Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 57


__ADS_3

...Happy Reading...


Bandung


Hari ini Altaf dan beberapa staf nya sedang berada di daerah bandung untuk melangsungkan dinas nya beberapa hari ke depan.


Tanpa Nafisah dan Altaf sadari sebenarnya mereka berada di kota dan tempat yang sama.


" Hari ini mau makan siang apa?." Tanya teman nya kepada Altaf.


" Eum apa aja lah terserah." Ucap Altaf yang irit dengan perkataan itu.


" Gimana kalau kita makan nasi pecel, denger-denger nih iya di sini ada tukang nasi pecel yang enak. Gimana kalian mau coba nggak?." Tawar temannya.


" Boleh tuh." Ucap salah satu karyawan Altaf


" Gimana Al?." Tanya temannya karena hanya Altaf yang belum menjawab


" Terserah ikut aja lah."


...•••...


Altaf dan beberapa karyawan sedang makan di tempat nasi pecel yang tanpa di sadari bahwa yang jualan adalah Nafisah karena Nafisah sedang di dalam jadi yang melayani nya si embah.


Altaf hanya diam saja sepanjang makan karena emang dia tidak nafsu makan akhir-akhir ini selera makan nya hilang.


" Mbah ini baskom nya. " Ucap seseorang yang suara nya familiar buat Altaf.


Sontak Altaf melirik ke arah nya dan tatapan mereka bertemu.


" Nafisah." Ucap Altaf lirih, Altaf takut dia hanya berkhayal.


Cukup lama Nafisah tak menjawab karena jujur dia sangat kaget, bagaimana Altaf bisa di sini.


" Mas Altaf." Akhirnya Nafisah membuka suara


Altaf bangun dari duduk nya menghampiri Nafisah, dia memegang tangan Nafisah untuk memastikan bahwa dia sedang tidak berkhayal.

__ADS_1


" Ini beneran kamu Fisah?." Tanya Altaf, Nafisah hanya diam karena sejujurnya dia bingung.


Si embah melihat momen ini sangat bahagia sekali, si embah bisa melihat dari tatapan kedua nya terselip rindu yang sangat mendalam satu sama lain.


Nafisah hanya mengangguk saja dan spontan Altaf langsung memeluknya membuat Nafisah mematung.


" Mas rindu sekali sama kamu Fisah." Ucap Altaf lirih dalam pelukannya.


Lama Altaf memeluknya akhirnya dia melepaskan nya karena dia melihat Nafisah tidak nyaman dan dia takut membuat Nafisah sesak.


Nafisah masih diam dan menatap Altaf tapi tidak matanya karena Nafisah tidak sanggup menatapnya.


Altaf yang di hadapannya sangat kacau seperti tidak terurus sama sekali.


" Kamu apa kabar sayang?." Tanya Altaf pada Nafisah yang masih diam saja daritadi.


" Eum kayaknya kalian harus berbicara berdua deh, Fisah ndok kamu bawa suami mu ke dalam biarkan dia istirahat juga." Ucap si embah, Nafisah hanya diam saja.


" Ndok." si embah memberi kode agar segera masuk ke dalam rumah


" Ah iya, mari mas ke dalam saja." Altaf pun mengangguk tapi membiarkan Nafisah agar berjalan terlebih dahulu.


" Terima kasih sayang."


Hening


cukup lama dengan suasana satu sama lain berdiam seperti ini.


" Sudah berapa bulan usia nya?." Tanya Altaf memecah keheningan.


" Insya allah minggu depan masuk usia 8 bulan mas." Ucap Nafisah apa adanya.


" Tak terasa ya sudah 8 bulan, sebentar lagi aku jadi seorang ayah tambah tua deh aku." Ucap Altaf yang sedikit bergurau agar tidak terlalu canggung.


Tapi semua itu tak membuat Nafisah ketawa sama sekali.


" ndok itu dibuatkan minuman toh buat suami mu." Tegur si embah dari depan

__ADS_1


Nafisah pun beranjak bangun tapi di tahan oleh sang suami " tidak usah sayang mas sudah minum kan tadi."


" Nggak apa-apa mas biarkan Fisah buatkan minum lagi." Ucap Nafisah, Altaf hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


' prakkk'


Altaf segera berlari ke arah dapur setelah mendengar benda jatuh. Sesampai ia di dapur dan benar sekali Nafisah menjatuhkan gelas.


" Sudah sudah biar mas saja." Ucap Altaf ketika melihat Nafisah hendak berjongkok membersihkan serpihan kaca.


" Tapi mas."


" Sudah kamu diam saja biar mas yang bersihkan."


" arghh sshh. " Tanpa sengaja tangan Altaf tertusuk oleh serpihan kaca yang tajam itu.


Darah segar pun mengalir dari tangan tapi segera Altaf tutupi dan dia pun membersihkan semua serpihan kaca.


Setelah membersihkan nya Altaf kembali ke depan untuk menemani Nafisah yang tadi Altaf suruh untuk duduk saja.


Altaf berjalan dan sedikit menutup telapak tangannya yang masih berdarah.


" Sudah mas bersihkan ya semuanya lain kali kamu hati- hati ya." Ucap Altaf melembutkan suaranya karena dia takut sang istri salah paham.


" Terima kasih mas."


" Sama sama sayang. " Ucapnya sambil mengelus kepala Nafisah tapi malah membuat dia merasakan sakit di tangannya.


" Aww. "


" Mas kenapa?." Tanya Nafisah sontak saat mendengar Altaf kesakitan.


" Ah ngga apa-apa ko sayang."


" Mas, Fisah ngga suka ya mas bohong begini." Ucap Nafisah dengan menatap Altaf tajam.


" Beneran sayang mas ngga apa-apa."

__ADS_1


" MAS."


To be continue....


__ADS_2