
...Terima kasih sudah menunjukkan bahwa perasaan bisa berubah jika tak diperjuangkan. Kelak semoga kita tidak mengulangi kesalahan....
...Happy Reading...
Nafisah pun sudah di pindah kan ke kamar inap, sungguh bahagia sekali mereka saat melihat Nafisah sudah berhasil berjuang melawan masa kritis nya.
" Mas. " panggilan pertama dari Nafisah.
" Iya?. " Altaf menghampiri Nafisah namun Nafisah hanya terdiam memandangi suaminya.
" Terima kasih. " Ujar Nafisah
" Untuk?. "
" Karena mas sudah menunggu ku selama aku tidak sadarkan diri. " Ucap Nafisah memegang jemari Altaf.
Altaf hanya tersenyum karena dia canggung sekali memang Altaf basic nya cuek dan sulit mengungkapkan rasanya.
Flash back on
" Kenapa kamu lakuin ini. " Tanya Altaf kepada Nafisah yang setengah sadar itu.
" Aku hanya ingin orang yang aku cinta selamat meskipun mas tidak mencintai ku. " Ucap Nafisah dengan suara yang melemah.
Altaf terdiam akan ucapan Nafisah, apa ini saatnya dia jujur kepada Nafisah kalau dia sudah mencintai Nafisah sejak dulu.
" Nafisah hey bangun. " Ucap Altaf saat melihat Nafisah hampir menutup matanya.
" Aku cinta sama kamu Nafisah, aku cinta terus bertahan Nafisah demi aku. " Ucap Altaf bersama dengan air matanya yang mengalir deras.
" Terima kasih. " Ucap Nafisah yang hampir sudah tidak terdengar dan bersamaan dengan kedua matanya yang menutup.
Flash back off.
" Mas, apa nafisah tidak salah dengar waktu pas Nafisah ingin menutup mata Nafisah mendengar kalau mas mengatakan cinta kepada Fisah. " Ujar Nafisah
Altaf hanya menatap Nafisah tidak menjawabnya.
" Apa boleh Fisah mendengar lagi?. " Saat Nafisah mengucap kan itu Altaf malah terdiam saja.
" Apa ucapan mu itu bohong mas, fisah tau ko karena Fisah sudah pernah di bohongi sama mas jadi Fisah lebih pintar sekarang. " Nafisah menghela Nafasnya.
" Mas jika mas belum mencintai Nafisah tidak apa tapi jangan berbohong, Fisah tidak suka lagian ini masalah hati mas. Kalau mas seperti itu sama saja mas melukai Nafisah dengan berpura-pura mencintai Nafisah."
" Dan Nafisah nggak suka jika mas mencintai Fisah hanya karena rasa kasian. " Ujar Nafisah sedikit menghantam hati Altaf.
Altaf menghela nafas nya agar dia bisa berucap yang sesungguhnya " Fisah sebenarnya aku___."
" Maaf pak waktu berkunjung nya sudah habis, Ibu Nafisah harus istirahat. " ucap suster yang baru saja datang jadilah Altaf tidak jadi mengatakannya.
Altaf mengangguk saja
" Mas jika beluk mencintai Nafisah tidak apa, Nafisah masih banyak waktu untuk menunggu itu tapi jangan berpura-pura seperti kemarin. "
" Silahkan pak anda bisa keluar. " Ucap Suster yang menyuruh Altaf keluar.
Altaf segera membuka pakaian rumah sakit yang ia gunakan lalu dia keluar sedangkan suster sedang membenarkan infusan Nafisah dan memasangkan alat oksigen Nafisah yang tadi di lepas.
" Selamat istirahat bu. " Ujar suster, nafisah hanya tersenyum lalu suster itu pergi.
" Kenapa Nafisah berucap seperti itu disaat aku benar-benar mengatakan kalau ku mencintainya. " Ucap Altaf dalam hati.
...•••...
Hari semakin malam tapi Altaf masih bingung gimana cara menyakinkan Nafisah bahwa ucapan dia saat itu serius tidak berpura-pura.
