Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 34


__ADS_3

...Suami istri adalah partner dalam sebuah pernikahan, bukan seperti pembantu dan majikan. Keduanya harus ikhlas berbagi peran agar rumah tangga seiring sejalan....


...Happy Reading...


Sudah hampir 3 hari Nafisah di kamar inap dan seharusnya hari ini atau lusa dia sudah diperbolehkan pulang.


" Mas, darimana?. " Tanya Nafisah saat melihat Altaf baru saja datang.


" Abis dari depan cari angin. " Ucapnya.


tok tok tok


" Masuk. " Ucap Altaf, Nafisah tersenyum melihat kedatangan Tyas sedangkan Altaf dia hanya memperlihatkan wajah dinginnya.


Entah lah setelah Altaf dan Tyas bercerai, Altaf menjadi dingin dan menjaga jarak memang dia mencintai Tyas tapi rasa itu hilang semenjak kebohongan itu.


" Nafisah. " Tyas langsung menghampiri Nafisah dan memeluknya.


" Ya allah mba Tyas makasih loh sudah menjenguk Fisah. " Ucap Nafisah


" Mba sebenarnya sudah ke sini tapi saat kamu masih kritis, memangnya Al tidak ngasih tau kamu. " Nafisah menggeleng karena memang benar Altaf belum memberitahunya.


" Mungkin Al lupa karena terlalu mencemaskan kamu sekali bahkan ketika bunda memberi makan dia tidak bergeming dari depan ICU. " Jelas Tyas.


" Altaf takut sekali kehilangan kamu Nafisah, ya kan Al. " Tyas melirik ke arah Altaf yang hanya tersenyum saja.


" Mba maafkan Fisah. " Ucap Nafisah


" Maaf untuk apa. " Tyas mengerutkan dahi nya.


" Fisah sudah tau semuanya dan Fisah merasa seperti perusak rumah tangga mba sama mas Altaf. " Ujar Nafisah.


Tyas hanya tersenyum tapi berbeda dengan Altaf yang menatap diri nya tajam.


" Nafisah Nafisah tidak ada yang merusak ko hanya ini salah mba saja dan mba juga sudah ikhlas ko malah mba mau kalian bahagia selalu." Ucap Tyas


" Tapi mba. "


" Tidak ada tapi-tapian Fisah, mba mau lihat kalian bahagia dan segera mengasih mba ponakan, oke. " Ucap Tyas melihat Nafisah, Nafisah tersenyum malu.


" Untuk kamu Al jangan kasar dan cuek lagi ke Nafisah ya. Sayangi dan cintai dia seperti kamu menyayangi dan mencintai ku dulu. " Ucap Tyas menatap Altaf lagi dan lagi Altaf hanya tersenyum.


" Tanpa kamu menyuruhku, aku sudah mencintai Nafisah sejak dulu bahkan sebelum mengenal mu dan mungkin kamu dulu adalah pelampiasan ku untuk melupakan rasa ku ke Nafisah, maafkan ku Tyas. " Ucap Altaf dalam hati.


" Oh ya kapan kamu di perbolehkan pulang, Fisah?. " Tanya Tyas.


" Insya allah hari ini atau lusa tinggal tunggu dokter saja ko mba. " Ujar Nafisah.


" Mba. " Panggil Nafisah yang memecahkan keheningan saat suasana hening melanda mereka bertiga.


" Ya fisah, ada apa?. " Tanya Tyas

__ADS_1


" Mba, boleh kah Nafisah menganggap mba sebagai kakak ku. " Ujar Nafisah


" Boleh banget dengan senang hati mba akan menganggap kamu adik mba, mba harap kita bisa bahagia bersama tanpa melihat ke arah masa lalu ya. " Ucap Tyas


" Fisah boleh meluk mba lagi?. " Tanya Nafisah


" Tanpa kamu meminta mba akan memeluk mu sayang. " Tyas langsung mendekat ke arah Nafisah dan memeluknya.


" Alhamdulilah mereka bahagia sekali mungkin aku akan mencoba berdamai dengan diri ku dan memaafkan tyas karena apa yang di ucapkan tyas benar. Kita harus bahagia tanpa melihat masa lalu. " Ucap altaf dalam hati.


" Aduh maaf banget nih aku nggak bisa menunggu sampai dokter datang karena ada urusan yang harus ku selesaikan. " Ucap Tyas


" Ah tidak apa mba kan sudah ada mas altaf ko." Ucap Nafisah tersenyum.


" Ya sudah kalau gitu nanti kabarin mba ya kalau sudah di perbolehkan pulang. Mba mau main ke rumah kalian, boleh kan?. " Ujar Tyas


" Ya ampun mba boleh saja bahkan pintu rumah selalu terbuka untuk mba. " Ucap Nafisah.


