
...Jangan biarkan cintamu menjadi keterikatan atau kebencian mu menjadi kehancuran...
...~ Umar Bin Khattab...
...Happy Reading...
Saat ini Nafisah dan Mirna sedang di rumah besar yang bercat putih. Nafisah sudah beberapa lama tak menginjakkan kaki di rumah ini.
Banyak hal yang Nafisah senangi dari rumah ini yaitu keluarga yang harmonis dan mereka sangatlah menghormati orang yang berada di samping mereka.
Nafisah kaget saat mendengar bahwa penyakit umi tambah parah sedangkan umi tak mau ke dokter katanya ia mempunya dokter di rumah yaitu Nafisah.
Umi bilang itu hanya penyakit biasa yang bisa di obati dengan beristirahat dan minum obat sedangkan yang Nafisah lihat penyakit umi cukup parah. Umi selalu muntah darah dan sebagainya itulah yang membuat Nafisah curiga gejala nya pun sangat parah tapi umi wanita yang selalu menutupi kesakitan nya di depan orang banyak apalagi di hadapan anak-anaknya dia selalu bersikap tegar dan mengelak jika diajak ke dokter.
" Nafisah ayo masuk. " Kata Mirna dan Nafisah mengangguk
" Ya ayo. " Mereka masuk bareng.
Berbicara Mirna, Mirna adalah sahabat Adi dari dia kecil dan kebetulan Mirna juga dekat sama Nafisah dan jadi sahabatan mereka.
" Assalamualaikum. " Salam mereka, ada jawaban dari dalam.
" Waalaikumsalam. "
" Nafisah. " Ucap Adi saat membuka pintu
" Nafisah ya allah kamu kemana saja, kamu tak tau apa aku khawatir tau saat kamu tak baca pesan ku tak angkat telepon ku juga, apa kamu tak mau lagi bersahabat dengan ku sehingga kamu pergi dengan tak ada kabar. " Omel Adi tak jelas.
Nafisah menatapnya kaget karena belum juga dia masuk sudah diomelin dengan berbagai pertanyaan sedangkan Mirna menutup kupingnya dengan tangannya karena jijik mendengar omongan sahabatnya yang agak lebay.
" Lebay lo Di. " Teriak Mirna saat Adi menyelesaikan omelan nya yang tak penting untuk ia dengarkan.
Adi menatap Mirna tajam
" Biarin, atau lo ya yang menyembunyikan Nafisah. " Tebal Adi menunjuk Mirna.
" Orang ya ada tamu bukan di kasih masuk dulu kek... kasih cemilan gitu baru lu tanya kan enak ini main ngomel aja lo." Sindir Mirna, Adi menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
" Ya udah ayo Nafisah silahkan masuk. " Ucap Adi kepada Nafisah, Nafisah mengangguk dan memasuki rumah itu.
" Kenapa lo masih di situ. " Ujar Adi ketika mau menutup pintu, Nafisah berbalik melihat Mirna yang masih berdiri di depan pintu.
" Tuan rumahnya belum mempersilahkan gue masuk. " Kesal Mirna menatap Adi malas.
" Ya elah lo kan bukan tamu lagian biasanya juga lo masuk sendiri tanpa di persilahkan sama gue. " Ujar Adi tapi Mirna keras kepala tak mau pindah dari tempat ia berdiri.
" Lo masih mau disitu atau masuk soalnya mau gue tutup pintunya." Adi segera menutup pintu nya tanpa menghiraukan Mirna.
__ADS_1
Nafisah hanya bisa menggelengkan kepala saja karena dia sudah biasa melihat persahabatan ini dengan tingkah mereka.
" ADI LO TEGA BANGET SAMA GUE. " Teriak Mirna yang langsung membuka pintu melihat Adi yang sudah mengajak Nafisah naik tangga menuku ke kamar umi.
" Fisah kamu masuk saja dulu. Umi ada di kamar sama Mba Silvi. " Ucap Adi memberitahu Nafisah agar masuk ke kamar umi sendirian tanpa mendengarkan teriakan Mirna.
Adi tak bisa mengantarnya karena dia takut terjebak oleh Mba Silvi kakak perempuannya itu pasti ia akan menjahili nya atau menggodanya.
" Emang nya gapapa?... Aku takut ganggu mereka Di terus kenapa kamu nggak masuk juga. " Ucap Nafisah.
" Nggak apa Fisah, kamu masuk saja umi sudah menunggu mu. Aku tunggu di luar saja. " Ujar Adi menyakinkan Nafisah.
" Aduh. " Rengek Adi saat perutnya di sikut dan kaki nya di injak siapa lagi pelakunya kalau bukan Mirna.
Mirna menarik Nafisah tak lupa ia mengejek Adi, Nafisah hanya menatapnya kaget dengan kedatangan Mirna secara tiba-tiba dan menarik dia.
