Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 25


__ADS_3

...Jangan kamu merasa lemah dan jangan bersedih, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu beriman....


...( QS. Ali Imran : 139 )...


...Happy Reading...


08:50 WIB


Nafisah menghirup udara segar malam yang membuat hatinya rasanya tenang berada di tengah keluarga ini.


Keluarga yang harmonis, Nafisah sudah dianggap seperti keluarga dalam keluarga ini.


Nafisah sedang menunggu Mirna yang sedari tadi pergi katanya dia ada urusan sebentar.


" Sudah lah Fisah kamu nginap saja di sini yah." Saran Silvi yang tengah menemani Nafisah untuk menunggu Mirna, Nafisah menggeleng.


" Tidak usah mba, Fisah takut merepotkan. " Alasan Nafisah sudah berapa kali Nafisah beralasan seperti itu karena banyak yang menyuruhnya untuk menginap.


" Nggak apa apa Fisah, tidak merepotkan kok malahan kita senang jika Fisah menginap." Ucap Silvi, Nafisah tersenyum.


" Assalamualaikum. " Salam Mirna yang baru saja datang


" Waalaikumsalam mir. " Jawab Nafisah di ikuti Mba Silvi yang juga menjawab salam


" Nafisah ayo, mba kami permisi pulang dulu ya." Ujar Mirna menyalami Silvi yang ada di situ.


Adi sedang pergi ada meeting mendadak jadi Nafisah dan Mirna belum sempat pamit ke Adi.


" Ini sudah malam loh kalian nginap saja di sini yah. " Kata Silvi, Nafisah hanya diam melihat Mirna meminta persetujuan.


" Aduh Mba Silvi bukannya nolak nih tapi rumah nggak ada yang jaga mba. " Mirna menolak halus, Nafisah ikut mengangguk.


Akhir nya Mba Silvi memaklumi itu dan mempersilahkan Nafisah dan Mirna pergi.


" Baiklah mba kalau gitu Fisah pamit dulu. " Ucap Nafisah menyalami tangan Silvi.


" Assalamualaikum. " Salam Nafisah dan mirna serentak.


" Waalaikumsalam. " Jawab Silvi dam langsung masuk ke dalam rumah.


Ketika Nafisah dan Mirna berjalan keluar rumah muncul dua mobil yang paling depan berwarna hitam dan yang di belakang berwarna silver.


Nafisah yakin yang mobil berwarna hitam adalah mobil Adi.


" Siapa?. " Tanya Mirna, Nafisah melihatnya bingung dan menggeleng.


" Assalamualaikum." Salam kedua pria itu


" Waalaikumsalam. " Jawab Nafisah dan Mirna serentak


" Astagfirullah. " Nafisah kaget saat melihat jelas siapa pria di belakang Adi.


" Fisah kamu kenapa?. " Tanya Adi, Nafisah menggeleng.


" Ah gapapa. " Ucap Nafisah tersenyum agar menyakinkan mereka


sedangkan Altaf dia sedikit tersenyum tapi dibalik senyumnya dia menahan emosi dan bahagia yang jadi satu, Nafisah sudah melihatnya dari matanya yang mengatakan itu.


" Kalian mau pulang?. " Tanya Adi kepada Nafisah dan Mirna, Nafisah menjawab hanya dengan anggukan saja.


" Nggak usah ini kan sudah malam nggak baik perempuan jalan malam gini. " Titah Adi, Nafisah tak begitu mendengar jelas omongan Adi.

__ADS_1


Karena dia fokus memperhatikan Altaf yang keliatannya marah. Ternyata rasa ini masih ada, rasa rindu yang terbayarkan saat melihat wajahnya. Nafisah menunduk menahan air mata yang akan mengalir.


Rasanya Nafisah ingin menumpahkan dan mengatakan kesedihan nya, rasa sakit kepadanya tapi itu tak akan mungkin. Nafisah yakin kedatangan Altaf menemuinya hanya untum memberikan surat cerai yang Nafisah berikan kepadanya.


" Nggak apa-apa Di soalnya rumah nggak ada yang jaga. " Ungkap Mirna dengan jawaban yang sama ketika Mba Silvi menanyakannya.


