Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 26


__ADS_3

...Jika kau mencintai seseorang biarkan ia pergi kalau ia kembali, ia adalah milikmu bila tidak, ia memang tidak milikmu....


...Happy Reading...


Mereka sangatlah kebasahan Nafisah hanya terdiam dengan Altaf yang terus memeluknya. Altaf tak bicara sepatah kata pun setelah tadi dia meminta maaf.


Mereka berdua terdiam agar bisa menenangkan pikiran mereka satu sama lain, hujan pun sudah tak sederas seperti tadi tetapi masih bisa membasahi mereka berdua.


" Mas Altaf. " Ucapku gemetar, aku masih takut akan kejadian tadi.


" Ya ada apa?. " Tanya Mas Altaf halus mencium dahi ku dan mengelus punggung ku.


" Mas tak apa?. " Tanya ku karena melihat tubuh Mas Altaf yang gemetar. Mas Altaf hanya menggeleng dan kembali memelukku.


" Mas beneran, mas pucat sekali loh. Mas pakai jaket mas nih. " Titah ku tetapi mas altaf tak mau melepas pelukannya dia hanya menggeleng membuat aku khawatir.


" Mas tapi kamu beneran pucat. " Ucapku menyakinkan.


" Aku tak apa Nafisah jika memang ini yang membuat kamu nyaman jangan pergi Nafisah teruslah begini. Aku tak apa harus kebasahan menggigil sepertu ini yang penting kamu tak marah lagi padaku. " Ucapnya lemas membuat aku semakin khawatir.


" MAS JANGAN GILA!. "


" Kita ke mobil saja yah. " Ucapku berusaha melepaskan pelukannya tapi mas altaf masih keras kepala tak mau melepaskan pelukannya.


" Mas ini jalanan sepi loh. " Ucapku melihat sekeliling yang memang sudah sepi karena ini sudah larut malam.


" Jangan takut aku bersama mu. " Ungkap Mas Altaf menenangkan ku.


" Mas kita ke mobil sekarang. " Ucapku lagi tapi Mas Altaf tetap menggeleng.


" Nafisah aku baru sadar ternyata mendapatkan mendapatkan mu tak semudah yang ku bayangkan. " Ungkap Mas Altaf, aku hanya bisa terdiam.


" Astagfirullah Mas Altaf. " Teriak ku saat mas altaf terjatuh. Aku ikut terduduk membaringkan


Mas Altaf di pangkuan ku. Aku memeriksa suhu badannya.


" Astagfirullah panas banget. " Ucapku tanpa menunggu lama aku mencoba memapah mas altaf buat masuk ke mobil setelah itu aku melajukan mobilnya untung saja aku bisa membawa mobil jadi bisa segera membawa mas altaf ke rumah sakit.


...•••...

__ADS_1


Nafisah mengikuti para suster yang membawa Altaf menuju ruangan buat di periksa.


Nafisah takut dan khawatir perihal kesehatan Altaf pasalnya ini pertama kali dia melihat Altaf tumbang seperti ini.


Dokter pun langsung memeriksa kondisi Altaf, tak butuh waktu lama panggilan dokter yang memeriksa Altaf mengatakan jika Altaf pingsan karena perutnya yang kosong dan kemungkinan pikirannya sedang kacau. Dokter


berpesan pada Nafisah saat Altaf terbangun nanti tolong berikan asupan makanan untuk mengisi perut Altaf yang kosong.


Sudah setengah jam Nafisah menunggu namun Altaf tidak kunjung sadarkan diri. Nafisah sudah menyiapkan makanan untuk Altaf nanti, tadi dia beli di kantin.


Perlahan kelopak mata Altaf yang menutup terbuka membuat Nafisah sedikit bernafas lega. Mata Altaf mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya sekitar.


Mencoba mencari tahu dimana dia berada karena ruangan ini terasa asing baginya saat menoleh ke kanan, Altaf langsung bangkit dari tidurnya karena antusias melihat Nafisah.


" Jangan bangun dulu, kondisi mas masih belum pulih. " Ujar Nafisah sembari mendorong bahu Altaf untuk kembali berbaring ditempatnya. Altaf masih terlihat pucat, Nafisah juga merasakan seberapa dingin tubuh suaminya.


