
...Berikan aku sebuah alasan untuk aku bisa tetap bersabar dan mencoba untuk bertahan...
...~ Nafisah Humaira...
...Happy Reading...
Setelah perdebatan tadi Nafisah turun ke bawah menemui mbok.
" Assalamualaikum mbok. " Salam Nafisah
" Waalaikumsalam Non fisah. " Mbok tampak bahagia sekali karena dia tak melihat Nafisah pulang.
" Non kapan datangnya?. " Tanya Mbok
" Baru saja mbok karena Mas Altaf harus di rumah sakit sebentar sampai kondisi nya bisa stabil lagi. " Ujar Nafisah.
" Aden sakit?. " Tanya mbok dan Nafisah menjawab hanya dengan anggukkan saja.
" Ya mas al sempat pingsan waktu ketemu sama aku. " Ujar Nafisah
" Walah non mbok tuh sudah bilang sama aden untuk makan pasti makanan di kamar aden nggak di makan deh. " Ucap Mbok Lis.
Nafisah juga bingung kenapa Altaf bisa seperti ini, Nafisah merasa ini bukan suaminya.
Altaf orangnya cuek tapi bukan seperti ini, ini tuh sama aja kaya orang udah nggak mau hidup.
" Mbok sebenernya apa yang terjadi di rumah ini selama Nafisah pergi? terus mba tyas kemana?. " Nafisah sudah terlanjur penasaran apa yang terjadi.
" Eum. "
Mbok lis tampak kebingungan harus menjelaskannya mulai dari mana.
" mbok. " panggil Nafisah saat mbok tak kunjung menjawab.
" Ah ya non sebenernya setelah non pergi aden menjadi kacau sekali. " Ujar mbok
" Kacau?. " Nafisah semakin bingung
" Aden sama non tyas sudah resmi bercerai sudah hampir sebulan. " Ucapan mbok lis membuat Nafisah terkejut.
" Cerai? ko bisa mbok. "
" Mbok juga engga tau tapi yang mbok dengar katanya non tyas sudah membohongi aden. " Ucap mbok.
" Sebaiknya akan ku tanyakan langsung ke mas altaf saja. " Ucap Nafisah dalam hati.
Sejujurnya Nafisah masih ingin bertanya lagi cuman dia lebih baik bertanya langsung ke Altaf.
" Sini mbok biar fisah saja. " Nafisah menggantikan mbok untuk memasak sup.
...•••...
" Mbok tolong matikan kompor nya ya, Fisah mau panggil mas altaf. "
Nafisah langsung naik ke atas memanggil Altaf untuk makan sedangkan mbok melanjutkan pekerjaannya.
Tok tok tok
" Masuk. "
__ADS_1
Nafisah langsung membuka pintu kamar
" Mas. " Panggil Nafisah namum Altaf tak menjawabnya.
Nafisah mendekat ke arah Altaf dipegang lah badan altaf yang ternyata suhu badannya kembali panas lagi.
Nafisah memutuskan kebawah untuk mengambil kain atau handuk dan wadah berisi air untuk mengompres Altaf.
" Ada apa Non?. " Tanya Mbok saat melihat wajah Nafisah panik.
" Mas Altaf suhu badannya panas lagi mbok. " Ujar Nafisah tanpa menatap mbok.
" Astagfirullah. "
Nafisah masih fokus untuk mengambil air setelah itu dia pamit ke atas.
" Mbok, Fisah ke atas dulu ya. " Nafisah langsung ke atas sedikit berlari.
Clek
Nafisah menghampiri Altaf dan langsung mengompresnya setelah itu dia duduk di tepi ranjang.
Dia hanya bisa memandangi wajah pria yang masih sah menjadi suaminya ini.
Nafisah memutuskan untuk merapihkan kamar Altaf yang tampak sedikit berantakan.
" Nafisah. " Altaf meracau memanggil namanya.
Nafisah mendekat mencoba mengecek kembali suhu badan Altaf, dia berjalan ke nakas untuk mengambil termometer.
" Album ini. " Gumam Nafisah.
Nafisah menyelipkan termometer ke ketiak Altaf menunggu sampai termometer itu berbunyi.
Tak lama kemudian termometer berbunyi, Nafisah segera mengangkatnya dia sangat kaget saat melihat suhu Altaf 39°.
