
Arya dan Tari kini sudah berada di apartemen Tari, wanita itu memaksa ingin pulang membuat Arya mau tidak mau menuruti perintah Tari. Tari bahkan mengancam tidak akan mau cerita jika Arya tidak mengantarnya pulang.
"Silahkan duduk Arya, kamu mau minum apa biar aku buatkan?"
"Tidak perlu basa-basi Tari. Jangan mengulur waktu, aku sudah cukup sabar menuruti permintaanmu sedari tadi. Jangan coba permainkan aku karena kamu akan menyesal. Aku hanya ingin penjelasan dari kamu. Aku tidak mau berlama-lama denganmu karena istriku sudah menunggu kepulanganku." Ucap Arya.
"Sepertinya kamu sangat takut istrimu menunggu terlalu lama, sesayang itukah kamu padanya. Apa kamu masih bersikap seperti ini setelah tahu kelakuan wanita licik itu." Ucap Tari.
"Jangan berbelit-belit langsung saja ke intinya Tari." Bentak Arya yang tidak tahan mendengar Tari berkata buruk tentang Dira.
"Baik, dengar baik-baik Arya Seno Nugroho. Aku pergi kabur meninggalkan kamu itu bukan karena inginku. Tapi aku di paksa dan di ancam seseorang." Ucap Tari mulai memperlihatkan raut wajah sedihnya.
"Di ancam maksud kamu, siapa yang berani mengancam kamu Tari" Tanya Arya semakin penasaran.
"Apa kamu percaya jika aku memberitahu siapa orang yang mengancam aku?"
"Ya aku percaya, katakan siapa yang tega melakukan itu."
Arya tertipu dengan wajah sedih dan air mata palsu wanita yang ada di depannya sekarang, isakan yang terdengar sangat memilukan membuat Arya tidak tega melihat wanita yang pernah mengisi hatinya itu menangis pilu di hadapannya.
"Dira ini semua karena istri kamu itu, dia penyebab aku terpaksa meninggalkan kamu." Ucap Tari.
__ADS_1
"Tidak mungkin Tari, istriku bukan orang seperti itu. Dia sangat polos dan baik. Dia tidak mungkin punya pikiran seperti itu." Ucap Arya yang masih tidak percaya.
"Dira memang tidak seperti itu tapi papanya yang mengancamku untuk meninggalkanmu agar putrinya bisa mengantikan posisiku. Ia tidak rela melihat putrinya patah hati karena laki-laki yang ia cintai selama ini akan segera menikahi wanita lain. Demi kebahagiaan putrinya ia rela melakukan apa saja termasuk mengancamku. Aku tidak bisa memberitahukanmu karena papanya Dira mengatakan akan membatalkan semua kerja sama dengan perusahan kamu Arya. Dia bahkan mengancam akan membongkar masa laluku yang kelam agar reputasi kamu buruk karena menikahi mantan wanita panggilan sepertiku."
Tari semakin meraung meratapi tangisan palsunya, siapapun yang melihat Tari pasti akan bersimpati dan percaya dengan kebohongan yang di buatnya, membuat Arya mengepalkan tangannya yang sudah di penuhi amarah tidak menyangka jika almarhum mertuanya bisa selicik itu. Arya memang sudah mengetahui masa lalu kelam Tari dan menerima wanita pujaan hatinya itu apa adanya. Arya juga berusaha menutupi masa lalu Tari terutama dari kedua orangtuanya yang pasti tidak akan setuju jika mengetahui hal tersebut.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku Tari, apa kamu meragukan aku? Aku pasti bisa menyelesaikan masalah ini tapi kenapa kamu kabur waktu itu?"
"Aku hanya tidak ingin orang yang aku cintai menderita dan hancur hanya karena bersama denganku. Aku tidak sanggup membayangkan kamu hancur apalagi setelah semua orang tahu siapa aku sebenarnya. Aku memang tidak pantas untukmu Ar, wanita kotor sepertiku tidak pantas menjadi pendampingku." Ucap Tari dengan Isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati.
