " Tanya Adi.


Mendengar kata Istri apakah Altaf akan memberitahu ke Adu bahwa ia sudah menikah dan Nafisah lah istrinya.


" Istri. " Ucapku tanpa sadar.


" Pak meeting nya bisa di mulai sekarang. " Ucap seorang pria yang baru saja datang.


Altaf bersyukur akhirnya ia tak perlu menjawab pertanyaan Adi. Bukannya takut hanya saja belum tepat waktunya.


...•••...


Sudah larut malam, Altaf tak pulang juga. Nafisah sampai tak tidur untuk menunggu suaminya. Nafisah hanya bertemu suami nya di kantor saja selepas itu ia pulang.


Mbok terus datang menghampiri Nafisah untuk menyuruh Nafisah tidur tapi Nafisah kekeuh menolak karena ia mau menunggu suaminya.


" Assalamualaikum. " Salam Altaf saat sampai di rumah, Nafisah tersenyum senang saat melihat suaminya datang. Nafisah menghampiri suaminya.


" Waalaikumsalam. " Nafisah mencium tangan suaminya.


" Mas makan dulu, Fisah sudah siapkan makanan untuk mas. " Ucap Nafisah. Merekapun berjalan menuju meja makan.


Sejujurnya Altaf sudah kenyang tetapi ia menghargai Nafisah dan memilih untuk makan saja.


" Kamu ga makan. " Tanya Altaf melihat Nafisah dingin. Nafisah tak suka tatapan Altaf yang dingin seperti ini.


" Aku sudah kenyang mas. " Ucap Nafisah sambil menunduk.


" Kenapa menunduk seperti itu. " Tanya Altaf lagi.


" Saya rasa kamu masih bisa bicara, jawab pertanyaan saya. " Ucap Altaf.


" Aku engga suka mas menatap Fisah dengan tatapan dingin seperti ini. " Ucap Nafisah.


" Saya tanya sama kamu kenapa tadi menganggap saya sebagai orang lain. " Tanya Altaf lagi. Nafisah bingung harusnya ia yang bertanya tapi ini kenapa sebaliknya.


" Bukannya mas yang bilang dulu kalau aku jangan bilang masalah hubungan kita dan mas juga bilang kalau kita ketemu di luar kita tidak boleh seperti orang yang tinggal satu atap. " Jelas Nafisah panjang lebar.


Altaf pergi meninggalkan Nafisah dan berjalan ke kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 11:30.

__ADS_1


Nafisah membereskan meja makan dan sesudah itu berjalan ke kamar. Nafisah melihat suaminya sudah tertidur pulas sekali. Nafisah membenarkan posisi selimut Altaf lalu Nafisah melepas hijabnya dan tidur di samping Altaf.


__ADS_2