Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 12


__ADS_3

...Perempuan mudah memaafkan lalu memberi kesempatan yang sama. Namun jika hatinya terluka semuanya tak akan lagi sama, tak akan lagi seperti semula meski dia tak akan membalas hal buruk apapun yang di lakukan padanya....


.......


.......


...Happy Reading...


" Mas Altaf. " Ucap Nafisah menggigit pria itu dan berlari memeluk Altaf.


Tak ada penolakan Altaf pun membalas pelukan Nafisah dan mengelus kepala Nafisah tak lupa ia juga mencium dahi Nafisah. Di situasi seperti saat ini Nafisah tak berpikir apa-apa hanya ada ke khawatiran saja.


" Mas Altaf aku takut mas. " Mulut Nafisah bergetar ketakutan ia juga masih memeluk Altaf erat rasanya sangat nyaman dan tenang.


" Wih ada pahlawan kesiangan. " Mendengar suara itu, Nafisah melepas pelukan Altaf dan bersembunyi di belakang Altaf dengan tubuh gemetar karena Nafisah tidak pernah menyentuh pria selain suaminya.


Altaf mendekat dan memukul wajah pria itu sehingga pria itu terjatuh.


" Beraninya kau memeluk istriku. " Ucap Altaf menarik kerah baju pria itu. Nafisah menatapnya takut nanti terjadi sesuatu pada suaminya.


" Istri? Hahaha sejak kapan jelas-jelas dia istri saya, Naila sayang. " Ucap nya sambil tersenyum menjijikan.


" Kau sudah gila mengaku-ngaku dia sebagai istrimu. " Teriak Altaf tegas hampir saja dia terbawa emosi tapi dia tahan karena tidak ada guna nya.


" Saya tidak berkhayal, dia istri saya. " Ucap pria itu, Altaf yang bersiap melayangkan pukulannya tapi di tahan oleh Nafisah jadi akhirnya Altaf melepaskan kerja baju pria itu dan mendorong nya begitu saja.


Altaf mendekat ke Nafisah


" Fisah ayo kita pulang. " Ucap Altaf menarik Nafisah, Nafisah menggenggam tangan Altaf dan ikut masuk ke dalam mobil.


Altaf melajukan mobilnya, wajahnya padam menahan amarah mungkin Altaf melihat pria itu memeluk Nafisah.


" Kenapa kamu bisa berada di kota ini. " Tanya Altaf memecah keheningan, Nafisah menoleh ke arah Altaf tapi Nafisah memilih diam tak mau memberitahu Altaf.


" Kenapa kamu lari tadi saat aku larang mu. Apa kau tak menganggap ku sebagai suamimu lagi." Marah Altaf yang menghentikan mobilnya lalu dia menatap Nafisah dalam dan Nafisah hanya bisa terdiam tanpa mau menimpali ucapan Altaf.


" Makasih. " Ucap Nafisah karena hanya itu yang dapat Nafisah ucapkan, dia tak mampu melihat manik mata Altaf. Nafisah hanya menatap lurus ke depan saja tanpa menoleh ke arah Altaf.


" Untuk apa. " Tanya Altaf dengan nada ketus dan kecewa.


" Telah menolong ku. " Ucap Nafisah menunduk dia masih ketakutan.


" Siapa dia. " Tanya Altaf, Nafisah kembali menggeleng tak tau. Yah karena sejujur nya dia juga tidak tau dengan pria yang seenaknya dia menyentuh Nafisah, Nafisah bagai wanita hina yang membiarkan pria lain memeluknya.


" Maafkan Nafisah yang telah membiarkan pria itu memeluk Nafisah. Nafisah sudah berusaha memberontak tapi sayangnya Nafisah tidak sekuat itu tenaganya. Maaf mungkin Nafisah sekarang sudah menjadi wanita hina hiks hiks. " Air matanya menetes di pipinya, Nafisah memilih menunduk.


" Tidak, kamu tidak salah. Saya yang salah, saya telah membiarkan mu pergi. Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu dan ingat jangan pernah kamu menganggap dirimu hina, jangan pernah Nafisah. Kamu tidak hina. " Tegas Altaf sambil menggenggam tangan Nafisah.