"Ahhkk.... sialan kenapa jadi seperti ini." Teriak Arya.
"Maafkan aku Ar, aku terpaksa aku juga di ancam akan di bunuh jika masih tetap berada di sampingmu. Sungguh aku sangat tersiksa jauh dari kamu. Hatiku sakit saat kamu menikahi wanita lain. Maafkan aku yang masih mencintaimu meski kamu sudah menjadi milik wanita lain." Ucap Tari.
"Ini bukan salah kamu, semua ini terjadi gara-gara Dira yang terlalu terobsesi denganku sehingga papanya tega memisahkan kita agar putrinya bahagia. Sudah kamu jangan nangis lagi, kita cari solusinya, Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Tari." Ucap Arya membawa Tari dalam pelukannya.
Arya sangat merasa bersalah setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh Tari, Arya yang sempat membenci Tari karena sudah meninggalkan dirinya kini berbalik membenci Dira. Rasa cinta yang mulai tumbuh kini berubah menjadi rasa benci. Bahkan Arya sudah tidak ingin melihat wajah istrinya itu.
"Tapi kamu sudah memiliki istri, apa kata orang jika kita masih tetap bersama. Aku akan di cap sebagai perebut suami orang dan semua orang akan memandang hina hubungan yang kita jalani nanti."
"Kamu tenang saja, karena aku sudah punya rencana, jika mereka bisa berbuat curang kenapa kita tidak bisa." Ucap Arya yang sudah terbakar emosi.
__ADS_1
"Kamu yakin Ar, aku tidak apa-apa jika kita tidak bersama bukankah cinta tidak harus memiliki."
"Tidak Tari, aku tidak akan tinggal diam jika kamu di perlakukan seperti ini. Semuanya harus di luruskan, kamu yang seharusnya menjadi istriku bukan Dira." Ucap Arya membuat Tari tersenyum di dalam pelukan laki-laki bodoh seperti Arya.
"Apa kamu akan menceraikannya, bagaimana dengan orang tuanya Ar ?" Tanya Tari pura-pura tidak tahu soal kematian orang tua Dira.
"Kamu tenang saja, karena orang yang selalu membelanya sudah tidak ada. Orang tua Dira sudah meninggal." Ucap Arya.
*
*
Dira tidak bisa tidur, entah kenapa hatinya tidak tenang sedari tadi ia sudah mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Arya memang menyuruh Dira untuk tidur dan tidak usah menunggunya karena ada pertemuan mendadak dengan rekan bisnisnya.
"Ada apa ini, kenapa perasaan aku jadi tiba-tiba tidak enak begini. Apa mas Arya baik-baik saja." Ucap Dira.
Dira yang semakin cemas karena jam dinding sudah menunjukkan jam sebelas malam semakin cemas dan takut apalagi sedari tadi ia mencoba menghubungi suaminya tapi tidak di angkat. Dira yang semula menunggu di kamar kini sudah duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu terlihat gusar dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya.
Arya kini sedang berada di sebuah bar untuk menghilangkan beban pikirannya, ia menenggak beberapa gelas minuman beralkohol, laki-laki itu segera pergi meninggalkan apartemen Tari setelah wanita itu tertidur. Arya bukanlah laki-laki brengsek yang akan meniduri wanita yang belum jadi istrinya walau Tari adalah kekasihnya. Selama menjalin kasih dengan Tari Arya selalu menjaga dirinya untuk tidak menyentuh wanita itu. Walau kadang Arya hampir khilaf menghadapi Tari yang sering menggodanya terlebih wanita itu sudah berpengalaman dan sangat agresif.
Pikiran Arya sekarang sedang kacau, ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi yang jelas rasa bencinya pada Dira semakin menjadi. Kini Arya sudah terhasut dengan kebohongan Tari. Arya tidak mengetahui jika ia awal dari penyesalannya.
__ADS_1
"Jangan di hujat ya kawan jika jalan ceritanya tak sesuai dengan keinginan kalian, Kalau ceritanya datar saja dan gak ada konflik ya bosan juga. Ini cuma kehalusan author saja."