" Assalamualaikum umi. " Salam Nafisah melihat ke dua orang yang sedang asik berbincang.
" Waalaikumsalam , Nafisah sini nak. " Nafisah berjalan mendekat sambil tersenyum ramah, Umi agak kaget dengan kedatangan Nafisah.
" Eh ada Mirna juga. " Ucap silvi.
Nafisah dan mirna mendekat dan menyalami umi.
" Duduk sini kalian. " Ucap Silvi memberi tempat pada Nafisah dan Mirna.
" Kalian apa kabarnya?. " Tanya Silvi
" Alhamdulilah deh kalau baik oh ya ngomong-ngomong Adi kemana?. " Tanya Silvi
" Di luar mba tadi aku ajak masuk dia tidak mau. " Ujar Nafisah
Tok tok tok
Ketukan pintu, Silvi menyuruh orang itu masuk.
" Permisi Non Silvi, bibi mau mengantar makanan. " Ucap bibi membawa makanan dan menaruhnya di atas nakas.
" Bi, boleh tolong panggilkan Adi kasih tau dia kalau saya yang memanggilnya dan jangan menolak. " Ucap silvi kejahilannya mulai muncul.
Umi dan Nafisah yang mengetahui hanya menggeleng saja.
Tak berapa lama Adi datang
" Ada apa?. " Tanya Adi yang datang tanpa mengetuk pintu ia main masuk saja
" Ya allah adi tau sopan santun kan kalau masuk ya ketuk pintu dulu dong jangan pas ada Nafisah saja kamu baik jangan cari muka deh. " Ucap Silvi.
__ADS_1
" Astagfirullah Mba ngapain Adi cari muka orang muka Adi ada di sini. " Ucap Adi yang agak gesrek.
" Dek ya allah mba malu sumpah punya adik yang agak gesrek otaknya kaya kamu. " Ucap Silvi.
" Fisah kalau kamu di tembak sama Adi atau di ajak nikah nggak usah di terima ya. " Ucap Silvi lagi.
" Kenapa Mba?. " Tanya Nafisah
" Nggak ada otak kaya gitu di terima, Mba si ogah kalau di tembak sama Adi seratus persen Mba akan nolak deh. " Bully Silvi kepada Adi, Adi menatap tajam.
Adi sudah tau kalau bakal di bully sama mba nya sendiri untung dia sabar.
" Ih PD amat lo mba siapa juga yang mau nembak lo mba, gue juga ogah kali. " Ucap Adi tak mau kalah.
" Kalau sama Nafisah masih juga lo bilang ogah dek?. "
" Lain mba kalau Nafisah cantik lah lo mah kagak mba. " Kata Adi, Nafisah tersenyum malu.
" Ya tau ko gue cantik Di. " Ucap Nafisah
" Terjebak gue. " Gumam Adi
" Hahaha dek dek lucu banget si lo. " Tawa Silvi puas sekali saat melihat Adiknya mau merayu tapi malahan tak mempan.
" Oh ya Mba Silvi, Mba ingat nggak waktu Adi pacaran sama Nafisah. " Ucap Mirna
Silvi mengangguk
" Eh mana ada ya aku pacaran sama Nafisah kalian ini ya malah senang banget si bully ku. " Ujar Adi dengan muka melas nya.
" Tar dulu kalian manggil ku emang ada apa si?." Tanya Adi
" Nggak jadi Mba udah lupa. " Ucap Silvi.
" Ya elah kalau gitu gue lebih baik di luar aja deh. " Pamit Adi kesal kalau tak ada urusan ngapain dia dipanggil mending tadi ia tak masuk ke kamar umi saja.
" Di, kalau datang lagi ke sini jangan lupa bawa bunga. " Teriak Silvi saat Adi hendak melangkah keluar.
" Ngapain bawa bunga emang ada yang meninggal. " Ucap Adi
" Buat melamar Nafisah. "
" Ya elah mba tenang aja kalau perlu dengan pelaminannya agar cepat halal mba. " Ucap Adi berlalu pergi, Nafisah menatap kesal sedangkan Mirna tersenyum ke arah Nafisah.
" Fisah, maaf ya aku bukan pura-pura nggak tau masalah rumah tangga mu tapi aku hanya sekedar menghibur saja tadi. " Bisik Mirna senang melihat sahabatnya akhirnya bisa tersenyum.
Walaupun Mirna tau hati Nafisah sedang galau, sedih ataukah merasa rindu, Mirna juga tau untuk di posisi Nafisah sekarang dia butuh teman dia juga butuh keluarga agar berada di sampingnya tapi semua itu khayalan yang seketika pudar.
__ADS_1
Mirna hanya mampu memberikan Nafisah kebahagian dengan adanya kebersamaan ini meskipun ini bukan keluarga kandungnya setidaknya dia bisa membuat Nafisah bahagia.
To be continue...