
...Aku Memilih Pergi Bukan Karena Tidak Cinta, Tapi Aku Sudah Lelah Selalu Tersakiti Dan Meneteskan Air Mata...
...~ Nafisah Humaira...
...•...
...•...
...Happy Reading...
Malam ini perasaan Altaf tak enak dan pikirannya terus memikirkan Nafisah padahal baru tadi Altaf melihat Nafisah.
Altaf mencoba mencari posisi yang nyaman agar bisa tidur dengan enak. Altaf mencoba menutup matanya tapi lagi dan lagi ia membuka matanya akhirnya dua memilih duduk, ia heran kenapa terus memikirkan Nafisah.
Melihat di sampingnya Tyas masih tertidur dengan pulas, Altaf bangkit dari tidurnya lalu dia harus memeriksa kamar Nafisah. Dia yakin bahwa istrinya tengah terjadi sesuatu.
Altaf membuka perlahan pintu kamar Nafisah
" Kenapa Nafisah tidak mengunci nya. " Gumam Altaf.
" Nafisah. " Panggil Altaf khawatir saat melihat tak ada Nafisah di kasur, dia segera memeriksa kamar mandi.
Tak ada
Altaf dihantui perasaan khawatir, dia berlari mencari Nafisah di sekeliling rumah dimulai dari dapur, taman dan lain lain nya di jelajahi tapi keberadaan Nafisah masih belum di temukan.
Altaf berlari kembali ke kamar Nafisah membuka lemarinya.
" Ya allah Fisah kemana kamu. " Gumam Altaf.
Altaf memijat pelipis nya karena melihat lemari Nafisah yang sudah kosong.
Altaf langsung segera ke kamarnya dan Tyas untuk mengambil jaket.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 01:23 dini hari.
Saat hendak pergi Altaf di hentikan oleh Tyas yang terbangun.
" Al, mau kemana?. " Tanya Tyas saat melihat suaminya yang sudah rapih dengan jaket nya.
" Cari Nafisah. "
" Apa?! emang Nafisah kemana Al. " Tanya Tyas lagi menghampiri Altaf.
__ADS_1
" Nggak tau sepertinya dia kembali pergi. " Ucap Altaf.
" Al kamu harus cari Nafisah sampai dapat. " Altaf hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya ke Tyas lalu Tyas mencium tangannya.
" Aku tidak tau apa alasan kamu bisa mengkhawatirkan dia yang aku tau kau tulus sayang kepadanya. " Jawab Altaf melihat istrinya yang sedang khawatir.
" Al kalau kamu nggak bisa bawa Nafisah pulang lebih baik kita yang bercerai Al. " Ucap Tyas.
" Tyas cukup ya jangan ngomong yang aneh-aneh. " Tegas Altaf.
" Aku serius Al. "
" Aku pergi dulu jangan lupa tutup pintunya, assalamualaikum. " Ucap Altaf yang berlalu pergi dengan kendaraannya.
Dalam perjalanan Altaf terus memikirkan Nafisah dan ucapan Tyas. Altaf yakin Nafisah sudah mengetahui dan dia mungkin salah sangka atas dirinya sebenarnya bukanlah itu alasan Altaf untuk mengikuti kemauan istrinya agar menjadi suami yang baik ke Nafisah melainkan itu semua kemauan dari hatinya Altaf sendiri bukan menuruti kemauan Tyas.
Altaf sudah menyuruh bawahannya untuk mencari Nafisah. Altaf mempunyai alasan kenapa dia harus bersikap seperti ke Nafisah.
Dia menyuruh Nafisah untuk tidak mencintai dia karena Altaf tidak mau memberikan harapan sama wanita itu. Altaf menyayangi nya tapi tidak mencintainya.
" Nafisah tunggulah ku harap kamu bisa lebih sabar lagi. " Ucap Altaf dalam hati.
Ada satu rahasia yang Tyas sembunyikan dari Altaf dan dia belum memberitahu ke Altaf soal rahasia apa yang sedang ia sembunyikan.
" Nafisah. " panggil Altaf segera menghentikan mobilnya dan berlari mengejar Nafisah yang sedang berlari.
" Nafisah tunggu. " Ucap Altaf ia yakin bahwa yang dikejarnya itu Nafisah.
