
Tidak terasa waktu berputar begitu cepat, sudah beberapa Minggu Dira keluar dari rumah sakit. Kondisinya juga semakin membaik karena Dira terus melakukan pengobatannya, Dira juga mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Ada sahabat-sahabat Dira, kedua mertua dan suami yang sangat mendukung dan mencintainya.
Dira akhirnya percaya dengan perasaan Arya yang kini tulus mencintainya, setelah wanita hamil itu mendengar sendiri bagaimana Arya yang selalu di landa rasa takut setiap saat karena penyakit yang ia derita.
Flashback
Arya, Dani dan Bimo sedang berbincang di teras samping rumah Arya. Kedua sahabat Arya itu datang berkunjung karena mereka sudah lama tidak nongkrong bersama. Arya selalu menolak jika di ajak keduanya.
Arya selalu beralasan tidak ingin meninggalkan Dira walau hanya sebentar saja, laki-laki itu selalu ada di samping Dira. Arya merawat sang istri dengan baik, bahkan kadang Dira sedikit risih karena suaminya selalu menempel padanya.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan kasus Tari?" Tanya Bimo memulai obrolan mereka.
"Berjalan dengan lancar, pengacara keluarga gue yang mengurus semuanya. Minggu depan sidang putusan, tapi gue lagi mumet nih, sudah beberapa hari ini Dira cuekin gue terus." Aduh Arya pada dua sahabatnya.
"Kenapa?" Tanya Bimo dan Dani bersamaan.
"Terus apa masalahnya, ya sudah kamu temani istri kamu. Wajarlah Dira ingin hadir di sidang Tari, Dira pasti ingin melihat orang yang membuat ia kehilangan orang tuanya di hukum." Ucap Bimo.
"Gue gak mau ambil resiko Bim, gue takut nanti kesehatan istri gue menurun. Kalian Tahu Dira tidak boleh banyak pikiran. Gue gak mau kehilangan Dira lagi bro, kalian juga sudah tahu kalau gue sangat mencintai Dira. Gue gak bisa bayangin kalau istri gue kenapa-kenapa. Pasti hidup gue hancur." Tutur Arya menghela napasnya.
__ADS_1
"Bucin amat Lo, sepertinya Lo kemakan omongan sendiri deh bro. Dulu Dira yang mengharap cinta Lo, sekarang kamu yang terlihat mengharap cinta Dira." Ucap Dani yang memang melihat Dira sekarang terlihat biasa dan datar kepada Arya.
"Itu juga yang jadi masalah gue sekarang, sepertinya tuhan Sedang menghukum gue karena kesalahan gue di masa lalu. Kalian tahu, Dira tidak percaya dengan ungkapan cinta gue. Berkali-kali gue ungkapin perasaan gue ke Dira tapi istri gue gak percaya. Dira bilang kalau gue cuma kasihan melihat kondisi dia. Dira mengira gue hanya berpura-pura mencintainya hanya untuk menyenangkan hatinya. Dira gak tahu kalau setiap malam gue menangis dan di hantui rasa takut akan kehilangan dia. Apalagi semakin kesini hari persalinan Dira semakin dekat, gue takut kalau istri gue ninggalin gue. Andai waktu bisa berhenti, agar tidak ada yang bisa memisahkan kami. Bagaimana lagi caranya agar Dira tahu kalau gue jujur tulus mencintainya. Hanya dia wanita yang ada di hatiku, sikap dan perhatianku selama merawatnya bukan sandiwara tapi tulus. Gue gak siap menghadapi dunia tanpa Dira." Tutur Arya meneteskan air matanya.
"Sabar kamu harus kuat, suatu saat nanti Dira pasti akan tahu kalau kamu tulus mencintainya. Anggap saja ini adalah hukuman untuk kamu yang dulu telah menyia-nyiakan istrimu. Kamu tidak sendiri, gue juga dulu seperti Lo saat Bunga mengetahui hubungan gelap gue dengan Tari. Gue harus berjuang untuk mendapatkan cinta Bunga lagi. Gue di cuekin berminggu-minggu bro." Ucap Dani mencoba menghibur sahabatnya.
Segini dulu ya, author sebenarnya sudah nyicil nulis karena rencana mau up 2 bab hari ini, tapi entah kenapa yang satu babnya hilang. mungkin author yang teledor kali ya.
maaf ya.
__ADS_1