" ya sudah kalau gitu hati-hati maaf nih aku tak bisa mengantarkan kalian. " Ucap Adi, Nafisah dan Mirna memaklumi


Drrt... Drrt


Suara ponsel Adi berdering dia segera mengangkatnya


" Al masuk saja aku angkat telepon dulu ya. " Jawab Adi.


Altaf mengangguk setelah Adi pergi dia bukannya masuk malah menggenggam tangan Nafisah. Nafisah merengek kesakitan karena genggam nya yang begitu kuat.


" Mas tolong lepaskan tangan Fisah. " Ucap Nafisah menahan kesakitan.


Mirna yang melihatnya menarik Nafisah


" Pak bisa sopan sedikit kan, Lepaskan tangan teman saya! Dia kesakitan mengerti dong pak!."


Altaf segera melepaskan tangan Nafisah dan menatapnya tajam dengan kemarahan yang sudah meningkat.


" Kamu masuk atau saya yang paksa. " Tegas Altaf, Mirna menatap Nafisah bingung


" Fisah. " Panggil Mirna saat melihat Nafisah berada di mobil


" Mir nggak usah khawatir dia Altaf. " Ucap Nafisah membuat Mirna mengerti, Mirna membiarkan Nafisah dan Altaf pergi.


Mirna yakin Altaf orangnya kasar dan pemarah kasihan Nafisah dia tahan dengan orang seperti Altaf mungkin kalau Mirna jadi Nafisah sehari saja dia sudah yakin akan minta pulang ke rumah orang tuanya.


" Nafisah hatimu terbuat dari apa si kenapa kamu bisa begitu tegar menghadapi suami seperti pria itu. " ucap Mirna dalam hati.


" Mir, kamu lihat pria tadi?. " Tanya Adi mencari Altaf. Mirna menggeleng dan masuk kedalam mobil ia langsung melajukan mobilnya tanpa menjelaskan sama Adi.


...•••...


" Nafisah maaf. " Mohon nya, aku tak menatapnya. Aku tau dia memperlakukan aku seperti tadi itu karena dia sedang emosi tapi aku tak suka dikasarin.


" Hiks hiks. " Tangis ku pecah


" Nafisah maafkan mas, mas tak tahan melihat mu bersama dia. Mas tak suka, mas masih suami mu dan berhak melarang mu Fisah. "


Aku hanya bisa diam, Mas Altaf melihat ku sedari tadi terdiam dan hanya bisa menangis. Mas Altaf memberhentikan mobilnya dengan mengerem mendadak.


" Baiklah kita harus bicara dengan baik-baik dan maafkan saya tadi sudah menyakiti mu. " Ucap Mas Altaf melihat ku sedangkan aku hanya terdiam sambil menangis tanpa menatapnya.


" Nafisah bicaralah, apa kamu tak mau menuruti suami mu. " Tegas Mas Altaf, aku menatapnya dengan bibir ku yang bergetar rasanya aku tak sanggup untuk menatap manik mata mas altaf.


Aku menutup mata sambil mengambil nafas dalam. " Bagaimana dengan surat perceraian itu?. " Tanyaku menatapnya dengan bibirku yang gemetar.


" Kamu jangan memancing emosi ku, Nafisah. " Tegas mas altaf ternyata begini sikap Mas Altaf aku baru mengenalnya dia begitu marah malahan marahnya saat ini lebih besar ketika saat dia marah karena di suruh menikahi ku.


" Apakah aku sudah sah bercerai dengan mu mas?. " Tanya ku sedikit tersenyum terpaksa.


" Nafisah Humaira please jangan pernah memancing emosi ku. " Mohon mas Altaf.


" Aku tak mau mas berdua dengan suami orang lain. " Ucap ku lagi.


Mas Altaf menatapku tajam lalu dia memukul keras dashboard mobil dengan tangannya. Aku menatap kaget, aku telah membuat ya marah mungkin saat ini akulah istri yang paling durhaka karena telah membuat suamiku marah tapi aku tak boleh terlihat perhatian kepadanya.

