
Deg....
Arya membantu saat mendengar permintaan sang istri, di tambah lelaki itu semakin merasa bersalah karena Dira ternyata mengetahui kalau ia baru saja bertemu dengan Tari. Arya hanya mengangguk tanda ia menyetujui permintaan istrinya. Entahlah rasa benci itu perlahan memudar, Arya kini lebih senang saat berada di dekat Dira. Arya bahkan tidak memikirkan bagaimana reaksi Tari jika ia semakin mengabaikan wanita itu nantinya.
"Terima kasih kak, sudah mau memenuhi permintaanku. Bersabarlah ini hanya sementara. Setelah ini kakak akan bebas dan bisa bersama dengan orang yang kakak cintai." Ucap Dira mencoba tersenyum.
"Bagaimana keadaan kamu dan anak kita, apa ada keluhan? Anak papa yang baik ya di dalam perut mama, harus kuat dan sehat. Jangan buat mama kesusahan ya nak." Ucap Arya sembari mengelus perut sang istri. Lelaki itu sengaja mengalihkan pembicaraan Dira yang membuatnya tidak nyaman.
Dira meneteskan air matanya saat melihat Arya yang begitu hangat terhadap anak yang ada di dalam kandungannya. Rasanya Dira semakin tenang jika memang ia tidak bisa bertahan setelah melahirkan nanti, Arya ayah dari anaknya sudah bisa menerima bahkan mencintai anaknya.
Dira yakin kelak anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang karena ada ayah dan kakek neneknya yang akan mencurahkan banyak cinta dan kasih sayang untuk anaknya.
__ADS_1
"Kakak mandi dulu biar wangi, setelah itu kita makan malam bersama mama dan papa. Tadi mama sudah bilang mau makan malam di sini." Ucap Dira memberitahu suaminya.
"Ok mama, papa mandi dulu." Ucap Arya menggoda Dira.
Terbukti Dira merona mendengar ucapan Arya , membuat Arya tersenyum melihat Dira salah tingkah. Rasa dan getaran-getaran cinta yang sempat hadir sebelum kehadiran wanita masa lalunya kembali hadir bahkan semakin terasa membuat jantung Arya berdebar dengan hebat.
Dira kembali menetralkan debaran jantungnya setelah sang suami memasuki kamar mandi. Rasanya sangat bahagia melihat tatapan Arya yang sudah kembali seperti dulu, terlihat senyum di wajah Arya bukan tatapan kebencian seperti yang ia lihat akhir-akhir ini.
Dira meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya, melihat kembali pesan yang di kirimkan Tari untuknya.
Dira hanya tersenyum melihat Tari yang mulai kesetanan karena Arya lebih memilih menghabiskan waktu untuk merawat istrinya dari pada menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Dira tidak membalas pesan Tari bahkan Dira langsung memblokir nomor wanita itu. Dira tahu jika Tari hanya berusaha memprovokasi dirinya saja.
__ADS_1
Dira tak ingin ambil resiko dengan meladeni wanita gila seperti Tari, takut akan memperparah kondisinya. Dira hanya ingin menikmati sisa hidupnya dengan damai dan berada di dekat orang-orang yang ia sayang dan cintai.
"Aku tidak akan terpengaruh dengan semua ucapanmu. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dan membuat banyak kenangan indah dengan orang-orang yang aku sayangi." Ucap Dira.
Arya menggendong Dira kemudian mendudukkannya dengan sangat hati-hati. Dira yang memaksa ikut untuk makan malam di meja makan walau sudah di larang olehnya. Dira beralasan tidak nafsu jika makan sendirian membuat Arya tidak tega.
Mama dan papa Arya nampak mengulas senyumnya saat melihat Arya yang begitu telaten mengurus Dira yang terlihat semakin lemah saja.
kini mereka sedang menikmati makan malam bersama, Hendra memulai obrolan tentang kesehatan menantunya yang terlihat sedikit ganjil baginya, Hendra sedikit curiga. Lelaki paru baya itu hanya ingin memastikan kondisi menantunya baik-baik saja.
"Apa sebaiknya kita melakukan pemeriksaan untuk seluruh kesehatan kamu nak. Papa takut ini bukan hanya pengaruh kehamilan kamu saja nak. Kamu terlihat semakin lemah dan kurus." Ucap Hendra khawatir.
__ADS_1
Deg.....
segitu dulu, otak author lagi mumet maklum author hanya pemula di dunia perhaluan ini. Kadang imajinasi Lancar jaya kadang macet. Author mau nyetrika dulu, mumpung anak lagi tidur selamat beristirahat semua, jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat lagi.