
...Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ini meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan saja, maka engkau dapat senang-senang dengannya, ( tetapi hendaklah engkau ingat ) dia adalah bengkok....
...( HR. Ahmad)...
...Happy Reading...
Sudah dua hari mereka di Bali setelah kejadian Nafisah melihat foto itu dia memilih untuk diam saja tidak ada pertanyaan yang ia tanyakan. Dia menjalani seolah-olah tak ada apa-apa meskipun hatinya sakit.
Selama liburan Altaf malah sibuk dengan pekerjaannya.
Altaf terduduk dengan pikirannya kemana-kemana karena dia sudah membohongi Nafisah tapi dia bingung harus menceritakan mulai dari mana.
Sesuatu yang di sembunyikan akan segera terbongkar itulah yang sekarang Altaf takutkan. Dia merasa bersalah ke Nafisah, rasanya hatinya itu ada yang ganjal.
" Al. " Panggil Tyas saat melihat Altaf yang sedang menonton TV.
" Eum. " Dehem Altaf, Tyas duduk di samping Altaf sambil menaruh kepalanya di pundak Altaf.
" Cantik sekali kamu hari ini. " Ucap Altaf kepada Tyas.
" Istri siapa dulu. " Balas Tyas
" Emang istri siapa. " Ujar Altaf, Tyas menatap Altaf kesal.
" Ah tau lah ya emang istri siapa lagi kalau bukan istrinya Anugrah Dwi Altaf Aksara CEO ternama. " Ucapan Tyas membuat seorang wanita yang memperhatikan kedua nya pun lemas menutup pintu dan terduduk lemas.
" Oh ya Al kamu ingat ga ini hari apa. " Suara Tyas masih mampu Nafisah dengar dari balik pintu kamar nya.
" Emang hari apa?. " Tanya Altaf mengangkat alis sambil mencium dahi Tyas.
" Ihh kamu tuh ya Al belum tua juga sudah lupa. Ini tuh hari Anniversary kita yang ke dua tahun." Kesal Tyas melihat suaminya yang selalu pelupa.
Akhir nya ucapan itu membuat Nafisah mengingat kembali foto itu yang ternyata memang benar mereka sudah menikah. Nafisah berusaha seolah tak ada apa-apa tapi nyatanya sekarang ia bagai di jatuhkan secara paksa dan itu sangat sakit sekali rasanya ia tak sanggup menerima ini semua.
Kenapa dia harus menerima pernikahan ini dan kenapa juga Altaf tidak menolaknya. Nafisah kecewa sama Altaf yang tak jujur kenapa dia harus masuk kedalam masalah ini.
Cukup masalah yang lalu saja dia terima tapi kali ini hatinya sangat sakit dan tak mampu untuk menjalani takdir ini.
" Kenapa aku harus menghancurkan rumah tangga mereka. Betapa hancurnya Mba Tyas, dia merelakan suaminya menikah dengan ku."
Air mata lolos daru pelupuk mata Nafisah. Pertanyaan yang muncul di kepala nya, satu jawaban yang mampu membuat dia merasa bersalah.
Kali ini dia menangis bukan karena kecewa ataupun tersakiti meskipun jujur jiwa nya memang sedang tersakiti dengan kebohongan suaminya tapi untuk saat ini rasa bersalahnya lebih besar.
__ADS_1
" Ya allah terima kasih atas jawaban ini. Nafisah memilih menyerah atas semuanya. "
Tangis Nafisah pecah tapi isakannya ia tahan agar tidak terdengar dari luar dengan menggigit bibir bawahnya.
Nafisah rasa dialah yang wanita paling jahat karena telah merusak rumah tangga suaminya. Nafisah teringat akan penolakan Altaf ketika Abi nya meminta menikahi Nafisah.
Tak bisa berpikir mungkin ini yang terbaik, ia berjalan dengan keadaan lemas. Nafisah mengambil koper nya dan memasukkan baju nya ke dalam koper. Sesekali Nafisah menghapus air matanya tapi percuma air mata itu kembali turun.
" Fisah kamu mau kemana. " Tanya seseorang saat Nafisah melangkah pergi keluar, Nafisah berbalik dengan mata sembab.
" Fisah mata mu kenapa? Kamu abis menangis?." Tanya Tyas.
Tyas menghampiriku dengan rasa khawatir. Nafisah tak bisa berbicara dia hanya terdiam saja dan sesekali melihat kearah Altaf yang juga kebingungan.
" Kamu juga bawa koper. Fisah, kamu mau kemana? Ini udah malam loh. " Seribu pertanyaan terlontar oleh Tyas karena dia bingung melihat Nafisah memegang koper.
" Altaf, kamu ada masalah apa sama Fisah. " Tanya Tyas lagi dan cemas tapi Altaf malah ikut terdiam membuat Tyas yakin bahwa keduanya ada masalah.
" Fisah, maaf jika Altaf ada salah sama mu. Al, kamu jangan diam aja dong kamu harus minta maaf ke Nafisah. " Titah Tyas memegang tangan Altaf dan Nafisah.
" Nggak ada masalah apa-apa ko mba." Balas Nafisah dengan suara halus dan serak.
Tyas memang baik sekali sama Nafisah. Nafisah sendiri tak tau hati Tyas terbuat dari mana.
