Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 21


__ADS_3

Hari hari ku lalui sendiri disini


Ku berteman sepi tanpa hadirmu


Yang membuatku merasakan


Rindu di hatiku


...Happy Reading...


Sudah dua hari setelah perceraian Altaf terlihat seperti orang tak tau arah dia.


Hari-hari dia jalani pergi kantor dan langsung masuk kamar tak jarang juga dia telat untuk makan.


Altaf merasa kehilangan dua orang yang dia sayangi dan tanpa sadar benih-benih cinta antara dia sama Nafisah mungkin sudah tumbuh tapi sekarang Nafisah dan Tyas sudah tak ada lagi dihadapan dia.


Tok tok tok


" Den. " Panggil Mbok dari luar kamar


" Masuk mbok. "


Clekk


" Ini den mbok bawakan makanan soal nya aden belum makan dari kemarin. " Ucap mbok.


" Taruh situ saja mbok. " Altaf menunjuk ke arah meja deket meja rias nya Nafisah dulu.


" Baik den kalau gitu mbok keluar ya. " Mbok langsung ke luar kamar.


Ketika Altaf ingin merebahkan diri nya tetapi dia mendapat pesan dari bawahannya untuk segera ke kantor.


Altaf langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu dia segera turun ke bawah.


" Astagfirullah aden. " Teriak mbok saat melihat Altaf jalan sempoyongan.


" Aden gapapa?. " Tanya mbok


Altaf hanya memberi isyarat kalau dia tak apa-apa lalu dia langsung ke mobil dan melajukan nya ke arah kantornya.


...•••...


" Siang pak. " Sapa para pegawai


" Siang, oh ya bani sudah datang?. " Tanya Altaf


" Sudah pak dia sudah menunggu di ruangan Pak Altaf. " Ucap wanita yang menjaga di resepsionis depan.


Altaf langsung menuju lift yang akan membawanya ke ruangan nya.


" Siang pak al. " Ucap Bani saat melihat altaf masuk.


" Ada apa nyuruh saya untuk datang ke kantor?." Altaf langsung to the point.


" Jadi begini pak saya mendapat informasi kalau ibu nafisah ada di suatu tempat di kampung pemulung dan dia mengabdi sebagai guru di sana pak. "


" Ada lagi informasi yang kamu dapat. "


" Sebenarnya ada satu lagi pak. " Bani tampak ragu mengasih tau ke Altaf.


" Katakan. "

__ADS_1


" Ibu Nafisah tidak sendiri di sana dia bersama Pak Rasyid pak. "


" RASYID?!. "


" Iya pak. "


" Brengsek! Shit! Mau apa lagi dia. " Gumam Altaf tampak kesal sekali kepada Rasyid.


" Oke sekarang kasih tau saya alamat kampung pemulung itu. "


Bani pun memberitahu kepada Altaf


" Oke sekarang kamu suruh Shita cancel semua jadwal meeting saya. " Perintah Altaf


" Baik Pak. "


Altaf langsung pergi menuju perkampungan itu.


...•••...


Dilain tempat Nafisah sedang mengurus Rara dan kondisi Rara sudah lebih membaik.


" Rara hey jangan lari-lari. " Ucap Nafisah, Rara masih keras kepala dan terus berlari meskipun tidak kencang karena merasakan kaki nya masih sakit.


" Aduh. " Rengek Rara saat menabrak seseorang.


" Rara. " Teriak Nafisah dan segera mempercepat langkahnya.


" Rara kamu ya sudah mba bilangin jangan lari-lari sayang. " Cicit Nafisah dengan halus.


" Hiks hiks mba, kaki Rara sakit. " Rengek Rara


" Maaf ya dek, om nggak bisa nolongin soalnya buru-buru. " Ujar pria itu yang tengah berdiri menatap Nafisah dan Rara.


" Kalau gitu saya pamit dulu yah maaf sekali lagi saya nggak bisa nolong adiknya. "


Pria itu berjalan tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Rasyid yang tengah menatapnya tajam


" Bapak ada disini. " Ucapnya hormat


" Kamu minta maaf sana. " Titah Rasyid menunjuk Nafisah yang tengah memeriksa luka Rara.


" Tap... "


" Nggak ada tapi-tapian kamu mau saya pecat. Siapa yang nyuruh mu beri tau Altaf." Bisik Rasyid pelan ke anak buahnya.


" Saya bilang minta maaf kamu atau saya pecat." Tegas Rasyid, pria itu mengangguk dan menghampiri Nafisah lagi.


" Maaf ya mba. " Ucap pria itu gugup sekali karena di tatap Rasyid.


" Loh ko bapak masih di sini bukannya tadi bilangnya buru-buru. " Ucap Nafisah menatapnya sekilas.


" Saya minta maaf ya mba saya nggak sengaja tadi, apa perlu saya bawa adiknya ke rumah sakit. " Tanya pria itu.


