Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 4


__ADS_3

...Dan perempuan ( Istri ) ada hak seimbang dengan hak laki-laki ( Suami ) mempunyai satu derajat lebih tinggi dari perempuan ( Istri ) dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana....


...( Al Baqarah, 2 : 228 )...


...Happy Reading...


Sudah beberapa menit Altaf dan Tyas menunggu Nafisah tapi tak kunjung datang juga.


" Al, ini sudah malam loh aku panggil Nafisah dulu ya. Kasian dia Al pasti ke capean. " Ucap Tyas berdiri tapi Altaf menahan dengan cara memegang pergelangan tangan Tyas.


" Enggak usah biar aku saja. " Tyas mengangguk lalu dia kembali duduk dan Altaf pergi bertanya kepada pelayan di situ, Altaf bertanya dimana mushola. Tak lupa ia membayar makanannya dan mencari Nafisah.


Melihat Nafisah yang sedang membenarkan mukena nya sambil memegang al-qur'an ia tak berani memanggil dan masuk di tempat perempuan akhirnya dia memilih menunggu Nafisah.


Altaf melihat kayaknya Nafisah sudah selesai. Nafisah melihat ke arah Altaf.


" Astagfirullah aku lupa ada mas Altaf. " Nafisah segera membereskan mukena nya dan memakai tasnya. Nafisah keluar dan memakai sepatu nya.


" Maaf mas, Fisah lupa kalau ada mas. " Ucap Nafisah, Altaf hanya berjalan. Altaf berhenti dan mengambil selembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya dan memberikan kepada Nafisah.


" Untuk apa mas. " Tanya Nafisah bingung.


" Kamu enggak usah bayarin makanan kamu sendiri, saya masih mampu membayarnya. " Ucap Altaf datar.


Altaf tau kalau Nafisah sudah membayar makanannya tadi jadi Altaf mengembalikan uang yang sudah Nafisah keluarkan tadi.


" Ah engga usah mas, Fisah ikhlas lagian itu juga Fisah yang makan jadi Fisah yang bayar. " Nafisah berusaha memberikan kembali uang nya ke Altaf.


" Aku suami mu aku berhak untuk menafkahi mu, apakah kau tak menganggap ku sebagai seorang suami. " Perkataan Altaf langsung membuat Nafisah terdiam tak menyangka ternyata Altaf masih menganggap nya sebagai seorang istri.


" Enggak begitu mas, maksud Nafisah bukan be____." Ucapan Nafisah terpotong oleh Altaf.


" Bisa enggak ga usah bantah. " Altaf langsung berjalan ke dalam. Nafisah tau Altaf mau kemana, ia pun berjalan ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil.


" Tyas. " Altaf menggenggam tangan Tyas. Mereka keluar dari kafe, hati Nafisah sakit melihat kedua pasangan itu romantis dan sangat cocok. Nafisah merasa dirinya seperti orang ketiga saat ini.


Altaf masuk ke dalam mobil, pintu mobil di samping Nafisah terbuka. Tyas kaget tapi ketika Tyas mau menutup pintu mobil nya kembali Altaf langsung menghentikannya.


" Sayang kamu mau kemana. " Tanya Altaf. Hati Nafisah sakit mendengar kata Sayang yang di ucapkan Altaf kepada Tyas.


" Kamu enggak usah pergi, Nafisah bolehkah kamu ke belakang. " Ucap Altaf, hati Nafisah serasa perih sakit mendengar ucapan Altaf baru juga senang kenapa ia harus merasakan kembali sakit.


" Engga apa Al, Fisah kamu di situ saja. " Tyas menghentikan Nafisah.


" Ah Engga apa-apa mba tyas biar Fisah di belakang saja. " Nafisah turun dan membuka pintu belakang lalu dia duduk dengan menunduk.


" Ya allah kuatkan Fisah. " Ucap Nafisah dalam hati.


Setetes air mata nya jatuh, ia segera mengusap air mata nya pakai jemari nya. Apakah ia kuat untuk menghadapi semuanya.


...•••...


Sesampai nya di tempat tujuan sungguh luas sekali rumah yang di pilih ayah dan bunda. Nafisah masuk ke dalam dan Altaf mengantar Tyas untuk pulang awalnya Nafisah mau melarangnya tapi percuma saja. Toh Altaf juga menikah karena paksaan pasti juga Altaf tak mau mendengarkannya.


" Assalamualaikum. " Salam Nafisah pintu nya tak di kunci dan tampak nya seperti ada seseorang di dalam rumah ini. Ada siapa di dalam, Nafisah mendorong koper nya masuk ke dalam.


" Waalaikumsalam. "

__ADS_1


Nafisah mencari keberadaan suara itu. Wanita paruh baya datang menghampirinya.


" Non Nafisah ya. " Tanya Wanita itu ia tersenyum lalu mengambil ahli koper yang di pegang Nafisah.


" Ya saya Nafisah, eum ibu siapa ya?. " Tanya Nafisah bingung.


" Saya asisten rumah tangga di sini non, panggil saja mbok Lis. " Ucap Mbok, Nafisah tersenyum.


" Makasih ya mbok, oh ya mbok itu mobil siapa kayaknya masih baru. " Tanya Nafisah karena ia melihat mobil terparkir di depan tadi.


