
...Happy Reading...
4 bulan berlalu
Tak terasa sudah 4 bulan berlalu setelah pertengkaran hebat itu dan Nafisah memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
Kini Nafisah tinggal bersama ibu tua yang sudah hampir 50 tahun usia nya, ya ibu baik hati yang telah menolong Nafisah saat pingsan di jalan.
Ibu itu mengajak Nafisah untuk tinggal bersama nya dengan alasan dia kesepian merindukan almarhum anak nya yang telah pergi mendahuluinya. Nafisah sangat senang sekali masih ada orang baik yang telah menolongnya.
Dia tak apa tinggal di rumah sederhana ini yang letaknya juga jauh dari pemukiman warga bahkan dia sangat senang di sini dia bisa istirahat kan otaknya toh juga sekalian menghindari Altaf, Nafisah yakin Altaf tak bisa menemuinya.
Keputusan Nafisah sudah bulat bahwa dia akan mengurus surat perceraian dia dan Altaf setelah dia melahirkan buah hati nya nanti.
Nafisah sudah tak bisa menunda bahkan mempertahankan rumah tangga nya kalau Altaf masih sama seperti sekarang ini. Hati, pikiran dan batin Nafisah sudah sangat capai sekali.
Terlebih saat mengingat ucapan Altaf yang tidak menganggap bayi di dalam kandungan dia adalah anaknya saat mengingat itu air mata Nafisah tak segan-segan lolos keluar dari pelupuk matanya.
" ndok mau mau apa?." Tanya si embah, ya Nafisah memanggil ibu tua itu dengan embah karena mengingat umur ibu itu juga dan itu suatu bentuk penghormatan kepada orang yang sudah jauh lebih tua umur nya daripada kita.
" Fisah belum lapar embah." Ucap Nafisah yang duduk di balkon depan.
" Walah ndok jangan seperti itu memang kamu belum lapar tapi kamu juga harus mengingat kalau di dalam perut kamu ada nyawa yang harus kamu perhatikan, ndok." Ucap si embah.
Nafisah terdiam mendengar ucapan embah, ada benar nya juga dia tak boleh egois memang dia tak nafsu makan tapi anak nya di dalam kandungannya butuh asupan gizi dari sang ibu. Nafisah pun tersenyum dan beranjak mengajak embah untuk makan bersama.
...•••...
Berbeda dengan Nafisah di sini Altaf lagi dan lagi menyesal pada dirinya sendiri.
Altaf sudah mengetahui apa kebenaran yang terjadi saat sebulan setelah Nafisah pergi. Yah, lagi dan lagi Altaf mengetahui nya dari bawahannya yang mendapatkan informasi dari Adi yang sebenarnya terjadi.
Dan Adi bisa membuktikan bahwa bayi yang Nafisah kandung adalah anak Altaf bukan anaknya.
" Dua kali aku kehilangan kamu Fisah dan itu karena ulah ku. Maafkan aku."
Kalimat itu yang keluar dari Altaf sekarang. Altaf tak bisa bohong pada dirinya kalau dia sangat menyesal dan hancur saat kehilangan Nafisah.
__ADS_1
Hidupnya terasa datar bahkan terlihat sangat kacau. Pagi berangkat ke kantor dan malam pulang ke rumah, tak jarang juga kadang Altaf tak pulang ke rumah.
" Nafisah kamu di mana? mas rindu kamu."
Altaf beranjak ke arah lemari untuk melihat barang-barang Nafisah yang masih utuh bahkan handphone nya ada di situ.
" Masih tertata rapih seperti awal." Gumam Altaf sangat melihat isi lemari pakaian Nafisah. Altaf melihat bingkai foto di dalam lemari itu dan buku kecil.
Cinta suami ku.
Tulisan yang ada di cover awal buku itu. Saat melihat itu Altaf sangat tak percaya karena isi nya itu semua tentang diri nya. Di buku itu tertulis semua tentang kisah Nafisah yang menanti cinta diri nya dulu. Bahkan di sana tertulis sangat rapih beserta foto dirinya yang Nafisah ambil diam-diam.
