
Tidak terasa kini kandungan Dira sudah memasuki usia lima bulan semua berjalan dengan lancar Dira masih bisa bertahan sejauh ini. Walau penyakitnya tidak menunjukkan peningkatan tetapi mungkin perasaan bahagia yang Dira rasakan membantu ia bertahan. Sesuai janji Arya lelaki itu benar-benar tidak bertemu dengan Tari, Arya juga begitu perhatian dan sangat memanjakan Dira. Lelaki itu selalu memenuhi segala permintaan istrinya, hubungan keduanya semakin dekat dan terlihat harmonis. Walau Dira tahu itu hanya sebuah keterpaksaan agar Arya bisa lepas darinya atau Arya melakukan itu hanya demi anak yang ada dalam kandungannya. Tetapi Dira tidak tahu jika semua yang di lakukan Arya tulus dari hati. Mungkin awal-awal Arya hanya menuruti permintaan Dira, tapi berjalannya waktu rasa itu semakin besar sehingga Arya kini mulai hanyut dalam pesona sang istri.
Apalagi kini tidak ada Tari yang selalu mencoba meracuni otak Arya agar membenci Dira membuat Arya semakin menyayangi wanita yang kini sedang ada di dalam pelukannya. Arya mengecup kening Dira kemudian mengusap sisa keringat di wajah istrinya, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya.
"Terima kasih, istirahatlah karena besok pagi kita harus pergi kontrol kehamilan kamu. Maaf sudah membuatmu lelah, karena kakak merindukan kamu dan baby kita." Ucap Arya sembari membetulkan selimut Dira agar tubuh polos istrinya tetap hangat. Keduanya baru saja selesai bercint4, Arya baru berani melakukan itu setelah memastikan kepada Dokter kandungan bahwa Dira dan calon anaknya sudah baik-baik saja.
Dira hanya tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di pipi Arya kemudian wanita hamil itu berkata "Terima kasih, aku bahagia kak." Ucap Dira tersenyum manis yang mampu membuat Arya merasakan desiran hebat didadanya.
__ADS_1
"Sudah tugasku untuk membuat istriku bahagia." Ucap Arya.
Dira kembali tersenyum dan menyentuh rahang tegas Arya. Arya sedikit terkejut melihat istrinya yang kini meneteskan air mata dengan cepat Arya menangkap tangan Dira yang masih mengusap wajahnya.
"Hei ada apa kenapa menangis, apa kakak tadi menyakitimu. Perutmu sakit kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Arya panik.
Sungguh wanita itu tidak sanggup memikirkan perpisahan yang kini semakin di depan mata, ia terlalu serakah dengan kesempatan yang tuhan berikan. Awalnya hanya ingin merasakan kebahagian bersama dengan orang yang ia cintai di akhir hidupnya kini nyatanya ia tak mampu melepaskan semuanya. Terlalu indah, itu yang Dira rasakan saat ini. Cerita cinta yang ia inginkan nyaris sempurna, tapi ia dipaksa untuk menerima kenyataan jika akhirnya ia harus merelakan semuanya.
__ADS_1
Sakit itu yang Arya rasakan mendengar ucapan Dira yang begitu menusuk hati. Benarkah yang di katakan istrinya itu, apa dirinya hanya memenuhi syarat yang di minta Dira sebelum berpisah darinya. Tapi jujur hatinya selalu sakit setiap Dira mengungkit perpisahan mereka, ada rasa tidak suka saat dira mengingatkan dirinya pada kenyataan itu.
Entahlah Arya masih gamang menentukan hatinya, apakah ia masih mencintai Tari sang kekasih atau kini hatinya sudah berpindah haluan kepada wanita yang kini sedang mengandung keturunannya itu.
"Ssttt, jangan menangis. Jangan pikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, tidurlah." Ucap Arya sembari menghapus air mata istrinya.
Maaf kalau author up-nya sering bolong, bukan sengaja tapi karena kondisi dan keadaan yang tidak mendukung untuk up. karena author akhir-akhir ini sedikit kewalahan dengan si kecil yang terlalu aktif, Alhamdulillah anak author sudah ada kemajuan walau belum bisa jalan tapi dia sudah bisa berdiri walau belum bisa terlalu lama dan sekarang aktifnya minta ampun author harus ekstra sabar dan teliti karena kecolongan dikit anak author sudah merangkak kemana-mana, sehingga tenaga author terkuras. Niat hati up-nya malam saja setelah si kecil tidur tapi kadang emaknya ikutan tidur karena sudah terlalu lelah.
__ADS_1
Andai author seperti Nagita yang punya baby sister satu anak satu sungguh bahagia sekali hidup ini ya teman-teman.