" Nafisah tung__." Ucap Altaf terhenti saat yang ia genggam ternyata wanita lain bukan Nafisah.
Di sini cukup rame dengan orang-orang karena sedang diadakan pasar malam. Tapi ternyata wanita yang ia pegang adalah wanita lain bukan Nafisah.
" Maaf mba salah orang. " Ucap Altaf kecewa dia kembali ke mobilnya.
Baru kemarin Altaf menemukan Nafisah kenapa sekarang Nafisah kembali pergi dari rumah. Apakah dia tak di takdir kan dengan Nafisah tapi Altaf tidak mau kejadian itu terulang lagi.
Kejadian dimana pria itu memeluk Nafisah dan menganggap Nafisah istrinya dan bagaimana kalau pria itu lah yang menemukan Nafisah.
" Arrrrggh. " Teriak Altaf frustasi, ia mengacak rambutnya pusing. Kenapa harus Nafisah yang menjadi korbannya.
" Argh. " Teriak Altaf lagi.
" Nafisah di mana kamu. " Ucap Altaf memukul tempat stir mobilnya dan kembali mencari Nafisah.
__ADS_1
Altaf teringat kenapa dia tidak menelepon Nafisah saja. Altaf mengambil ponsel nya dari saku celana nya, ia melihat kontak Nafisah lalu ia menelepon istrinya.
Dia hanya mendengar operator yang berbicara di sebrang sana tak putus semangat dia kembali meneleponnya.
" Nafisah angkat dong. " Geram Altaf dan lagi-lagi hanya operator yang menjawabnya.
Altaf membuka WhatsApp melihat pesan Nafisah yang belum sempat ia baca.
Nafisah
Assalamualaikum suamiku, maaf karena Nafisah pergi tanpa sepengetahuan mas dan mba tyas. Jika mas mencari Fisah tolong jangan pernah mencari Nafisah lagi cukup saat itu dimana mas mencari Fisah dan menolong Fisah. Nafisah hanya mampu mengucapkan terima kasih karena telah menolong Nafisah. Nafisah senang satu hari itu melihat mas perhatian sama ku. Satu hari saja sudah cukup untuk membahagiakan Nafisah.
Mas, Nafisah mohon tanda tangani surat perceraian itu. Nafisah akan kembali mengambil surat itu atau kita akan bertemu di pengadilan agama, Nafisah akan tunggu mas di pengadilan agama nanti. Mas tolong bahagiakan mba tyas.
Nafisah pergi bukan berarti cinta Nafisah hilang percayalah cinta itu masih ada hanya saja Nafisah sudah lelah dengan semua ini. Mas harus terus bahagia karena Nafisah akan bahagia juga ketika melihat mas tersenyum bahagia.
Pesan itu mampu membuat hati Altaf menangis dan kecewa atas dirinya sendiri. Kenapa dia menjadi pria lemah yang tak bisa berbuat apa-apa.
Altaf berniat membalas pesan itu.
Anda
Tidak Nafisah tolonglah pulang jangan berpikir saya akan bahagia jika tidak ada kamu.
Maaf... maafkan mas Fisah. Mas janji jika kamu pulang nanti mas tidak akan membiarkan mu terluka lagi tolonglah pulang Nafisah.
Hanya itu yang mampu Altaf ketik. Altaf mengendari mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
" Tak akan ku biarkan kau pergi nafisah. "
Altaf terus mencari Nafisah, dia juga menghubungi bawahannya untuk memastikan bahwa mereka sudah mencari Nafisah.
Dia mencari Nafisah bukan karena takut akan di ceraikan Tyas. Tidak, dia melakukan ini semua karena dia takut Nafisah kenapa-kenapa.
Dia sudah lalai menjaga amanat Abi nya Nafisah. Altaf menyesal dengan perbuatannya.
Dia tak pernah membahagiakan Nafisah, dia selalu memberi luka di hatinya Nafisah.
Mungkin bisa di bilang dia adalah laki-laki brengsek yang membiarkan istrinya selalu menangis setiap hari.
Menangis akibat ulah dia sendiri.
" Al al ngapa lu harus lakuin ini semuanya si ke Nafisah. " Batin altaf
__ADS_1
To be continue...