" Aku sudah tak apa. " Ucap Altaf


" Kamu sakit! kamu juga pingsan mas, apa masih mau kamu menyangkal?!. "


" Aku sudah nggak papa asal kamu masih di sini. " Ucap Altaf yang membuat Nafisah diam mematung di posisinya.


Nafisah tidak membuka mulutnya sedikit pun, pandangannya tertuju pada Altaf yang sendu. Diraihnya tangan Nafisah lalu Altaf genggam di atas dadanya.


Suara Altaf serak berat dan matanya kini sudah berkaca-kaca siap menjatuhkan cairan beningnya.


" Kita bahas ini nanti, sekarang mas makan dulu. Pikirin kesehatan mas. " Ujar Nafisah menarik tangannya dari genggam Altaf lalu meraih mangkuk bubur yang sudah ia siapkan.


" Makan dulu, aku suapin. "


" Enggak Fisah, kita selesaikan semuanya. Kita bicarakan semua masalah kita, aku nggak bisa kayak gini terus. "


" Makan atau tinggal dan nggak akan mau menemui mu lagi. " ancaman dari Nafisah membuat Altaf mengangguk patuh.


Dengan telaten Nafisah menyuapi Altaf. Mulut Altaf rasanya sangat pahit dan susah untuk menelan makanan yang masuk namum Altaf menahannya.


" Udah ya? Aku kenyang, tolong jangan dipaksa." Pinta Altaf.


Melihat Altaf yang terlihat sangat tersiksa, Nafisah akhirnya menuruti kemauan Altaf. Diletakan nya piring yang isinya masih setengah lebih di meja. Nafisah meraih botol mineral lalu menyodorkan botol itu kearah Altaf.

__ADS_1


" Bisa kita bicarakan sekarang, kan?. " Tanya Altaf yang sudah berdiri di samping Nafisah. Nafisah menggelengkan kepalanya.


" Kita bicarakan kalau kamu sudah di perbolehkan pulang?. " Ujar Nafisah


" Tapi____."


" Bicarakan nanti kalau kamu sudah pulang atau nggak sama sekali?!. " Ucap Nafisah.


Altaf menghela nafas, ia mengikuti kemauan Nafisah.


...•••...


Kini Altaf dan Nafisah berada di kamar rumah mereka karena tadi dokter sudah memperbolehkan Altaf untuk pulang.


" Sekarang jawab pertanyaan ku yang di mobil waktu itu, kenapa kamu pergi dan kenapa memilih bersama Adi. "


" Aku pergi tapi tidak sama adi, aku bertemu adi saja baru tadi karena Mirna yang mengajak ku." Ujar Nafisah.


" Kalau kamu tidak sama adi lantas kamu sama siapa? Terus kebutuhan lainnya gimana? Tidur mu? kalau ada yang menyakitimu gimana? Apa dengan kabur kamu merasa lebih baik, hah?!. "


" Mas cukup! kepala ku pusing, bisa kan nanya nya satu-satu. Untuk masalah aku pergi itu karena aku lelah dengan semuanya dan aku mau mas bahagia sama mba tyas lalu untu masalah aku tidur dimana dan kebutuhan ku gimana tenang saja mas aku tidur di tempat yang menurut ku damai di saja aku mengabdi sebagai guru dan di sana aku merasa lebih damai bisa melupakan masalah ku. " Ucap Nafisah.


" berbicara adakah yang menyakitiku jawabannya tidak ada luka separah saat aku bersama mu mas. " Lanjut Nafisah dalam hati.


" Soal Adi, apa kamu ada hubungan sama dia?." Tanya Altaf.


" Mas sudah lah, aku sudah katakan berapa kali sama kamu. Aku dan Adi hanya sebatas sahabat tidak lebih. " Ucap Nafisah.


Mereka berdua saling diam-diaman


" Malam ini Fisah minta untuk sendiri. " Pinta Nafisah


" Tapi____."


" Izinkan Nafisah sendiri atau Nafisah akan melangkah pergi lagi dari rumah ini. " Ancaman kedua kali yang terlontar dari Nafisah.


" Baiklah. " Ucap Altaf dengan lirih


" Istirahat mas, Fisah mau menemui mbok. " Nafisah langsung turun ke bawah tanpa mendengar ucapan Altaf lagi.

__ADS_1


Altaf langsung merebahkan diri nya di kamar dia bersama Tyas dulu yang memang ini kamar pribadi dia untuk istirahat sebelum menikah dengan Nafisah.


To be continue...


__ADS_2