" Terima kasih. " Ujar Tyas


" Mba seharusnya Fisah yang mengucapkan terima kasih ke mba karena sudah menjenguk fisah sekarang. " Ucap Nafisah


Tyas tersenyum lalu berkata " Kalau gitu aku pamit pulang ya. "


" Mau ku antar?. " Tawar Altaf


" Tidak usah al kamu jaga Nafisah saja kan katanya dokter mau datang. " Ujar Tyas karena dia tidak mau melukai hati Nafisah.


" Ya sudah kalau gitu, assalamualaikum." Tya pun langsung keluar dari kamar inap Nafisah.


" Kamu kenapa berucap seperti itu tadi. " Tanya Altaf yang teringat ucapan Nafisah yang menyalahkan diri nya atas perceraian altaf dan tyas.


" Nafisah hanya berkata sejujurnya. "


" Berkata sejujur nya apa Fisah, kamu seperti itu sama saja kamu menyalahkan diri mu atas perbuatan yang tidak pernah kamu lakukan. " Ujar Altaf.


" Aku tidak suka melihat mu seperti tadi ini bukan salah mu mungkin aku dan tyas tidak berjodoh. Dan aku sama tyas bercerai karena masalah bukan karena mu, Paham?!. " Tegas Altaf.


" Paham. " Ujar Nafisah menunduk sedangkan Altaf menatapnya dingin.


" Jangan menatap Nafisah seperti itu, Nafisah takut. " Ucap Nafisah dan refleks Altaf langsung mengubah tatapannya.


" Maaf. " Ucap Altaf.


" Selamat pagi bu, pak. " Sapa dokter yang baru saja datang


" Kita periksa dulu ya bu. " Ucap dokter yang langsung memeriksa kondisi Nafisah.


" Kondisi bu Nafisah sudah mulai membaik dan hari sudah boleh pulang. "


" Terima kasih dok. " Ucap Nafisah

__ADS_1


" Sama-sama bu kalau gitu saya akan buat resep obat untuk ibu konsumsi selama perawatan di rumah dan 3 hari sekali ibu kontrol untuk perban yang di kepala. " Ujar dokter.


" Baik dok. " Nafisah tersenyum ke arah dokter


" Kalau gitu saya permisi. " Dokter dan suster pun keluar dari kamar inap.


" Kita siap-siap ya. " Ucap Altaf


Nafisah berusaha diri tapi keseimbangan Nafisah belum stabil


" Pelan-pelan kan bisa. " ujar Altaf


" Kamu duduk saja biar saya yang membereskan semuanya. " Titah Altaf karena dia tau Nafisah masih belum bisa beraktivitas banyak, Nafisah hanya mengangguk lagian dia juga masih lemas.


...•••...


Tanpa basa basi Altaf langsung menggendong Nafisah masuk ke mobil


" Silahkan masuk pak. " Ujar supir karena hari ini Altaf tidak menyetir sendiri.


" Terima kasih, jangan lupa masukin kursi roda nya ke bagasi. " Titah Altaf.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah.


" Tunggu sebentar. " Ucap Altaf yang turun lebih dulu dari mobil, Altaf mengeluarkan kursi roda lalu dia membuka pintu mobil mempersilahkan Nafisah turun. Dia sedikit memapah Nafisah untuk duduk di kursi roda.


" Sementara waktu kamu makai ini, paham?." Ujar Altaf, Nafisah hanya bisa mengangguk saja.


Altaf membantu Nafisah mendorong kursi roda menuju dalam rumah.


" Assalamualaikum. " Ucap Nafisah dan Altaf yang di sambut bunda, ayah dan mbok.


" Waalaikumsalam. " Sahut mereka semua.


" Wah non sudah pulang, sini tas nya biar mbok yang taruh di kamar. " Ucap mbok yang langsung mengambil tas di tangan Altaf, Altaf memberinya dengan tersenyum.


" Welcome to house ya sayang. " Ucap bunda yang memeluk Nafisah walau sedikit berjongkok karena biar sama dengan Nafisah.


" Ya sudah Fisah kamu istirahat di kamar, Al antar Nafisah nya ke kamar. " Perintah bunda dan Altaf langsung membawa nya ke kamar tapi karena naik tangga jadi Altaf menggendongnya saja.


" Loh mas ko ke kamar ini. " Tanya Nafisah


" Kamu istri ku jadi kamu harus tidur di kamar ini. " Ucap Altaf


" Tapi mas. "


" Bisa jangan bantah nggak. " Tegas Altaf, Nafisah.


Altaf membuka pintu dan langsung membaringkan Nafisah di ranjang.


" Ya sudah kamu istirahat, saya mau pergi sebentar ada urusan. " Ucap Altaf.

__ADS_1


Nafisah mengangguk dan membaringkan tubuhnya memilih untuk istirahat saja agar bisa beraktivitas kembali seperti biasa.


To be continue...


__ADS_2