
Davina dan Hendra langsung mendatangi rumah sakit saat Arya memberi kabar bahwa sang menantu telah sadar dari koma, rasa bahagia meliputi sepasang suami istri tersebut. Penantian panjang selama tiga bulan akhirnya berbuah manis, menantu mereka membuka mata dan bangun dari tidur panjangnya. Sungguh keajaiban yang luar biasa bagi mereka yang sudah berada dalam fase putus asa.
"Bagaimana keadaan Dira Dani?" Tanya Hendra yang baru selesai memeriksa Dira.
"Keadaan Dira berangsur membaik om, ini adalah suatu mukjizat dari tuhan karena Dira berhasil bertahan walau sudah di vonis dengan harapan hidup yang sangat tipis. Jika kondisi kesehatan Dira semakin stabil maka kami akan melakukan operasi jantung pada Dira om. Doakan saja semoga semua berjalan lancar sesuai dengan yang sudah kita rencanakan. Jika operasi berjalan dengan lancar maka translasi jantung tidak di perlukan." Tutur Dani.
"Terima kasih Dani, apakah tidak ada pantangan untuk Dira saat ini? Kami takut melakukan kesalahan yang berujung fatal bagi kesehatan Dira." Tanya Hendra kembali.
"Untuk saat ini Dira harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran, Dira belum boleh mengkonsumsi makanan selain makanan dari rumah sakit. Untuk saat ini sebaiknya Dira menggunakan kursi roda dulu, nanti setelah operasi berjalan lancar atau setelah Dira sudah pulih baru bisa belajar berjalan lagi. Tidak usah khawatir Dira bukan mengalami kelumpuhan, hanya saja Dira harus kembali menyesuaikan tubuhnya untuk kembali berjalan. Hal ini sudah biasa bagi Pasien yang baru sadar dari koma, secara umum memang akan butuh pembiasaan lagi. Dira bukannya lupa mengenai bagaimana caranya berjalan, tapi tubuhnya yang butuh untuk beradaptasi kembali." Ucap Dani menerangkan kondisi Dira agar Arya dan kedua orangtuanya tidak khawatir.
"Terima kasih nak Dani." Ucap Hendra.
"Iya om, kalau begitu Dani permisi dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Dani saja om." Ucap Dani.
*
*
*
__ADS_1
Tangis bahagia Davina pecah saat memeluk tubuh menantu kesayangannya, akhirnya doa-doanya di dengar sang pencipta. hari ini Dira bangun dari tidurnya membawa secercah harapan untuk semua orang yang menanti kesembuhan Dira.
"Mama kenapa menangis, mama sedih?" Tanya Dira dengan suara pelan.
"Mama bahagia nak, akhirnya kamu mampu berjuang melewati semua ini. Mama sangat takut saat kamu di nyatakan koma, mama gak tau apa yang akan terjadi jika kamu tidak mampu bertahan. Bagaimana dengan cucu-cucu mama yang akan kehilangan kasih sayang mamanya. Terima kasih ya sayang sudah bertahan. Mama minta sekali lagi kamu harus berjuang untuk kesembuhan mu. Mama yakin kamu pasti kuat, berjuanglah untuk sembuh demi Gilang dan Gita." Ucap Davina.
"Gilang, Gita ?" ucap Dira bingung.
"Anak kembar kita sayang, kakak memberi nama mereka Gilang dan Gita seperti yang sudah kita rencanakan. Benar kata mama kamu harus kuat untuk berjuang sekali lagi, kakak akan selalu ada di sampingmu. Kamu harus janji untuk bisa sembuh, karena ada kakak dan si kembar yang sangat mencintaimu. Kami sangat membutuhkan kamu sayang, kakak tidak bisa hidup tanpa kamu jadi kakak mohon berjuanglah sekali lagi." Ucap Arya.
"Dira ingin bertemu dengan anak-anak Dira kak, Dira ingin memeluk mereka. Apa mereka ada di sini?" Tanya Dira.
"Tidak sayang, mereka ada di rumah. Jika kamu ingin segera bertemu dan memeluk mereka kamu harus sembuh." Ucap Davina.