Lagian rasa itu sejak dulu memang sudah hadir hanya saja Altaf yang selalu menepisnya agar dia melupakan Nafisah namun nyatanya tidak akan pernah bisa.
" Nafisah kenapa membuat aku gila seperti ini." Gerutu Altaf dalam hati.
__ADS_1
karena sangat pusing jadi Altaf memilih untuk tidur di kursi tunggu depan kamar Nafisah karena untuk saat ini tidak boleh ada orang di kamar inap Nafisah supaya Nafisah bisa istirahat total dulu. Melihat kondisi Nafisah masih belum stabil juga.
...•••...
08:00 WIB
Hari sudah pagi, Nafisah juga sudah di periksa oleh dokter dan dokter mengatakan kalau kondisi Nafisah alhamdulilah mengalami perkembangan yang sangat baik.
" Suster. " Panggil Altaf ketika ada suster yang lewat ingin memberi sarapan ke Nafisah.
" Iya pak, ada apa?. " Tanya suster
" Boleh saya saja yang bawakan sarapannya." Altaf menatap suster itu.
" Boleh pak, ini pak. " Suster itu mengasih nampan berisi bubur beserta sayur dan lauk pauk nya.
" Terima kasih sus. " Altaf langsung berjalan masuk ke kamar inap Nafisah.
Tok tok tok.
Setelah mengetuk pintu, altaf langsung mendekat ke Nafisah.
" Mas. "
" Makan dulu ya. " Ujar Altaf yang langsung membuka tutup mangkuk buburnya.
" Aaa. " Nafisah memakan nya walau sebenernya dia sangat tidak suka makanan rumah sakit yang rasanya hambar sekali.
" Mas. "
" Kalau makan itu tidak boleh bicara. " Ucap Altaf, Nafisah langsung menutup mulutnya.
" Maaf. "
" Ya sudah abis kan dulu abis itu baru bicara." Ujar Altaf.
" Sudah?. " Tanya Altaf karena melihat Nafisah sudah tidak mau menerima suapannya, Nafisah hanya mengangguk saja sebagai jawabannya.
Setelah minum Nafisah mengelap mulutnya dari sisa bubur yang masih menempel di mulutnya.
" Dah sekarang mau bilang apa tadi. " Tanya Altaf tapi Nafisah malah diam.
" Loh ko diam. "
" Tidak jadi mas, Nafisah lupa mau bilang apa tadi. " Ucap Nafisah tersenyum.
" Nafisah, aku cuman mau melanjutkan ucapan ku yang terpotong kemarin kalau yang kamu dengar waktu itu betul dan aku tidak sedang berpura-pura kepada mu. "
" Mas, Kamu mengucapkan itu karena kamu hanya kasian kepadaku. " Ujar Nafisah.
" Nafisah, aku serius dan aku mengucapkan itu bukan karena aku kasian ke kamu. Kamu bisa lihat dari yang aku lakukan kemarin kalau aku tidak cinta ke kamu atau hanya kasian tidak mungkin aku menangis dan rela menunggu mu di sini melupakan kesehatan ku. " Ujar Altaf karena dia sudah capek menahan rasa yang ia pendam.
Nafisah menatap manik bola mata Altaf mencari kebohongan tapi nyatanya tidak sama sekali ada yang ada hanyalah keseriusan yang ia lihat.
" Mencari apa di mata ku?. " Tanya Altaf yang menyadarkan Nafisah.
" Tidak ada ke bohongan yang ku tutupi Nafisah Humaira. " Ucap Altaf.
" Terima kasih mas. " Hanya itu yang bisa Nafisah katakan karena dia sangat senang bahwa akhirnya Altaf mencintainya.
" Sejak kapan mas mencintai Nafisah?. " Tanya Nafisah.
" Aku mencintai mu sudah sejak lama Nafisah Humaira. " Ucap Altaf
" Sudah lama?. " Tanya Nafisah mengerutkan keningnya.
" Aku akan cerita kan nanti kalau kamu sudah diperbolehkan pulang, aku akan menceritakan di rumah. " Ucap altaf karena dia ingin menceritakan juga soal album yang dia simpan karena di sana lah banyak sekali foto Nafisah.