Ia segera mengambil obat yang penurun panas dari dokter tadi di laci tapi ko nggak ada,dia lupa menaruhnya.
Tok tok tok
" masuk. " Ucap Nafisah tapi dia masih sibuk mencari plastik obatnya.
" Non, ini mbok bawakan bubur buat aden. " Ucap mbok sum yang membawa mangkuk berisi bubur.
" Taruh di atas nakas situ mbok. " Ucap Nafisah
" Non sedang mencari apa? ada yang mbok bisa bantu?. " Tanya mbok karena dia melihat Nafisah tampak panik dan mem berantakan kotak obat.
" Eum fisah sedang mencari plastik obat mas altaf mbok tapi ko nggak ada ya. " Ucap Nafisah.
" Kalau gitu mbok coba bantu carikan di bawah siapa tau plastiknya ketinggalan di bawah. " Nafisah menjawab dengan anggukkan saja lalu mbok langsung pergi keluar kamar.
Nafisah mencoba membangunkan Altaf
" Mas. "
" Eum. " Hanya itu yang mampu Altaf keluarkan.
" Bangun dulu yuk. "
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Altaf
" Mas bangun dulu ya kita makan abis itu minum obat. " Ucap Nafisah.
Altaf mencoba membuka mata nya dan berusaha untuk duduk.
" Sini biar Fisah bantu. " Nafisah membantu Altaf duduk. Disaat seperti ini mereka sangat dekat dan membuat jantung Altaf berdebar meski Altaf lemas tapi dia bisa merasakan jantung nya berdebar hebat.
Nafisah menyuapini Altaf dengan sangat lembut sekali.
" Sudah ya. " Ucap Altaf
" Ya sudah kalau gitu, minum dulu ya. "
" Non. " mbok lis datang membawa plastik obat yang ia cari tadi.
" Ini non plastiknya. " Mbok lis menyodorkan plastik itu.
" Makasih ya mbok. " Ucap Nafisah tersenyum.
" Sama-sama non, Eum aden semoga cepat sembuh ya."
" Makasih mbok. " Ucap Altaf lirih
" Ya den, kalau gitu mbok permisi keluar ya. Selamat istirahat aden, non. " Mbok Lis langsung keluar kamar.
" Diminum dulu mas. " Ucap Nafisah sambil kembali menyodorkan air putih.
" Makasih. " Ucap Altaf ketika sudah selesai meminum obatnya.
" Sama-sama mas kalau gitu mas istirahat ya. " Ucap Nafisah mencoba membantu membaringkan Altaf di kasur.
Ketika Nafisah hendak keluar
" Jangan pergi temani aku di sini. " Altaf menahan tangan Nafisah sambil berucap seperti itu.
" Tapi mas___."
" Temani aku Nafisah. " Ucap Altaf.
" Baik, Fisah akan menemani mas di sini. " Ucap Nafisah tak lama kemudian Altaf menutup matanya memasuki dunia alam bawah sadarnya.
Nafisah bingung untuk tidur dimana dia karena Nafisah belum siap jika harus seranjang lagi sama Altaf apalagi kondisi hatinya yang masih mencoba memaafkan semuanya.
Dia berjalan menuju lemari di ambilnya selimut dan bantal setelah itu berjalan ke arah sofa. Yah, dia memilih untuk tidur di sofa saja. Nafisah pun menyusul Altaf ke alam bawah sadarnya.
...•••...
04:00 WIB
Altaf terbangun dari tidur nya, dia melihat Nafisah tertidur di sofa. Dia mencoba untuk bangun walau masih terasa sedikit pusing mungkin efek semalam demam.
Altaf berusaha memindahkan Nafisah ke ranjang dengan perlahan agar tidak terbangun lalu dia tidak lupa membenarkan posisi selimut Nafisah.
Dia duduk di samping Nafisah memandangi wajah Nafisah.
" Maaf. " Entah sudah berapa kali dia mengucapkan itu tapi kejadian saat dia selalu menyakiti Nafisah itu selalu terbesit di pikirannya membuat dia selalu merasa bersalah.
Dia sudah jahat sekali kepada Nafisah, Nafisah wanita baik dan rasa cinta kepadanya sudah muncul saat mereka remaja dulu.
__ADS_1
To be continue...