
"Tolong bawa aku ke rumah sakit" Pinta Dira sembari menahan rasa sakit yang semakin menjadi.
Dengan tangan yang gemetar Arya langsung menggendong Dira, rasa panik dan takut kini bercampur menjadi satu. Hal yang paling di takutkan akhirnya terjadi, kini hanya penyesalan yang di rasakan Arya.
"Mama .... mama.... tolong Arya ma." Teriak Arya yang kini mendekat ke arah ruang keluarga tempat dimana Davina duduk bersantai.
Davina langsung berdiri saat matanya melihat Arya menggendong Dira yang terlihat kesakitan. Jantungnya kini berdetak dengan cepat, rasa khawatir dan takut kini memenuhi otaknya. Apa yang ia takutkan terjadi, ingin rasanya Davina menghajar putranya yang bodoh itu, tapi melihat situasi yang tidak memungkinkan membuat wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya. Davina hanya menatap tajam Arya yang sudah menangis ketakutan.
"Apa yang terjadi, kenapa Dira kesakitan seperti ini. Astaga kenapa istri kamu berdarah seperti ini?" Tanya Davina semakin panik saat melihat menantunya berdarah.
__ADS_1
"Arya juga tidak tahu ma, saat Arya masuk ke dalam kamar, Dira sudah kesakitan dan berdarah. Ayo kita ke rumah sakit ma." Arya sudah tidak tahan melihat Dira yang kini semakin lemah bahkan kesadaran Dira sudah mulai hilang.
"Ayo cepat bawa istri kamu ke depan dan tunggu mama di situ, mama ambil tas dan dompet mama dulu." Perintah Davina.
Di tengah kepanikan seperti ini, ia di tuntut untuk berpikir jernih karena sang anak sudah tidak bisa berpikir melihat kondisi menantunya. Davina berteriak memanggil asisten rumah tangga mereka untuk menyuruh sopir menyiapkan mobil, kemudian ia berlari ke dalam kamar untuk mengambil tas, dompet beserta ponselnya.
"Cepat ma...." Teriak Arya dari dalam mobil.
Setelah sampai di rumah sakit Dira langsung di bawa ke UGD, sebelum memasuki ruang UGD sempat terjadi keributan karena Arya memaksa untuk ikut masuk menemani Dira.
__ADS_1
Beruntunglah Davina dapat menenangkan sang anak, sehingga Arya akhirnya mau menunggu di luar saja.
"Apa yang kamu lakukan nak, tindakan kamu tadi hanya memperlambat para medis menangani Dira. Percayakan semua pada mereka, kita bantu doa dari sini. Semoga Dira dan anak-anak kalian baik-baik saja." Ucap Davina menenangkan Arya.
"Arya takut ma, Arya tidak mau kehilangan Dira dan anak-anak Arya. Ini semua salah Arya yang tidak bisa mengontrol emosi. Ya Tuhan tolong selamatkan istri dan kedua anakku. Tolong beri kesempatan untuk kami hidup bersama." Pinta Arya terlihat prustasi.
"Sudah tenangkan dirimu, Dira dan anak-anak kalian pasti kuat. Semoga ini menjadi pelajaran untuk kamu nak. Kamu bukan anak muda lagi, seharusnya kamu belajar untuk mengontrol emosi kamu. Apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi ayah, lihatlah akibat dari emosi sesaat kamu. Dira harus mengalami kejadian ini." Davina menuntun sang anak untuk duduk di kursi tunggu.
Rasa jengkel dan marah pada sang anak akhirnya berganti dengan rasa kasihan saat melihat Arya ketakutan dan terlihat menyesali perbuatannya. Davina memilih untuk menenangkan Arya daripada menyalahkan atau menyudutkan putranya karena takut Arya semakin terpuruk. Davina akan menghajar sang anak saat kondisi menantu dan cucu-cucunya sudah membaik nanti, bukan berarti melupakan sikap bodoh putranya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, kenapa Dira bisa pendarahan seperti ini?" Dani yang ingin memasuki UGD berhenti sebentar untuk menanyakan penyebab Dira pendarahan.