Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 13


__ADS_3

...Terima kasih kau sudah membuat ku bahagia walau hanya sebentar saja....


...~ Nafisah Humaira...


.......


.......


...Happy Reading...


Dua sepasang kekasih sedang asik bercanda melihat itu membuat Nafisah iri dan cemburu. Perempuan mana yang tidak cemburu melihat suaminya dekat dengan seorang perempuan apalagi perempuan itu juga istrinya.


Nafisah sedang menyiapkan makanan mungkin dia harus membiasakan diri dengan kedekatan mereka di rumah ini. Tidak boleh ada rasa iri karena Tyas juga istri Altaf.


" Mas Altaf. " panggil Nafisah membuat keduanya menoleh.


" Makanan sudah siap, maaf jika hanya nasi goreng soalnya bahannya tak ada di rumah dan hanya itu yang bisa aku masak. " Ucap Nafisah membuat Altaf tersenyum dan berdiri


" Apapun yang istri mas masak akan mas makan ko. " Ucap Altaf tersenyum.


" Makasih mas, eum mba Tyas juga makan saya sudah menyiapkan untuk mba dan mas al. "


" Makasih Fisah tapi kamu makan saja. " Tolak Tyas, Nafisah menghampiri Tyas sedangkan Altaf berjalan ke meja makan.


" Mba, rezeki enggak boleh di tolak loh. " Ucap Nafisah lalu Tyas mengangguk dan berdiri.


" Makasih yah Fisah. " Balas Tyas dan berlalu pergi mengikuti arah jalan suaminya.


...•••...


Setelah makan Altaf mengajak Nafisah untuk berbicara di kamar karena ada hal penting yang harus Altaf tanya kan ke Nafisah.


" Nafisah. " Panggil Altaf saat keheningan seketika menghantui keduanya.


" Eum. " Nafisah menjawab dengan deheman saja dan kembali melihat hp nya.


" Nafisah simpan hp mu. " Suruh Altaf saat kesal dengan Nafisah yang malah sibuk dengan ponsel nya.


" Ya mas, nih udah Fisah simpan. " Ujar Nafisah mematikan ponselnya.


" Kamu mau enggak. " Tanya Altaf serius, Nafisah mengerutkan dahinya.


" Mau. " Jawab Nafisah membuat Altaf kesal.


" Sudah lah tak jadi, aku mau pergi ke kantor saja kalau di kantor kan di dengar sama para karyawan. " Sindir Altaf menahan kesabaran. Nafisah hanya melihatnya tersenyum.


" Ya sudah apa mas?. " Tanya Nafisah lagi dengan serius dan tersenyum karena melihat ekspresi wajah suaminya yang membuatnya lucu.


" Kamu mau enggak Tyas tinggal sementara di sini. " Tanya Altaf membuat Nafisah terdiam seribu bahasa.


" Saya lagi tak bisa untuk pulang balik ke rumah Tyas dan rumah ini. " Ucap Altaf, Nafisah menunduk.


Ternyata ia sedang tak berkhayal tapi rasanya sakit sekali saat Nafisah mendengar bahwa Tyas akan tinggal di sini sementara waktu.


" Mas tak usah datang ke sini saja kan mas bisa tinggal saja di rumah mba tyas jadi kan mas tak perlu pulang balik terus terusan. " Ucap Nafisah.


Nafisah hanya takut jika nanti Altaf tak bisa adil terhadap dia dan tyas, malah nanti diantara mereka akan ada yang tersakiti.


" Disini kan dekat dengan kantor saya jadi boleh kan Tyas tinggal di sini. " Tanya Altaf lagi dan Nafisah hanya mengangguk pasrah.


...•••...


" Al kamu mau tidur di mana?. " Tanya Tyas saat kami sedang berada di meja makan dan telah selesai mengisi perut.


" Sama kamu. " Jawab Altaf.


Nafisah hanya bisa diam saja karena ia juga akhir-akhir ini setiap ada Tyas hanya bisa terdiam.


" Mas mba, Nafisah pamit ke kamar dulu. " Pamit Nafisah karena tak tau mau melakukan apa toh dia hanya seseorang yang berani masuk ke dalam rumah tangga Altaf dan Tyas saja.


Nafisah segera membereskan meja makan yang di bantu oleh Tyas. Setelah nya dia pamit ke kamar.


