
...Hal paling sulit dalam hidup bukanlah perkara memilih, tetapi bagaimana kamu bisa bertahan dengan pilihan yang telah diambil....
...Happy Reading...
Matahari pun sudah bersinar menyinari kamar kedua sepasang kekasih yang sedang tidur pulas.
Nafisah yang merasa sudah pagi akhirnya dia membuka perlahan matanya dan menyalakan lampu melihat jam sudah pukul 06:23
" Ya allah aku ketiduran. " Ucap Nafisah
Karena tadi sehabis sholat dia memilih untuk tidur lagi.
Nafisah melihat kearah Altaf yang masih tertidur pulas, tak tega jika ia harus membangunkan Altaf. Nafisah berjalan ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian
Nafisah keluar sudah menggunakan pakaian gamis tak lupa dengan hijab nya. Ia melihat jendela masih tertutup rapat. Nafisah berjalan membuka gorden menampakkan cahaya matahari ciptaan tuhan yang sedang memancarkan sinar nya.
Tak terasa waktu berganti dengan cepat.
Nafisah melihat ke arah suami nya yang masih tidur mencoba untuk membangunkannya takut suaminya ada jam kerja.
Nafisah masih belum banyak mengetahui tentang Altaf hanya tau salah satu makanan kesukaan Altaf yaitu bubur ayam.
Itupun karena waktu itu almarhum abi pernah membawakan nya saat menjenguk Altaf.
" Mas Al. " Nafisah menggoyang kan tubuh Altaf.
Altaf membuka matanya perlahan lalu melihat ke arah Nafisah. Altaf tipe orang yang tidur gampang di bangunkan kecuali dia sedang lelah baru agak sedikit susah di bangunkan.
" Mas, sudah pagi ayo bangun. " Ucap Nafisah yang menyingkirkan tangannya.
Altaf berjalan ke kamar mandi sedangkan Nafisah membereskan kamar lalu setelah itu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
" Assalamualaikum mbok. " Salam Nafisah tersenyum.
" Waalaikumsalam walah non sudah bangun toh. "
" Ya mbok. " Ucap Nafisah lalu membantu Mbok memasak.
" NAFISAH. "
Teriak Altaf dari lantai atas
" Eum mbok, Fisah permisi dulu. Mas Altaf panggil, tolong potong ini ya mbok. " Pamit Nafisah menyerahkan kegiatannya ke mbok.
" Ada apa mas. " Ucap Nafisah yang baru saja menutup pintu kamar dan menunduk karena melihat Altaf hanya menggunakan handuk di perutnya.
__ADS_1
" Baju saya enggak ada. " Altaf mendekat ke arahnya. Hati Nafisah senang saat melihat suami nya yang saat ini menampakkan wajah tampan nya tanpa memperlihatkan raut wajah dinginnya seperti biasa.
" Nafisah. " Ucap Altaf menyadarkan Nafisah.
" Ah ya mas ada apa. " Nafisah kaget
" Kamu dengar ga tadi saya bilang apa, tadi saya nanya baju saya ko enggak ada di lemari. " Tanya Altaf yang kembali dengan raut wajah dinginnya, baru saja Nafisah tidak melihat raut wajah itu tapi sekarang dia kembali dengan ekspresi yang Nafisah tidak suka.
" Loh bukannya mas enggak bawa koper sehabis mengantar Mba Tyas. "
Altaf lupa kalau dia menyimpan koper nya di rumah Tyas waktu itu.
" Saya lupa kalau koper saya ada di rumah Tyas."
" Kenapa koper mas bisa di rumah Mba Tyas." tanya Nafisah.
" Ga usah banyak tanya ya eum saya minta tolong sama kamu. Tolong belikan baju saya di toko yang ada di dekat sini. " Ucap Altaf yang langsung berlalu ke sofa dan memainkan ponselnya.
Nafisah turun kebawah dengan sedikit berlari
" Non mau kemana. " Tanya mbok melihat Nafisah berlari seperti itu.
" Eum mau beli baju buat Mas Al. " Jawab Nafisah.
" Loh ko buru-buru amat non, ini kan masih pagi. " Tanya Mbok lagi menghampiri Nafisah.
Suara bel rumah berbunyi,
Nafisah berjalan membuka pintu
" Non biar Mbok saja yang buka. " Ucap Mbok memberhentikan langkah Nafisah. Nafisah mencium masakan gosong dari dapur.
" Engga usah mbok biar fisah saja, eum urusin saja makanan itu kelihatan nya gosong deh. " Ucap Nafisah, Mbok berlari ke dapur mematikan kompor.