" Mbok kurang tau non, tadi ada orang ke sini yang membawa mobil tapi ketika mbok tanya ini mobil siapa mereka hanya bilang tanya sama aden Altaf. "


Nafisah mengangguk dia naik ke atas dengan membawa koper, awalnya memang mbok yang ingin membawa nya tetapi Nafisah menolak dan menyuruh Mbok mengambilkan minum saja.


Kamar di lantai atas ada dua kamar, Nafisah memilih kamar bercat biru tosca warna kesukaan. Di kamar ini ada toilet dan tempat tidur yang cukup untuk dua orang di sisi tembok ada meja rias. Nafisah tidak yakin apakah Altaf akan tidur dengan nya, ia membersihkan badannya dan merebahkan tubuhnya.


...•••...


Alarm Nafisah berbunyi membangunkan Nafisah dari alam mimpi, ia terbangun dan melihat jam sudah pukul 04:30 ia dengan cepat berjalan ke kamar mandi untuk wudhu lalu menunaikan sholat tahajud sambil menunggu adzan subuh ia membaca al-qur'an.


Nafisah turun setelah menjalankan ibadah sholat subuh, ia heran tak melihat suami nya.


" Assalamualaikum pagi mbok. " Salam Nafisah saat melihat mbok yang sedang asik memasak.


" Walaikumsalam pagi non. " Mbok tersenyum melihat Nafisah.


" Mbok eum mas Altaf belum pulang. " Tanya Nafisah.


" Belum Non, Aden sejak malam belum pulang juga non. " Ucap mbok, Nafisah sangat khawatir sama Altaf.


Apakah Altaf tidur di rumah Tyas tapi tidak mungkin mereka bukan mahram.


Ketika Nafisah hendak menelpon.


" Assalamualaikum. " Salam Altaf ketika masuk ke rumah. Nafisah tersenyum melihat suaminya yang datang.


" Waalaikumsalam. " Ucap Nafisah menghampiri suaminya.


" Mas habis dari mana. " Tanya Nafisah khawatir.


Istri mana yang tidak khawatir melihat suami nya pergi dan tak pulang. Seharusnya malam pertamanya berdua dengan suami nya dengan kebahagian.


Tetapi lain dengan Nafisah, ia hanya pasrah meskipun hatinya sakit. Sampai kapan ia merasakan sakit ini.


" Bisa diam ga lagian ini bukan urusanmu. " Bentak Altaf, Altaf langsung naik ke atas. Air mata Nafisah menetes apakah ia tidak dianggap sebagai seorang istri. Apa salah ia hanya bertanya keadaan suaminya.


" Non Nafisah ko nangis. " Tanya mbok, Nafisah mengusap air mata nya dan tersenyum.


" Ah enggak ko mbok. "


" Sabar ya non, mbok tau perasaan non Fisah. Mbok yakin non kuat. " Ucap mbok.


Nafisah berdiri dan memeluk mbok, mbok sempat kaget tetapi ia membalasnya dan mengelus punggung Nafisah berharap Nafisah akan tenang.


" Mbok apa Fisah salah ya menanyakan keadaan Mas Altaf. " Tanya Nafisah melepaskan pelukannya, Mbok tersenyum.


Disaat seperti ini Nafisah teringat abi dan ummah nya.

__ADS_1


" Tidak non, non malahan benar hanya mungkin saja aden Al sedang kecapean jadi tidak sengaja membentak non. " Ucap Mbok. Nafisah berpikir dan tersenyum.


Nafisah dan mbok pun memasak, sungguh hati Nafisah masih sakit sekali tetapi Nafisah berusaha tegar untuk menghadapi suami nya.


Altaf turun dengan menggunakan jas hitam tak lupa dengan kacamata yang membuat dia begitu tampan.


" Mas Altaf, sarapan sudah siap. " Altaf duduk menampilkan wajah datarnya lalu dia menyantap makanannya.


Selesai makan, Nafisah mengantar Altaf ke depan. Ketika Altaf mau ke dalam mobil


" Mas Altaf tunggu, Fisah kan belum salim. " Nafisah menahan pintu mobil nya.


" Assalamualaikum mas. " Salam Nafisah lalu mencium tangan suaminya.


" Waalaikumsalam. " Altaf masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Astagfirullah aku lupa menanyakan ke mas altaf itu mobil siapa. "


Nafisah langsung masuk ke dalam rumah, ia mengambil hp nya tapi tak ada nomor suaminya.


Ponsel Nafisah berdering ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal, Nafisah mengangkatnya.


Unknown


" Assalamualaikum. "


Nafisah


" Waaalaikumsalam. "


Unknown


" Fisah ini aku Altaf, kalau kamu mau pergi pakai saja mobil yang ada di garasi itu mobil kamu. "


Nafisah


" Mas seharusnya tidak usah membelikan mobil untuk fisah. "


Altaf


" Bisa ga sekali saja tidak usah membantah, pakai saja mobil itu. "


Nafisah


" Baik lah, eum mas. Fisah sekalian mau minta izin ke kantor boleh kan?. "


Altaf


" Ya aku izinin. "


" Mas sudah sampai. " Nafisah mendengar suara khas orang bangun tidur.


Nafisah tidak salah dengar itu suara perempuan, Siapa dia. Apakah Tyas pacar Altaf karena Nafisah belum tau apakah mereka masih menjalin hubungan atau mereka sudah putus.


Nafisah


" Kalau gitu Fisah tutup ya mas, assalamualaikum. "

__ADS_1


Nafisah langsung menutup telepon nya, lagi dan lagi air matanya menetes. Hatinya serasa sakit sekali.


__ADS_2