Sebenarnya matanya masih tak mau tidur, Nafisah mengurungkan untuk naik ke kasur. Dia memilih ke tempat yang sudah lama dia datangi yang di mana dia bisa menatap langit, menghirup udara segar yang membuat nya selalu menenangkan hati dan satu lagi dia bisa melihat bintang dengan memikirkan Ummah dan Abi nya.


Yah, jika di bilang mungkin Nafisah masih belum bisa melupakan kedua orang tuanya terlebih Abi nya tapi Nafisah hanya mau mengenang memori saat masa kecilnya saja. Saat dimana dia tak bisa jauh dari Ummah dan Abi dan sekarang dia tak bisa dekat lagi karena orang yang di sayangnya telah pergi ke surga Allah SWT.


Jika di berikan kesempatan dia akan menggunakan waktu dengan baik agar bisa membahagiakan kedua orang tua nya. Tapi allah begitu menyayangi kedua orang tuanya sehingga begitu cepat allah mengambilnya dari Nafisah.


Nafisah terdiam duduk dan menghirup udara segar, memikirkan hubungannya dengan Altaf yang sudah baik-baik saja dan kerinduan dia terhadap kedua orang tua nya.


Duduk di balkon melihat bintang yang menerangi alam yang gelap ini. Nafisah terdiam dengan pikirannya yang berkhayal kemana-mana.


" Nafisah. " Panggil seseorang, Nafisah menoleh melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


" Mba Tyas. " Ucap Nafisah lalu Tyas berjalan menghampiri Nafisah.


" Ada apa mba?. " Tanya Nafisah saat Tyas menghampirinya.


" Maaf ya aku langsung masuk soalnya tadi aku ketuk pintunya nggak di dengar jadi aku langsung masuk saja takut terjadi apa-apa sama kamu. " Ujar Tyas, Nafisah mengangguk dan mempersilahkan Tyas untuk duduk.


Yah, Nafisah jujur karena dia tak mendengar suara ketukan mungkin dia terlalu serius berkhayal jadi tak mendengar nya.


Setelah Tyas duduk di sebelah Nafisah kedua nya terdiam memandangi langit-langit malam ini. Udara cukup sejuk dengan angin malam yang tak begitu dingin.


" Kamu tak apa jika aku tinggal di rumah ini. " Tanya Tyas memecahkan keheningan. Nafisah melihat ke arah Tyas dan tersenyum simpul.


" Nggak apa-apa mba tyas malah Nafisah senang ko mba di sini karena jadi rame deh. " Ucap Nafisah jujur.


Suasana kembali canggung dengan keduanya yang hanya memandangi bintang.


" Fisah. "


" Eum. " Dehem Nafisah melihat ke Tyas.


Drrt... Drrt...


Bunyi ponsel Nafisah yang membuat dia tak menjawab panggilan Tyas. Nafisah segera pamit untuk mengangkat telepon nya.


Adi


" Assalamualaikum. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Walaikumsalam, ada apa nih. "^^^


Adi


" Gimana kabar mu. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Ya elah di tanya malah nanya balik. Eum kabar ku alhamdulilah baik. "^^^


Adi


" Kamu tuh ya buat aku khawatir, jangan bohong Nafisah. Gimana kabar mu dan sekarang kamu ada di mana. "


^^^Nafisah^^^


Adi


" Bohong mana ada di rumah, aku aja ada di rumah kamu dan nggak ada orang. "


Ucapan Adi membuat Nafisah terdiam. Dia baru ingat bahwa dia belum memberitahu ke Adi kalau dia sudah nikah dan pindah rumah.


Adi


" Nafisah. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Ah ya maaf Di, aku lagi di rumah baru ku. "^^^


Adi


" Oh, eum Fisah bisa nggak besok kamu ke rumah ku. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Bisa Di, emang kenapa.. "^^^


Adi


" Umi kembali sakit dan dia mau menemui kamu. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Boleh di nanti aku datang ke sana. "^^^


Adi


" Siap nanti aku akan kasih tau umi kalau mantu kesayangannya mau datang. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Eum di sebaiknya kamu pulang karena inikan sudah larut malam. "^^^

__ADS_1


Adi


" Ya ini aku sudah di dalam mobil udah mau jalan pulang tadi itu aku mau nyariin kamu karena sudah beberapa hari ponsel mu tidak aktif. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Aduh maaf ya di jadi buat kamu khawatir. "^^^


Adi


" Its oke Fisah. "


^^^Nafisah^^^


^^^" Di sudah dulu ya assalamualaikum. "^^^


Adi


" waalaikumsalam. "


Nafisah langsung mematikan teleponnya karena dia melihat Altaf datang dengan wajah tak bisa di tebak dan Altaf memilih keluar kembali.