" Apa mas sudah menerima Nafisah sebagai istri mas. " Tanya Nafisah dan sambil menatap matanya Altaf. Nafisah juga bingung kenapa dia harus mengeluarkan kata-kata itu.


" Jangan berharap Nafisah, sudah lah kamu tidak boleh menggangu rumah tangga mereka lagi. " Ucap Nafisah dalam hati.


" Bukannya kamu memang istri saya. " Jawab Altaf yang kembali mengendari mobil nya, dia hanya melihat ke depan tanpa menatap Nafisah.


" Apa mas sudah mencintai Fisah. " Tanya Nafisah lagi.


Hati Nafisah kembali berucap bahwa dia harus bertahan.


" Aku sudah tau mas tak akan menjawab pertanyaan Nafisah. " Ucap Nafisah kecewa.

__ADS_1


" Saya minta sama kamu sebelum kamu mencintai saya, tolong kamu lupakan saya. " Ucap Altaf membuat hati Nafisah sakit.


" Apa yang di katakan mas Altaf, salahkah aku mencintai mu mas?. " Tanya Nafisah dalam hati.


" Kenapa?. " Tanya Nafisah dengan air maya sudah menetes membasahi pipinya, dia berusaha menenangkan dirinya mungkin ini yang terbaik.


" Karena saya tidak mencintai mu Nafisah, saya sudah mencintai Tyas dan akan terus begitu. Saya hanya menyayangi mu sebagai adik dan akan terus seperti itu. " Ucapnya.


Nafisah menatap jendela menangis dan terus menangis tapi ia tahan dengan mengigit bibir nya agar isakannya tak terdengar.


Hatinya sakit saat mendengar ucapan Altaf, kenapa dia harus terjebak dengan kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini. Kenapa dia datang hanya memberi harapan.


" Tapi Nafisah sudah mencintai mu mas. " Ucap Nafisah tanpa menoleh kepadanya dan dia mengusap air matanya.


" Lupakan saya Nafisah. " Ucap Altaf membuat dada Nafisah sesak seperti ada jarum yang menusuk secara tiba-tiba dan hatinya kembali sakit dengan goresan yang terus bertambah.


" Tuhan kuatkan hati Nafisah. " Ucap Altaf dalam hati.


Altaf sengaja tak melihat Nafisah karena dia tak mampu melihat orang yang di samping nya menangis karena nya.


" Maafkan saya Nafisah, saya kembali menyakitimu tapi ini demi kebaikan mu. " Ucap Altaf dalam hati.


...•••...


Hatiku sudah baikan dan masih memikirkan apakah aku harus mundur ataukah bertahan.


Pagi ini mas Altaf tidur dengan ku karena mba tyas masih berada di Bali. Aku hanya terdiam memikirkan perceraian dan terus menanyakan ke Mas Altaf tapi dia hanya memilih diam dan menyibukkan diri dengan pekerjaan.


" Mas. " Panggilku dengan kebingungan.


Nafisah memanggil Altaf yang tengah menyiapkan berkas karena sebentar lagi ia akan meeting dan sekalian menjemput Tyas di bandara.


Nafisah tengah berdiri memandangi gerak-gerik Altaf, ia takut untuk menanyakannya pasalnya pertanyaaan itu sudah berapa kali dia tanyakan dan respon Altaf hanya dengan menatap Nafisah dengan raut wajah yang sulit di artikan.


" Jangan kamu tanyakan lagi pertanyaan itu karena saya tidak akan merubahnya kalau saya tidak akan menceraikan kamu. " Tegas Altaf dan berjalan keluar.


Nafisah hanya menatapnya dan mengikutinya


" Mas tau darimana Fisah mau tanyakan itu padahal Fisah mau nanya yang lain. " Alibi Nafisah.


