Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 23


__ADS_3

...Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Yang pertama adalah keberanian yang kedua adalah pengorbanan....


...Happy Reading...


Sedang di sisi lain setelah makan tadi Nafisah dan Rara di antar pulang kembali.


Memasuki rumah yang cukup sederhana itu, Nafisah mencari umi nya Rara pasti dia sudah khawatir karena Rara belum pulang.


" Assalamualaikum. " Salam Nafisah yang di jawab teriakan umi dari arah dapur.


Nafisah menghampiri arah suara yang berada di dapur, ia melihat umi yang sedang membuat teh. Rara langsung berlari memeluk umi nya.


" Assalamualaikum umi. " Ucap Rara menyalami tangan wanita itu.


" Waalaikumsalam Rara, habis dari mana kamu sayang. " Tanya umi mengelus kepala Rara.


" Maaf umi Rara pergi tadi diajak makan sama om tampan yang menolong Rara waktu itu. " Ungkap Rara, Nafisah yang mendengarnya terkekeh.


Nafisah menghampiri umi dan memberikan plastik berisi makanan " Oh ya umi ini untuk umi, umi sudah minum obat belum. " Tanya Nafisah


Umi mengambil plastik yang berisi makanan itu " Makasih ya nak Nafisah maaf umi telah merepotkan kamu sayang tapi sekarang alhamdulilah umi sudah lebih baik atas bantuan nak Nafisah. "

__ADS_1


" Ah umi ini semua bukan karena Nafisah tapi karena Allah menitipkan rezeki kepada Nafisah untuk membantu umi. " Ujar Nafisah.


Umi mengangguk dan mengucapkan hamdallah atas rasa syukur nya kepada sang maha kuasa.


" Oh ya umi maaf Nafisah tidak bisa lama-lama soalnya temen Nafisah sudah menunggu di luar. " Ucap Nafisah saat membuka pesan yang ditulis oleh Mirna.


" Sekali lagi terima kasih ya nak Nafisah. " Ucap umi, Nafisah mengangguk dan menyalaminya sedangkan Rara sudah tak ada di dapur mungkin dia di pergi ke kamar nya.


" Ya umi sama-sama kalau gitu Fisah pergi dulu ya, assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Nafisah berjalan keluar menemui Mirna yang sudah menunggu di depan.


" Waalaaikumsalam. "


" Ya sudah yuk jalan. " Ajak Nafisah, Mirna mengangguk mereka berjalan ke arah mobil tak pamit kepada anak-anak di sini karena hari yang sudah malam.


" Fisah apa kamu tak mau pulang?. " Tanya Mirna saat mereka berada di dalam mobil


Nafisah menatap Mirna yang menunggu jawaban dia.

__ADS_1


" Nggak tau aku masih tak sanggup untuk menemuinya. Aku juga tidak tau surat itu sudah di tanda tangani atau belum. Aku yakin Mas Altaf pasti sedang bahagia sama Tyas. " Ucap Nafisah.


Air mata Nafisah menetes seketika karena mengingat pria yang halal sudah dia cintai itu, rasa ini tak mau menghilang. Nafisah tidak takut kehilangan tapi dia takut karena sudah melaksanakan apa yang allah tak suka.


" Sudah lah Nafisah jangan menangis terus seperti ini jika memang kamu belum sanggup kehilangan Altaf kalian harus bicara baik-baik jangan seperti ini sama aja kamu lari dari masalah. Aku tau kau masih mencintai Al dan aku juga tau kau bukan wanita lemah yang seperti ini. " Nasihat Mirna yang menatap Nafisah penuh arti sambil menggenggam tangan Nafisah.


" Makasih ya. " Ucap Nafisah memeluk Mirna.


" Kamu pikirkan baik-baik jangan mengambil keputusan karena merasa bersalah. " Ucap Mirna yang langsung melaju kan mobilnya.


" Mir kita mau kemana?. " Tanya Nafisah karena ini bukan jalan ke arah rumah keduanya.


" Jenguk umi nya Adi, kamu mau kan? Aku nggak tega lihat umi yang terus mencari mu sedangkan aku yang mengetahui hanya bisa terdiam. " Mohon Mirna, Nafisah menatapnya kasihan sudahlah yang penting aku tak ke rumah Altaf toh ini juga demi umi nya Adi.


" Nafisah kalau nggak mau gapapa kita pulang saja. " Ucap Mirna lagi dan Nafisah menggeleng


" Kita ke rumah umi sekarang. " Jawab Nafisah dan Mirna tersenyum senang.


" Makasih Nafisah. " Nafisah mengangguk, Mirna tersenyum kepada Nafisah.


Nafisah teringat akan ajakan Adi kepadanya, apakah dia mencari Nafisah.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2