
Arya dan Bimo sudah berada di depan ruangan Dira sedangkan Dani tidak ikut bergabung karena harus memeriksa pasien lain. Saat memasuki ruangan Dira kedua lelaki itu mendapati istri mereka sedang asyik bercerita sembari sesekali tertawa membuat Arya dan Bimo tersenyum dan mulai mendekati kedua wanita hamil tersebut.
"Ehm.... sepertinya asyik sekali ceritanya, lagi bahas apaan sih ?" Tanya Bimo yang kini berdiri di belakang Bunga yang duduk di kursi sebelah ranjang Dira.
"Mas mau tahu aja, biasalah bumil kalau lagi kumpul pasti bahas dedek bayi." Jawab Bunga sembari mengelus perutnya.
"Emang kenapa dedek bayinya sayang?"
__ADS_1
"Aku dan Dira bahas kalau nanti anak kita lahir pasti umurnya gak jauh, cuma beda beberapa bulan saja. Nanti kalau kita sedang ngumpul pasti seru. Bagaimana kalau anak mereka di jodohin sama anak kita mas? anak Arya dan Dira kembar mas, satu cowok dan cewek. Sepertinya tidak akan mengecewakan jika orang tuanya Arya dan Dira, aku yakin mas anak mereka pasti cantik dan baik hati karena pabriknya saja berkualitas." Tutur Bunga dengan semangat.
Arya, Dira dan Bimo hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Bunga yang sudah berpikir menjodohkan anak-anak mereka padahal anaknya saja belum lahir ke dunia.
"Gimana mas, kamu setujukan kalau kita besanan sama Arya dan Dira?" Tanya Bunga kembali.
Mendengar perkataan sahabatnya itu membuat Arya tidak terima, laki-laki itu mulai mengajak Bimo berdebat membuat kedua wanita hamil itu hanya bisa menjadi penonton.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau anak gue mewarisi sifat gue?" Tanya Arya sedikit jengkel.
"Jangan sampailah, cukup tampang saja yang mereka warisi dari Lo, kalau sifat dan kelakuan mending dari Dira saja. Cukup Lo saja manusia bodoh dan brengsek yang ada di hidup gue jangan sampai ada penerusnya." Jawab Bimo tanpa rasa bersalah.
"Dasar gak tahu diri harusnya Lo itu ngaca dulu sana, emang Lo udah benar jadi orang. Kita itu sebelas dua belas, beda tipis kelakuannya. Bukannya kamu juga sama brengseknya dengan gue. Kalau nanti anak Lo mewarisi sifat Lo, gue juga gak sudi putri gue menikah dengan anak Lo." Balas Arya. Bimo akhirnya bungkam, laki-laki itu sadar jika mulutnya sudah salah bicara. Apa yang di katakan oleh Arya benar, bahkan ia lebih bejat dari Arya yang sudah pernah tidur dengan Tari, hanya saja ia bisa mengambil keputusan yang tepat dengan mengakhiri hubungan tersebut dan mempertahankan Bunga. Berbeda dengan Arya yang terlalu bodoh sehingga menyakiti istrinya sampai sedalam ini.
Melihat suaminya yang kesal dengan perkataan Bimo membuat Dira mengalihkan pembicaraan mereka, karena tidak enak dengan situasi canggung tersebut.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan ribut lagi, lebih baik kita berdoa agar anak-anak kita menjadi anak yang baik, Soleh dan Soleha, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi semua orang. Jangan di doakan yang jelek-jelek dong, soal jodoh kita hanya bisa merencanakan, jika nanti mereka tidak mau jangan di paksa. Karena bukan kita yang akan menjalani tapi mereka." Tutur Dira dengan bijak.