Altaf melanjutkan baca nya di kasur dan tak lama kemudian tanpa di sadari Altaf tertidur dengan memeluk buku dan bingkai foto itu...
...•••...
Esok hari nya
Altaf terbangun karena suara adzan yang berkumandang, ia langsung bergegas mengambil wudhu lalu melangsungkan sholat subuh nya.
# Dapur
...plak...
Tangan halus bunda nya melayang tepat nya pipinya.
" Maaf kan Altaf bunda." Ucap Altaf, dia tau akan kemana pembicaraan bunda nya nanti.
" Bunda kecewa ya sama kamu Al, bunda nggak pernah mengajari kamu untuk berucap tidak percaya pada istrimu."
" Maafkan Altaf." Altaf menunduk karena dia sangat takut sekali saat melihat bunda nya marah seperti sekarang ini.
" Al dengerin bunda, Nafisah sudah tak punya siapa-siapa selain kita Al. Nggak ada orang yang Nafisah percaya selain kita sekarang kalau sudah begini kita sama saja sudah menghancurkan kepercayaan Nafisah. Sekarang kemana Nafisah cari orang yang bisa percaya lagi kalau kepercayaan itu sudah kita hancurkan, eum. Kamu mikir nggak si Al, Ayah dan bunda berusaha mencari pengganti abi nya yaitu dengan menikahkan kamu dengannya kalau sekarang kalau sudah begini ayah dan bunda malu kepada kedua almarhum orang tua Nafisah karena sudah menikahkan dengan pria yang salah." Ucap bundanya.
" Al kamu itu CEO, kamu bisa percaya pada karyawan mu terus sekarang kenapa kamu nggak bisa percaya pada istri mu." Tanya bunda, Altaf terdiam.
" JAWAB AL." Altaf terkejut saat me dengar teriakan bundanya.
__ADS_1
" JAWAB ALTAF." Setelah berucap seperti itu bunda nya langsung terjatuh tak sadarkan diri.
" astagfirullah bunda."
" MBOKKK." teriak Altaf memanggil mbok, mbok datang dengan sedikit berlari.
" Astagfirullah ibu."
" Mbok tolong panggilkan ambulan." Mbok pun berlari ke arah telfon rumah.
# Rumah Sakit
" Dok gimana keadaan bunda saya?." Tanya Altaf
" Pasien mengalami gejala stroke walau ini hanya gejala tapi saya menyarankan agar pasien tidak terlalu banyak pikiran karena tensi darah pasien sangat tinggi, saya khawatir jika kalau keadaan tensi nya terus naik itu bisa fatal pak." Jelas dokter.
" Ya allah." Lutut Altaf melemas.
" Al." Panggil laki-laki paruh baya yang baru saja datang dengan sedikit berlari.
" Ayah."
" Gimana keadaan bunda?." Tanya Ayah yang mengatur nafas nya.
" Kalau gitu saya permisi." Ucap dokter itu yang langsung berlari pergi.
" Bunda kena gejala stroke yah dan dokter bilang kalau kita harus menjaga nya jangan sampai kejadian fatal itu terjadi."
" kenapa bunda bisa seperti itu ?." Tanya Ayah
" Ini semua gara-gara Al yah." Ucap Altaf menunduk
" Apa karena masalah mu dengan Nafisah?." tanya Ayah , Altaf hanya mengangguk saja.
" Al, ayah tidak akan marah-marah ke kamu apalagi menampar kamu itu percuma al tak akan membawa Nafisah pulang, Ayah cuman mau kamu mencari nya dan jangan sampai buat kondisi bunda parah.Ngerti?." Lagi dan lagi Altaf mengangguk saja.
" Kalau gitu kamu pulang saja biar malam ini ayah yang menjaga bunda di sini." Ucap Ayah
__ADS_1
" Baik yah." Altaf pun pulang ke rumah dengan segala rasa bersalah atas semuanya. Kini dia tak tau harus gimana.
To be continue...