Tok tok tok
__ADS_1
" Permisi pak, bu ada yang ingin berkunjung. " Ucap suster
" Ah ya sus, suruh masuk saja. " Ucap Nafisah.
Baik Nafisah dan Altaf sangat terkejut saat melihat yang datang adalah Adi.
" Nafisah. " Panggil Adi
Altaf yang melihat kedekatan Adi dan Nafisah merasa cemburu dan memilih untuk pergi saja.
" Mas mau kemana?. " Tanya Nafisah yang menahan tangan Altaf
" Mau keluar. " Ucap Altaf tanpa menatap Nafisah
" Di sini saja mas, jika ucapan mas tadi benar mas bisa katakan ke adi siapa mas. " Ucap Nafisah karena dia mau Altaf tidak cemburu dan supaya tidak ada lagi kebohongan yang ia tutupi kepada sahabatnya.
" Ada apa ini?. " Tanya Adi saat melihat Nafisah dan Altaf tampak begitu serius.
" Biar Mas Altaf yang menjelaskan. " Ujar Nafisah
" Ada apa Al?. " Tanya Adi
" Sebenarnya aku sama Nafisah____." Altaf malah terdiam tak melanjutkan ucapannya.
" Sebenarnya apa Al?. " Tanya Adi
" Al. " Panggil Adi.
" Mas biar Nafisah yang melanjutkan ya. " Tanya Nafisah tapi Altaf malah terdiam entahlah.
" Adi sebenarnya aku sama mas altaf sudah menikah. " Ucap Nafisah tapi Adi malah menampakkan wajah biasa saja.
" Aku sudah tau. " Ucap Adi
" Darimana kamu tau Di?. " Tanya Nafisah
" Nafisah Humaira, Sahabat mu tidak bodoh. Aku tau saat pertemuan kita di kafe kamu sama Altaf tampak seperti menyembunyikan status mu dan aku melihat kalian memakai cincin bentuk nya sama. " Ucap Adi, refleks Nafisah dan Altaf menatap cincinnya.
" Di, jangan marah ya. " Ucap Nafisah
" Buat apa aku marah Fisah, malah aku senang sekali melihat sahabat ku bahagia. " Ucap Adi
" Selamat ya Al. " Ucap Adi yang langsung memeluk Altaf.
" Maafin gua ya. " Ucap Altaf
" Maaf untuk apa Al. "
" Gua tau lu suka sama Nafisah tapi gua malah nikahin dia. " Ucap Altaf
" Santai Al, gua memang suka sama Nafisah tapi gua ikhlas melepaskan dia jika dia bahagia nya sama lu. Pesan gua cuman satu jagain dia kalau dia terluka karena lu, gua orang pertama yang menghajar lu Al. " Ucap Adi.
" Bahagia selalu ya Nafisah, aku ikhlas melepaskan mu. " Ucap Adi dalam hatinya.
Sejujurnya Adi sangat sakit sekali tapi dia harus mengikhlaskan Nafisah dan dia yakin suatu saat dia akan menemukan pendamping hidup yang akan menemani dia selamanya.
" Semoga kamu cepat menemukan pasangan hidup ya Di. " Ujar Nafisah, Adi hanya tersenyum
" Sama Mirna aja. " Ceplos Nafisah.
" Aduh makasih deh lebih baik gua menjomblo sampai tua aja deh. " Ucap Adi.
" Eh nggak boleh gitu ucapan jadi doa tau lagian kenapa si nggak mau sama Mirna, dia baik ko. " Ucap Nafisah.
" ya tapi nggak ama dia juga kali. " Ucap Adi
" Di coba deh buka hati lu siapa tau kelak lu akan mencintai Mirna. " Ucap Altaf memegang bahu Adi.
Entah sejak kapan dia bisa dekat dengan Adi seperti ini karena dia biasanya tidak banyak bicara jika sama orang akan cuek terlebih kalau dia hanya rekan kerja saja.
__ADS_1
Nafisah yang melihat kedekatan Altaf dan Adi hanya bisa bersyukur dan dia berharap semoga selalu akur dan bisa bahagia bersama Altaf dan juga sahabatnya.
To be continue...