"Bukan begitu nak, mama bukan tidak memperbolehkan kamu bertemu dengan si kembar, tapi tidak baik untuk si kembar datang ke rumah sakit, mereka masih terlalu kecil dan rentan terkena virus. Kamu tahu sendiri di rumah sakit banyak virus." Tutur Davina panik saat melihat Dira sudah berlinang air mata.
Arya yang tak tega melihat kesedihan sang istri langsung mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto kedua anak kembar mereka yang terlihat begitu menggemaskan.
"Ini anak kita kak, mereka sudah besar? Berapa usia mereka sekarang kak?" tanya Dira dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
"Sekarang mereka sudah berusia tiga bulan, mereka sangat menggemaskan bukan?"
"Ya mereka sangat menggemaskan, tampan dan cantik. Ternyata aku sudah melewatkan pertumbuhan mereka terlalu lama." Ucap Dira kembali sedih.
Wanita itu merasa tidak berguna jadi ibu, karena tidak terlibat dalam membesarkan kedua buah hatinya. Dira merasa bersalah pada kedua buah hatinya.
"Maaf karena sudah merepotkan semua orang, harusnya Dira yang merawat mereka tapi karena Dira sakit semua orang jadi repot." Ucap Dira yang sudah meneteskan air matanya.
Arya langsung memeluk istrinya, menenangkan Dira yang sedang menangis karena rasa bersalah.
"Hey, kamu bicara apa sih sayang. Jangan merasa bersalah seperti ini. Bagi kami kamu adalah ibu terhebat di dunia ini. Kamu bahkan rela mempertaruhkan nyawa kamu hanya untuk melahirkan keturunanku. Walau dalam keadaan sulit tapi kamu masih mempertahankan mereka. Kami tidak merasa di repotkan sayang. Jika kamu ingin menebus waktu yang terbuang dengan si kembar maka berjuanglah untuk sembuh. Setelah itu kita akan merawat si kembar bersama, membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang. Kita akan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita." Ucap Arya mencoba menenangkan istri tercintanya.
"Apa yang di katakan suamimu benar nak, si kembar pasti sangat menanti kepulanganmu. Jangan merasa bersalah kami tidak di repotkan dengan merawat cucu kami. Justru papa mau berterima kasih pada kamu nak. Terima kasih karena sudah memberi papa dua cucu yang akan menjadi penerus keluarga Nugroho. Sekarang jangan pikirkan apapun, fokuslah dengan kesehatanmu nak. Jangan khawatir dengan si kembar, ada mama dan papa yang menjaga mereka. Kamu tidak usah takut kehilangan momen tumbuh kembang Gilang dan Gita karena mama dan papa sudah merekam setiap momen tumbuh kembang mereka, agar kamu bisa menyaksikan tumbuh kembang mereka walau dalam bentuk video. Jika kamu mau melihatnya Maka kamu harus sembuh dulu." Tutur Hendra menyemangati menantu satu-satunya itu.
Dira menganggukkan kepalanya, air matanya kembali menetes. Bukan rasa sedih atau rasa bersalah lagi tapi rasa haru dan bahagia karena sudah di kelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya dengan tulus. Semangat untuk sembuh kini semakin membara, dukungan dari suami dan kedua mertuanya mampu membuat Dira bertambah kuat dan optimis untuk sembuh. Apalagi saat melihat foto kedua buah hatinya membuat ibu muda itu tidak sabar untuk sembuh dari sakitnya.
"Terima kasih untuk mama dan papa karena sudah mendukung Dira. Terima kasih untuk kak Arya yang selalu setia untuk menjaga dan merawat Dira." Ucap Dira tulus.
"Terima kasih karena sudah bertahan, untuk kakak dan kedua buah hati kita sayang." Balas Arya sembari mengecup tangan Dira.
__ADS_1
Author lagi galau nih, kenapa ya cobaan di dunia ini berat sekali. Author nulisnya nangis nih, mana ceritanya tentang anak lagi. Nulis bab ini karena author gak bisa tidur kebangun karena anak rewel. kemarin author yang sakit sekarang anak author yang sakit. Entahlah hati author lagi sakit lihat anak sakit begini, nanti mau ke dokter anak doain ya anak author biar sembuh.
Gak tahu lagi mau cerita sama siapa tentang beban hidup ini, pengen ada teman berbagi rasanya otak ini sudah mau pecah dengan semua masalah hidup ini.