Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 38


__ADS_3

...Lebih baik menangis daripada marah, karena marah akan menyakiti orang lain, sementara air mata mengalir tanpa suara melalui jiwa dan membersihkan hati....


...Happy Reading...


Selama di taksi online Nafisah menangis dalam diam ternyata rasanya masih sangat sakit melihat Altaf bersama Tyas.


" Maaf bu sudah sampai. " Ujar supir taksi, Nafisah segera menghapus air matanya


" Ah ya pak, ini ongkos kembaliannya ambil saja. " Ucap Nafisah


" Terima kasih bu. " Nafisah hanya membalas nya dengan senyuman saja.


" Assalamualaikum. " Sapa Nafisah ketika sampai di sebuah tempat seperti pondok


" Waalaikumsalam. " Sahut anak-anak di sini


" Mba Nafisah. " Teriak Rara yang berlari dan langsung memeluk Nafisah


" Rara sayang. " Ucap Nafisah yang membalas pelukan Rara.


" Mba Nafisah. "


" Iya sayang. " Nafisah menatap Rara


" Rara kangen sekali sama mba. "


" Mba juga kangen sekali sama Rara, oh ya umi gimana kabar?. " Ujar Nafisah

__ADS_1


" Umi baik mba, umi terus mencari mba Nafisah katanya ko ndak pernah datang lagi ke sini umi kangen gitu mba kata umi. " Ucap Rara dengan gaya nya yang menggemaskan.


" Nafisah. " Panggil seseorang, Nafisah langsung menengok ke arahnya yang ternyata itu Rasyid.


" Rara sayang, boleh om tampan pinjam mba Nafisah nya sebentar. " Ucap Rasyid


" Boleh ko om tampan. "


" Ayok. " Ajak Rasyid


Kini Nafisah dan Rasyid berada di balai tidak jauh dari rumah Rara.


" Ada apa?. " Tanya Nafisah to the point kepada Rasyid.


" Kamu kemana saja?. "


" Eum maaf ya seperti ini bukan urusan kamu mau saya kemana dan saya tegas ke kamu saya tidak mau berduaan dengan yang bukan muhrim saya. " Ujar Nafisah membuat Rasyid terdiam.


" Pulang!. " Tegas seseorang yang tiba-tiba saja sudah menarik pergelangan tangan Nafisah begitu keras hingga Nafisah yang tengah duduk tertarik hingga berdiri.


Pandangan Nafisah sejajar dengan pria berjas hitam itu dan Nafisah kini tahu siapa yang menarik pergelangan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Altaf, suaminya. Altaf tampak seperti marah sekali.


" Bisa jangan kasar dengan perempuan. " Ucap Rasyid.


" Bukan urusan anda dan ingat dia istri saya jadi anda jangan macem-macem dengan saya. " Ucap Altaf menatap Rasyid dengan tatapan dingin nya.


" Gue nggak minta macem-macem ko Al, gue cuman mau Nafisah sama gue. "

__ADS_1


" Itu nggak akan mungkin, dia punya saya dan saya tidak akan diam jika anda macem-macem dengan saya. " Ujar Altaf


" Anugrah Dwi Altaf Aksara kita liat saja siapa yang akan kalah dan gue akan melakukan apapun itu." Ucap Rasyid


" Kita mulai permainan ini semua Altaf. " Batin Rasyid.


Nafisah hanya menatapnya bingung ada apa dengan suaminya dan Rasyid, mereka seperti sedang perang saja.


" Sekarang kita pulang!. " Putus Altaf menarik pergelangan tangan Nafisah. Nafisah masih terpaku di posisi berdirinya, pandangannya tidak lepas dari Altaf sedikitpun.


Altaf membawa Nafisah menjauh dari Rasyid


" Kenapa mas seperti ini, lepasin tangan Nafisah. Aw sakit. " Ucap Nafisah, Altaf hanya diam saja dan tetap menarik Nafisah ke mobil untuk pulang.


Tubuh Nafisah tertarik oleh tarikan kuat dari Altaf ditangannya. Terpaksa Nafisah melangkah mengikuti Altaf, langkah panjang dan tergesa-gesa Altaf membuat Nafisah sulit mengimbangi langkah nya beberapa kali Nafisah tersandung saat berjalan.


" Aww. " Ringis Nafisah kesakitan saat kaki kanannya terkilir, sontak langkah kaki Altaf terhenti saat mendengar pekik kesakitan dari Nafisah. Saat ia menoleh ke belakang, Nafisah jongkok mengusap kakinya bokongnya sudah mendarat mulus di aspal.


Altaf melepaskan cekalannya dan langsung berjongkok di hadapan Nafisah.


" Kamu nggak papa? Sini biar ku bantu. " Ujar Altaf mengulurkan tangannya hendak meraih kaki Nafisah yang terkilir namun segera di tepis kuat oleh Nafisah.


"Jangan mulai, Nafisah!. " Geram Altaf. Tanpa persetujuan dari Nafisah, Altaf menarik kaki Nafisah dan langsung mengurutnya dengan lembut.


Sejujurnya perlakuan Altaf sangat berpengaruh pada kaki Nafisah karena rasa sakitnya berangsur membaik. Nafisah memalingkan wajah saat Altaf menatapnya.


Tubuh Nafisah melayang, rupanya Altaf membopongnya dan segera melenggang menuju mobil nya yang tak jauh dari posisinya. Nafisah didudukkan di samping kursi kemudi dengan hati-hati segera Altaf mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi yang langsung dia melaju kan nya menuju rumah.

__ADS_1


Nafisah sangat tak tahu kenapa dengan suaminya, suaminya tampak seperti kesetanan.


To be continue...


__ADS_2