" Apa yang ingin kamu tanyakan?. " Tanya Altaf


" Fisah mau tanya kenapa mas bisa tau fisah ada di kota itu kemarin. "


" Kamu tau kamu siapanya saya. " Tanyanya


" Istri mas. " Ucap Nafisah


" Tuh kamu tau kalau kamu istirnya saya dan mudah saya untuk mengetahui kamu di mana lagian seorang Anugrah Dwi Altaf Aksara mudah untuk mencari kamu dimana. " Ucap Altaf


Ucapan Altaf membuat pipi Nafisah merona saja.


" Nafisah. " Panggil suara itu menyadarkan aku, aku berjalan ke depan dan menatap suamiku dari atas tangga. Perasaan aku tidak melihatnya jalan, pikirku.


" Iya. " Sahutku berjalan menuruni tangga.


" Ada apa mas?. " Tanya Nafisah saat berada di hadapan Altaf.


" Aku lapar. " Jawab Altaf melihat meja makan yang cuma ada buah-buahan saja.

__ADS_1


" Jadi?. " Tanya Nafisah polos


" Kamu masakin yah. " Balasnya dengan memegang perutnya.


" Masak saja sendiri. " Canda Nafisah memalingkan wajahnya.


" Oh oke baiklah. " Ucapnya.


Hahaha


Tawa Nafisah pecah saat Altaf menggelitik kan perut Nafisah. Nafisah tertawa lepas dan tak bisa menghentikan tangan Altaf karena tenaga Altaf yang kuat melebihi Nafisah.


" Hahaha ma-s su-sudah. " Ujar Nafisah menghentikan gerakan tangannya.


Altaf pun menghentikan tangannya dan kembali bertanya " Gimana mau enggak?. "


" Nggak mau. " Canda Nafisah lagi menatapnya malas. Altaf kembali menggelitik kan Nafisah.


Hahaha


" Assalamualaikum. " Salam seseorang langsung memasuki rumah dengan mendorong koper.


" Walaikumsalam. " Jawab Altaf dan Nafisah menghentikan tawa dan kegiatannya.


" Maaf, silahkan di lanjut. " Ucap Tyas dan kembali berbalik.


" Engga apa-apa mba, masuk saja. " Ucap Nafisah dan menghampiri Tyas.


" Mba silahkan masuk. " Suruh Nafisah dan mengambil ahli koper yang di pegang Tyas.


" Sayang. " Ucap Altaf menghampiri Tyas


" Mas aku ke dapur dulu ya. " Ucap Nafisah dan Altaf hanya mengangguk saja.


Nafisah berjalan ke dapur sedangkan Altaf mempersilahkan Tyas duduk di sofa.


" Katanya berangkat siang kok ini sudah datang saja terus ko ga ngabarin aku kan aku bisa jemput mu. " Ujar Altaf


" Maaf lupa. " Jawab Tya


" Kenapa kamu enggak suruh aku menjemputmu. " Tanya Altaf lagi.


" Tadi buru-buru jadi enggak sempat megang hp, aku juga enggak tau kalau waktu penerbangannya di percepat. " Jujur Tyas dan Altaf hanya mengangguk.


" Sayang. " Panggil Altaf, Tyas melihat suaminya.


" Untuk saat ini kamu tinggal bersama aku dan Nafisah. " Pinta Altaf, Tyas menatapnya kaget.


" Kenapa?. " Tanya Tyas bukannya tak mau tapi dia takut nanti Altaf tak bisa adil atas dia dan Nafisah.


" Kantor ku kan dekat kalau di sini dan saat ini aku sedang sibuk jadi engga apa yah biar enggak pulang balik ke sini dan ke sana. Biar nanti kalau aku pulang malam bisa langsung pulang tak perlu menginap. " Ungkap Altaf.


" Kamu mau ga?. " Tanya Altaf lagi dan Tyas hanya bisa mengangguk saja.


" Mau, tapi kamu sudah tanya Nafisah belum?. " Tanya Tyas dan Altaf hanya menggeleng.


" Mending mas tanya sama Nafisah dulu jika dia tidak mau enggak apa-apa, aku mau ko mengalah. " Ucap Tyas, Altaf mengangguk mengerti.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2