Saat Nafisah membuka pintu ia kaget melihat seorang wanita berdiri dengan memegang satu koper, siapa lagi kalau bukan Tyas. Untuk apa dia kesini dengan membawa koper.
" Assalamualaikum Fisah. " Sapa Tyas tersenyum kepada Nafisah.
" Waalaikumsalam. " Nafisah menetralkan ekspresi nya menjadi biasa.
" Ada Al__." Tanya Tyas terpotong.
" Mas Altaf ada di dalam. " Ucap Nafisah cepat ia sudah tau siapa yang di cari Tyas, siapa lagi kalau bukan Altaf.
" Siapa non?. " Tanya mbok menghampiri Nafisah.
" Mbak Tyas Mbok. "
__ADS_1
" Silahkan masuk biar Fisah panggilkan mas Altaf. " Ucap Nafisah lalu berjalan ke arah tangga.
" Mas. " Altaf yang di panggil menoleh, Nafisah ragu untuk memberi tahu kalau Tyas ada di bawah.
" Ada Mba Tyas di bawah. " Ucap Nafisah menunduk, Altaf langsung berjalan membuka pintu kamar.
" Mas. " Panggil Nafisah menghentikan Altaf. Altaf berbalik, Nafisah mengangkat kepalanya menatap Altaf.
" Mas mau keluar dengan memakai handuk saja seperti ini. " Tanya Nafisah
" Emang kenapa. "
" Mas tidak berhak menampakkan penampilan mas seperti ini di depan wanita yang bukan mahram mas Altaf. " Ucap Nafisah halus berharap Altaf mau mendengarkan ucapannya.
" Terus. "
" Biar Fisah belikan baju dulu buat mas jika mas sudah pakai baju baru mas bisa turun ke bawah. " Ucap Nafisah
" Engga usah kamu belikan, kamu ambilkan baju saja yang ada di bawah, Tyas mengantarkan koper saya. " Ucap Altaf, Nafisah turun untuk mengambil koper yang Tyas bawa.
Lima menit kemudian
Nafisah kembali ke kamar membawakan koper Altaf dan ia mengambilkan baju Altaf di dalam koper. Altaf mengganti baju di kamar mandi dan Nafisah turun ke bawah untuk menyiapkan makanan.
Tyas bosan dengan dirinya yang terdiam saja menatap rumah besar ini, bisa di bilang sangat besar tak seperti rumah nya. Tyas tertuju kepada Nafisah yang sedang menyiapkan makanan.
" Fisah boleh aku bantu. " Tanya tyas menghampiri Nafisah dan Nafisah mempersilahkan tanpa berbicara.
" Ini ayam?. " Tanya Tyas. Nafisah melihat lalu ia mengangguk.
" Fisah maaf, Altaf tak suka dengan ayam terutama seafood karena Altaf punya alergi sama seafood. " Ucap Tyas.
Nafisah bingung saat mendengar ucapan Tyas tadi apakah ia harus membuang ayam yang sudah ia goreng tadi sedangkan lauk pauknya hanya ayam goreng dan sayur saja. Terus juga ayam goreng itulah lauk utamanya.
" Maaf. " Ucap Nafisah lalu memindahkan ayam goreng itu. Lagi dan lagi untuk saat ini Nafisah merasa gagal menjadi istri, ia merasa seperti istri yang tidak berguna bagi Altaf.
" Enggak usah minta maaf fisah, kamu engga usah buang makanannya mubasir biarkan di atas meja saja mungkin ada yang mau makan. " Ucap Tyas, Nafisah kembali mengangguk.
Sungguh hari ini Nafisah sudah tidak bersemangat.
Altaf turun dengan menggunakan jas hitam tak lupa kacamata yang bertengger di hidungnya menambah pesona ketampanan Altaf.
" Altaf. " Panggil Tyas lalu memeluk Altaf sayang, Nafisah yang melihatnya merasa hati nya sangat begitu sakit. Hati serasa tertusuk oleh duri duri yang sangatlah tajam.
Altaf membalas pelukan Tyas dan mencium dahi nya. Air mata Nafisah menetes, dadanya serasa sesak melihat pemandangan itu. Mbok yang melihat Nafisah pun menenangkannya dengan cepat Nafisah memeluk mbok.
" Non Fisah harus kuat. " Mbok berusaha menenangkan Nafisah. Saat ini Nafisah merasa dia sangatlah lemah menjadi perempuan yang selalu menangis dan semua yang ia rasakan dia ungkapkan lewat air mata. Apa begini rasanya menikah dengan seseorang yang jelas tak mencintai kita.
__ADS_1
To be continue. ..