
"Ceritanya panjang nanti Tante ceritakan, sekarang yang penting kamu masuk dan periksa Dira." Davina memilih menjawab pertanyaan Dani karena Arya hanya diam saja.
Tatapan kosong Arya hanya tertuju pada pintu ruang UGD yang ada di hadapannya, laki-laki itu tidak merespon orang yang ada di sekitarnya. Kini di dalam kepalanya hanya ada Dira dan kedua anaknya. Arya bahkan tidak peduli dengan kondisi pakaiannya yang terkena darah Dira.
Air mata penyesalan tak berhenti berjatuhan, bahkan Arya memukul kepalanya karena semua ini terjadi akibat dari emosi yang tidak bisa ia kontrol.
"Akhhh.... kenapa kamu bisa ceroboh, kamu yang menyebabkan anak dan istrimu berada dalam bahaya. Dasar bodoh." Ucap Arya sembari membenturkan kepalanya ke dinding.
Davina langsung memeluk putranya yang terlihat sangat menyedihkan, berusaha menenangkan serta menguatkan hati dan mental Arya yang sangat tertekan dan menyesal atas apa yang terjadi kepada Dira.
__ADS_1
"Ssst, jangan seperti ini kamu harus kuat. Jangan larut dalam kesedihan karena Dira butuh kamu. Kamu harus tenang, tolong kendalikan emosimu. Tidak ada gunanya meratapi apa yang sudah terjadi, sebaiknya sekarang kita fokus pada keselamatan Dira dan anak-anak kalian." Davina kembali menasehati putranya.
Hendra yang mendapat telepon dari istrinya kini sudah sampai di rumah sakit, laki-laki paru baya itu langsung meninggalkan rapat saat mengetahui menantunya masuk rumah sakit. Hendra mendekati istri dan anaknya yang sedang berpelukan. Terlihat Arya sangat hancur sehingga Davina terus memeluknya untuk memberikan kekuatan pada sang anak.
Hendra tidak pernah melihat putranya sehancur ini, mungkin ini adalah balasan untuk Arya yang dulu menyia-nyiakan wanita sebaik Dira.
"Bagaimana kondisi Dira ma?" Tanya Hendra mendekati keduanya.
Davina melepaskan pelukannya saat menyadari keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Dira masih di tangani Dokter mas, bagaimana ini mas Dira pendarahan. Aku tidak mau sampai kehilangan menantu kita mas. Tolong Carikan Dira Dokter terbaik." Akhirnya pertahanan Davina runtuh juga, wanita paru baya itu meluapkan kegundahan dan ketakutannya di dalam pelukan suaminya. Kedatangan Hendra membuat Davina mendapat kekuatan baru, rasa khawatirnya sedikit berkurang, karena yang pasti Hendra tidak akan tinggal diam melihat menantu mereka berjuang di dalam sana.
"Kalian tenang, pasti papa akan memberikan pengobatan terbaik untuk Dira. sekarang kita berdoa agar Dira dan si kembar baik-baik saja.
Arya dan kedua orang tuanya dengan setia menunggu di depan ruang UGD menanti kabar yang tak kunjung mereka dapat membuat hati ketiganya semakin was-was. Hingga terdengar suara pintu terbuka membuat ketiganya spontan mendekat dan bertanya pada Dani.
"Bagaimana kondisi Dira?" Tanya Arya tidak sabar.
"Dira harus segera di operasi agar kedua bayinya dapat diselamatkan."
__ADS_1