" Terus kalau tidak ada masalah, kamu engga seperti ini kaya orang habis nangis dan ini apa ngapain bawa koper segala. Kamu mau pergi? ini kan udah malam Fisah. Kalau kamu ada masalah bisa cerita ke aku, aku sanggup untuk mendengarkannya. " Ucap Tyas menatap Nafisah dengan penuh kebingungan.
" Mba Tyas, aku tak ada masalah sama Mas Altaf ataupun sama Mba Tyas hanya saja aku baru sadar mba... " Ungkap Nafisah dengan tersenyum terpaksa.
" Sadar kenapa Fisah. " Balas Tyas menunggu ungkapan yang akan Nafisah bicarakan.
" Aku tak sanggup untuk mengatakannya tapi aku harus mengatakannya mba. Aku hanya ingin mundur dalam hubungan ini mba. " Ungkap Nafisah ragu.
Tyas mengerti apa maksud dari omongan Nafisah, ia menggeleng dan menggenggam tangan Nafisah. Tyas baru teringat akan omongan nya dengan Altaf yang mungkin Nafisah mendengarnya.
Bodohnya Tyas, kenapa dia harus lupa bahwa Nafisah berada dalam satu villa dengannya.
" Fisah minta maaf sama Mba Tyas dan Mas Altaf. Nafisah tau perasaan Mba Tyas bagaimana saat melihat Mas Altaf menikah dengan wanita lain. Aku perempuan mba dan aku tau tak ada perempuan yang mau di madu. Aku menyesal karena telah mencintai suami mba, maafkan Nafisah. Nafisah akan berusaha untuk menghilangkan rasa ini, maafkan aku mba. " Ucap Nafisah menunduk dan mulai meneteskan air mata.
Tak sanggup untuk mengatakannya. Mungkin ini jalan terbaik untuknya. Nafisah menerima semuanya . Tyas ikut meneteskan air mata dan melihat ke arah Altaf. Tyas sendiri tak sanggup melihat wanita yang berada di hadapannya menangis.
" Enggak Fisah, kamu tidak boleh mundur. Al, tolong bujuk Nafisah. " Mohon Tyas yang melepaskan rangkulan Altaf.
" Mas, Nafisah pamit ya. Jaga rumah tangga mas dengan baik ya. " Ucap Nafisah berjalan mendekati Altaf dan menyalami tangan Altaf dengan lembut dan tersenyum kepada Tyas.
__ADS_1
Nafisah berjalan membelakangi keduanya. Hatinya tak sanggup, air matanya ikut menetes. Membiarkan air mata itu menetes dengan sendiri nya. Rasa sesak di dada nya kembali datang. Nafisah tetap berjalan meskipun tubuhnya dalam keadaan lemas.
" Nafisah tunggu. " Panggil suara berat itu membuat langkah Nafisah terhenti, ia tau itu suaminya. Mungkin akan menjadi mantan suami
Nafisah tak menoleh sedikit pun dan Nafisah kembali berjalan.
" Nafisah tunggu. " panggil Altaf sambil menarik tangan Nafisah, Nafisah tak punya pilihan akhirnya ia berbalik badan.
" Jangan pergi. " Ujar Altaf
Nafisah tersenyum " Maaf mas, mulailah hubungan baru mas sama Mba Tyas jangan pikirkan Nafisah. Anggap saja Nafisah orang asing. "
Satu jari Altaf menempel cepat di bibir Nafisah.
" Ngomong apa si, jangan aneh-aneh kamu Fisah. " Ujar Altaf
Nafisah hanya bisa menunduk dengan Altaf seperti ini membuat Nafisah merasa di berikan harapan. Altaf melepas tangannya dari bibir Nafisah dan dengan cepat ia memeluk Nafisah, Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Nafisah dengan cepat Altaf menghapusnya.
" Jangan menangis. "
" Engga fisah kamu enggak boleh hancurkan hubungan mas altaf dan mba tyas. " Ucap Nafisah dalam hati.
" Maaf mas lepaskan, tolong pikirkan perasaan Mba tyas mas. Tolong biarkan Nafisah pergi menjauh dari hubungan ini. " Balas Nafisah berusaha melepas pelukan Altaf.
" Bagaimana dengan perasaan kamu. Kamu memikirkan orang lain tapi kamu tak pikir hati kamu tak pikir hati kamu terus menangis . Nafisah apakah kamu tak menganggap mas sebagai suamimu. "
Nafisah kaget mendengar ucapan suaminya
" Peduli apa mas sama aku, suami? bukankah mas sudah tak menganggap aku juga kan. "
Altaf terdiam mendengar Nafisah berucap seperti itu.
Air hujan turun membasahi Altaf dan Nafisah dengan cepat Altaf membuka jaket dan memberikan kepada Nafisah.
Altaf menggenggam tangan Nafisah dan berjalan tapi Nafisah kembali pada tempatnya membiarkan mereka kebasahan.
" Mas, beri Nafisah waktu. Tolong biarkan Nafisah pergi, Nafisah butuh waktu. " Hanya kata itu yang dapat Nafisah ucapkan. Air mata Nafisah turun bersama dengan air hujan sehingga Altaf tak tau kalau Nafisah sedang menangis dalam diam.
Kembali melepaskan tangan kekar suami yang ia cintai entah sejak kapan. Tanpa menunggu pembicaraan suaminya, Nafisah berlari menghentikan taksi.
Hiks
Tangis Nafisah semakin pecah.
__ADS_1
" Ya allah tunjukkan jalan yang terbaik untuk Nafisah. " Gumam Nafisah menahan sesak.
To be continue...