__ADS_1


Bruk bruk


" Ah shit!. "


Mas Altaf teriak ketika memukul dashboard mobil untuk kedua kalinya. Dia tak menyakiti ku malah dia melampiaskan kepada barang yang ada di hadapannya, aku hanya bisa menatapnya takut dan kasihan.


" Aku tak akan menceraikan kamu Nafisah, aku tak akan biarkan kamu pergi lagi jika memang aku salah karena telah menyakitimu silahkan kamu siksa aku atau pukul aku tapi jangan pernah untuk meminta itu dari ku. " Tegas Mas Altaf, aku tak bisa berucap lagi.


" Nggak mas, aku hanya inging menanyakan bagaimana dengan surat cerai itu saja ko. " Ucap ku sedikit keras kepala.


Air mata ku menetes saat melihat luka di tangan Mas Altaf bersamaan dengan darah segar yang mengalir ditangannya.


" Baiklah Nafisah jika kamu ingin aku menceraikan kamu, aku akan melaksanakannya tapi berikan hak ku kepadaku. " Tegas Mas Altaf.


Aku tak pernah terpikirkan seperti itu, Aku terdiam bungkam


" Apa jawabanmu bisa atau tidak?. "


" Kamu saja tak bisa menjawabnya kan. " Ucap Mas Altaf lagi.


Dengan cepat Mas Altaf mengendarai mobilnya dengan kecepatan agak kencang.


Drrt... drrt


Telepon Mas Altaf berdering ada panggilan masuk dari klien nya, Mas Altaf mengendari mobil sambil mengangkat teleponnya.


Tak lama kemudian Mas Altaf mematikan ponselnya, aku mengusap air mata ku yang sedari tadi turun dan aku belum menjawab pertanyaan itu karena aku tak mau menjawab itu.


" Kamu ngapain di rumah Adi?. " Tanya Mas Altaf tanpa melihat ku, aku hanya terdiam tak mau menanggapi ucapannya.


" Apa kamu punya hubungan dengannya?. " Tanya Mas Altaf lagi, aku hanya menutup mataku menyandarkan kepalaku.


" Nafisah jawab! Sudah berapa lama kamu menjalani hubungan dengannya. Apa selama ini kamu pergi ninggalin mas hanya karena kamu ingin mendekati Adi. " Tanya Mas Altaf, aku menatapnya kaget sudah berapa banyak air mata ku terjatuh hari ini.


" Hentikan mobilnya!. " Tegas ku tapi mas altaf tak melakukannya dia tak melihatku.


" Mas, Fisah bilang hentikan mobilnya. " Ucapku akhirnya mas altaf menghentikan mobilnya. Aku membuka pintu mobil dan berlari menangis.


Rasanya siap mati saat ini, aku merasakan bahwa jiwaku sudah tak ada mungkin dia sudah lelah berada di dalam tubuhku ini yang terus di sakiti.


" Nafisah kamu mau kemana?. " Tanya Mas Altaf, Aku hanya bisa berlari dan menangis.


" Nafisah maafkan mas. " Teriak mas altaf yang terus mengejar ku.


" NAFISAH. " tangkap Mas Altaf saat aku hampir tertabrak mobil aku terjatuh dan menindih mas altaf memeluknya erat, jantungku rasa nya mau copot.


Hujan pun turun membasahi aku dan mas altaf, aku bangkit dan terduduk menangis di lutut ku menutupi wajahku membiarkan air hujan membasahi tubuhku.


Gamis panjang ku sudah kotor karena tanah yang aku duduki, rasanya tubuhku tak bisa di gerakan lemas itulah yang ku rasakan saat ini.


" Nafisah maafkan mas. " Ucap mas altaf membuka jaket nya dan memberikan kepadaku, aku menggeleng sudah dua kali dia menolongku karena dia sudah menyakiti ku.


" Hiks hiks. "


Mas Altaf menggenggam tangan ku dan menyuruhku berdiri, aku hanya bisa menurutinya.


" Nafisah maaf. " Ucap nya segera memelukku saat aku sudah berdiri.


Aku memukul dada bidangnya dan menangis


" Maaf. " Hanya itu yang mampu ia ucapkan dan membiarkan tangan mulus ku memukul meluapkan semuanya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2