" Ah nggak usah pak ini sudah membaik ko, yah kan Ra. " Tanya Nafisah melihat Rara yang berdiri.


" Ya mba Nafisah, Rara sudah nggak apa-apa. " Ucap Rara.


Pria itu bersyukur dan melihat Rasyid yang melewatinya begitu saja.


" Biar om gendong sini. " Ucap Rasyid dan Rara pun mengangguk.

__ADS_1


" Kamu silahkan pergi. " Rasyid memerintah pria itu untuk pergi dari sini.


Nafisah bingung atas ucapan Rasyid, apakah Rasyid yang menyuruh pria itu meminta maaf kepadanya. Nafisah melihat pria itu terlihat takut ketika melihat Rasyid dan pria itu juga patut ketika Rasyid yang menyuruh nya pergi.


" Permisi mba, pak. " Ucap pria itu lalu dia berlalu pergi.


Rasyid mengajak Nafisah dan Rara ke restoran, Nafisah berusaha menghilangkan ke ingin tahuan nya tapi tak kunjung berakhir rasanya ia ingin menanyakannya langsung.


" Kamu mengenal pria itu. " Akhirnya mulut ini bertanya juga. Rasyid sedang memesan makanan.


" Dia hanya anak buah ku nggak usah di pikirin." Ucap Rasyid, Ngapain juga ia kepikiran yang nggak seharusnya dia pikirin.


" Nafisah kamu mau pesan apa?. " Tanya Rasyid, Nafisah melihat ke arah nya.


" Rara mau pesan nasi goreng yang enak kesukaan Rara. " Ucap Rara yang terlihat senang sekali.


Nafisah menggeleng melihat kecerewetan Rara. Rara, dia anak yang ceria dan cerewet sekali liat saja padahal bukan dia yang ditanya tapi malah dia yang menjawab. Hehehe


" Fisah kalau kamu?. " Tanya Rasyid lagi


Nafisah melihat Rasyid dan menatap buku menu yang ada di hadapannya, ia melihat menu apa yang cocok masuk di perutnya.


Tapi Nafisah sedang tak nafsu makan karena memikirkan keluarga nya terlebih suami nya. Sudah beberapa hari Nafisah tak pulang dan dia sangat kepikiran sama suami nya, dia merasa sedang terjadi sesuatu sama suami nya.


Sampai saat ini Nafisah masih mencintai suami nya tak pernah ia lupakan walaupun dia pernah berusaha mencoba tapi rasa rindu dan ke khawatiran dia terhadap suaminya semakin besar.


" Nafisah. " Panggil Rasyid, Nafisah mengangguk dan melihat Rasyid.


" Aku nggak lapar, kalian saja yang makan ya. " Jawab Nafisah.


" Jangan gitu Nafisah, aku pesanin saja ya." Ucap Rasyid yang langsung pergi untuk memesan makanan.


" Rara. " Panggil Nafisah


" Ada apa mba. "


" Kaki Rara sudah nggak apa-apa. " Tanya Nafisah, Rara pun mengangguk.


" Udah nggak apa-apa ko mba karena kan tadi om tampan sudah menggendong Rara. " Ungkap Rara dan Nafisah pun terkekeh.


" Kalau gitu nanti datang om tampan Rara harus berterima kasih. " Ucap Nafisah dengan nada bercanda, Rara tersenyum.


" Sama-sama. " Ucap Rasyid duduk di tempat duduknya yang tadi.


" Loh kenapa?. " Tanya Nafisah bingung.


" Kamu tadi ngajarin Rara harus berterima kasih jadi aku bilang sama-sama. " Balas Rasyid.


" Kan bukan Rara yang bilang. " Elak Nafisah yang benar adanya


" Tak apa, kamu kan bisa mewakili Rara. Ya kan Rara?. " Tanya Rasyid ke Rara


" Ya om jadi kan Rara nggak perlu bicara banyak. " Balas Rara tersenyum. Nafisah hanya terkekeh melihat Rara yang nurut saja.


" Btw makasih ya. " Ucap Rasyid setelah dia mengunyah makanannya.


" Makasih untuk apa?. " Tanya Nafisah bingung


" Karena kamu sudah menyebutku tampan. " Ungkap Rasyid membuat Nafisah malu, dia baru teringat dengan kata-katanya ada pujian untuk Rasyid.


" Ya sama-sama deh tapi kamu jangan besar kepala dulu, aku menyebut mu tampan karena aku sedang memberitahu Rara. " Kata Nafisah, Rasyid mengangguk sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


" Apapun alasan mu yang penting kamu ucapin nya dari mulut mu itu sudah buat aku senang ko. " Ucap Rasyid, Nafisah hanya terdiam sambil mengunyah makanannya


To be continue...


__ADS_2