
Dinginnya udara pagi membuat seseorang yang sedang berada di bawah selimut membuka matanya. Menyadari jika malam kini sudah berganti menjadi pagi dengan udara yang begitu dingin khas daerah pegunungan membuat ia malas untuk turun dari ranjang.
Arya kembali memperbaiki selimut yang menutupi tubuh polosnya dan Dira kemudian kembali mengeratkan pelukannya pada sang istri memberi kehangatan kepada wanita yang sedang tertidur dengan pulas. Sesekali ia mencium pipi Dira Sedangkan Dira tidak merasa terganggu dengan kelakuan Arya, Dira malah semakin nyaman berada dalam pelukan suaminya.
Arya memandangi wajah cantik istrinya, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi kecantikan Dira. Dibelainya pipi mulus yang kini semakin terlihat tirus itu, membuat Arya meneteskan air matanya. Inilah Arya yang sesungguhnya jika di depan orang lain ia terlihat kuat dan percaya jika sang istri akan selamat dan sembuh berbeda dengan sekarang saat ia sendiri ketakutan itu akan muncul, takut tuhan memisahkan ia dan istrinya. Sungguh Arya tidak sanggup, di saat ia menyadari perasaannya di saat itu juga tuhan mengujinya.
Arya segera menghapus air matanya saat melihat Dira yang menggeliat. Lelaki itu tak ingin sang istri memergokinya sedang menangis yang akan membuat Dira semakin banyak pikiran.
Dira membuka matanya dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah senyuman indah suaminya yang mampu membuat Dira tersenyum bahagia. Diraihnya wajah tampan Arya dan dengan cepat Dira memberikan sebuah kecupan di bibir seksi Arya.
"Selamat pagi suamiku." Sapa Dira tak lupa dengan senyuman manisnya.
"Selamat pagi istriku ibu dari anak-anakku." Balas Arya mengelus-elus pipi Dira.
__ADS_1
"Kakak udah lama bangunnya?" Tanya Dira.
"Hmmm, tapi kakak malas untuk bangun karena di depan kakak ada bidadari sedang tidur." Goda Arya.
"Gombal, awas tangannya Dira mau ke kamar mandi." Ucap Dira berusaha menyingkirkan tangan Arya dari atas perutnya.
"Kamu mau mandi dek, kalau begitu kita mandi barang saja." Arya langsung mengangkat tubuh Dira kemudian membawanya ke kamar mandi.
Bimo dan Dani sedang berbicara dengan dua pria. Bimo memberikan selembar foto beserta alamat apartemen seseorang.
"Namanya Tari dan ini alamat apartemennya kamu pantau wanita ini dan laksanakan perintah saya saat ada kesempatan. Saya tidak ingin kamu gagal. Jika kamu berhasil saya akan kasih kamu bonus."
"Jangan sampai kamu ketahuan atau tertangkap, kami tunggu kabar selanjutnya." Tambah Dani.
__ADS_1
"Baik tuan, kalau begitu kami jalan dulu." Ucap Pria tersebut.
Setelah kepergian orang suruhan mereka kini hanya Dani dan Bimo di ruangan tersebut keduanya menikmati kopi yang ada di meja sembari berbincang.
"Arya membawa Dira kemana sih, istri gue sudah kangen sama Dira. Dari kemarin Bunga nyuruh gue hubungi si Arya buat nanyain dimana mereka eh malah ponsel mereka berdua gak ada yang aktif." Tanya Bimo memulai obrolan mereka.
"Mereka lagi berlibur, biarkan sajalah hitung-hitung biar si Dira bahagia dan si Arya bisa sadar dan otaknya benar. Kalau disini otaknya Rada eror di racuni wanita licik itu terus." Jawab Dani.
"Bukannya si Arya dan Tari sudah mengakhiri hubungannya kan kamu sendiri yang bilang kalau Arya sempat curhat sama kamu."
"Iya tapi si Arya kudu di ancam sama emaknya dulu baru mau mengakhiri hubungannya dengan Tari, gue masih ragu kalau si Arya masih bisa terpengaruh sama wanita licik itu. Buktinya kemarin tu perempuan sibuk nyariin si Arya sampai kantor dan apartemennya saja di datangin." Ucap Dani.
"Sudah tenang saja, sebentar lagi kita akan bongkar kelakuan wanita licik itu. Karena permainan sudah di mulai kawan.
__ADS_1