Mungkin Altaf mengetahui bahwa yang sedang menelpon Nafisah itu Adi.


" Mas Al. " Panggil Nafisah mengejar Altaf.


" Mas berhenti dong. " Teriak Nafisah dan Altaf berhenti saat depan pintu kamar Tyas yang agak dekat dengan kamarnya.


" Mas maafin Nafisah. " Mohon Nafisah menunduk.


" Kenapa minta maaf sama saya. " Nafisah pun terdiam untuk apa juga dia minta maaf sama Altaf toh tidak mungkin kan Altaf cemburu.


Dengan muka malu Nafisah berjalan kembali ke kamarnya tapi di tahan oleh lengan kekar Altaf.


" Kenapa minta maaf. " Tanya Altaf lagi, Nafisah hanya bisa terdiam dan menggeleng.


" Jangan terlalu dekat dengan Adi, saya tak suka Fisah. " Ucap Altaf


" Bagaimana aku tak dekat Adi mas kan aku sekretaris nya dan juga aku sebagai sahabatnya." Jawab Nafisah.


" Bisa nggak jangan di bantah ucapan saya, saya hanya melarang kamu jangan terlalu dekat bukan menjauhi nya. " Jelas Altaf, Nafisah mengerutkan dahi nya dengan wajah merona.


" Bagaimana dengan perceraian. " Ucap Nafisah seberani inikah Nafisah berbicara.


Yah, Nafisah memberikan kertas perceraian kepada Altaf dan sekarang dia masih menunggu tanda tangan dari Altaf.


" Cukup Nafisah jangan membahas itu lagi. " Tegas Altaf.


" Tapi mas__."


" Apa perceraian. " Tanya seseorang, Altaf dan Nafisah menoleh.


" Mba Tyas. " Jawab Nafisah


" Al, jangan bilang kamu mau bercerai dengan Nafisah. " Ucap Tyas terkejut.


" Al aku tak mau kamu menanda tangani surat itu. Nafisah tolong jangan pernah meminta cerai pada Altaf. " Mohon Tyas membuat Nafisah bingung.


Harusnya Tyas membiarkan perceraian itu terjadi tapi kenapa dia malah yang tak mau.


" Jawab dong Al. " Ucap Tyas meminta penjelasan.


Altaf segera menarik Tyas masuk ke kamar membuat Nafisah bingung, ia hanya bisa berdiri menatap keduanya masuk ke kamar.


" Al jawab, Apakah kamu akan menceraikan Nafisah. " Nafisah masih setia di depan pintu rasanya kakinya tak mau di ajak untuk jalan.


" Cukup Tyas aku tak mau mendengar kamu membela Nafisah lagi. " Balas Altaf membuat Nafisah semakin bingung kan.


" Sudah ya Tyas cukup kamu menyuruhku menjadi suami yang baik kepadanya. " Ucap Altaf.


Ucapan Altaf membuat Nafisah kaget rasanya seperti jarum yang langsung menusuk jantungnya. Apakah yang sudah di dengarnya, apa ini sungguhan dia rasa dia sedang tidak berkhayal.


Air mata nya lolos satu persatu turun membasahi pipinya.


Dia ternyata harus tersakiti untuk sekian kalinya. Nafisah berlari memasuki kamar menutup pintu rapat, Nafisah menangis kenapa suaminya begitu jahat.


" Ya allah sangat indah sekali skenario yang engkau berikan. Nafisah rasa sudah tidak kuat menjalani nya. " Keluh Nafisah.


Ia menangis, ia sudah tak bisa menahannya. Kenapa dia harus mendengar kejujuran ini.


Nafisah hanya bisa menunduk menangis di lututnya dengan bersandar di pintu. Nafisah menahan isakannya agar tak terdengar.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2